bukamata.id – Kunjungan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat (21/8/2026) untuk menyalurkan bantuan bencana senilai Rp4,5 miliar menuai sorotan mendalam dari para pengamat.
Langkah ini dinilai memiliki nuansa politik yang kental di tengah tumpukan persoalan domestik Jabar yang belum terselesaikan.
Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi bertolak langsung ke NTT untuk menyerahkan bantuan hasil penggalangan Pemprov Jabar bersama kalangan pengusaha dan lembaga daerah.
Dedi menyampaikan bahwa kehadiran serta bantuan tersebut merupakan wujud empati masyarakat Jawa Barat terhadap warga NTT yang sedang dilanda musibah gempa bumi.
“Prinsip orang yang sedang kesusahan, ditengok saja sudah menjadi kebahagiaan, apalagi jika dibawakan bantuan,” ujar Dedi, Jumat (21/8/2026).
Motif Politik dan Pencitraan
Meski berbalut aksi kemanusiaan, pengamat menilai ada agenda politik implisit di balik manuver tersebut.
Pengamat Kebijakan Publik, Dr. Trubus, menilai kehadiran orang nomor satu di Jabar tersebut ke NTT terlampau berlebihan karena sudah ada lembaga resmi yang bertugas mengurus penanganan bencana di daerah setempat.
“Menurut saya itu lebih ke kepentingan politik. Untuk simpati dan bantuan kan sudah ada lembaganya yang menyalurkan dan mengurusi urusan di NTT, jadi ya dia ke sana juga mau ngapain,” tegas Trubus saat dihubungi.
Ia menambahkan, aksi ini dimanfaatkan untuk memperkuat ketokohan Dedi di level nasional, terlebih namanya tercatat unggul dalam beberapa survei elektabilitas.
Untuk diketahui, Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan elektabilitas 35,0 persen dalam survei terbaru yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5-19 Juli 2026.
Sementara itu, Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan 14,5 persen, disusul Anies Baswedan sebesar 8,2 persen dan Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen. Sebanyak 12,8 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan.
SMRC juga melakukan simulasi head-to-head antara Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto. Hasilnya, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 59,0 persen, sedangkan Prabowo Subianto 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden belum memberikan jawaban.
Temuan ini menunjukkan bahwa dalam simulasi semi-terbuka 20 nama, Dedi Mulyadi menjadi figur dengan tingkat elektabilitas tertinggi.
“Kunjungan dia pure untuk kepentingan politik dan menguatkan sosoknya. Survei kemarin nama dia tertinggi, nah makanya dia mau mengambil peran dalam kekurangan pemerintah, padahal kan dia satu gerbong dari Gerindra. Dia ingin punya nama yang lain juga, karena di satu sisi di Jawa Barat ini tidak ada tokoh yang menonjol, masih kalah sama Pramono Anung,” terangnya.
Soroti Masalah Internal Jawa Barat
Kritik senada disampaikan Pengamat Administrasi Publik, Yogi Suprayogi. Meskipun menyambut baik respons cepat Pemprov Jabar dalam menggalang dana urunan dan mengirimkan tim SAR, ia menilai keberangkatan sang gubernur secara langsung ke lokasi bencana tidak memiliki urgensi yang mendesak.
“Sebenarnya bantuan sekitar Rp4,5 miliar dan tim SAR sudah dikirimkan, saya apresiasi gerak cepat dari Jawa Barat. Tapi dengan kompleksitas masalah sekarang di Jawa Barat, sebetulnya tidak harus sekarang ke sana. Nanti saat sudah tenang baru KDM bisa hadir, atau bisa mengutus Wakil Gubernur agar ada pembagian kewenangan,” jelas Yogi.
Yogi mengingatkan bahwa Jabar saat ini tengah dihadapkan pada berbagai persoalan krusial yang membutuhkan perhatian penuh dari kepala daerah, mulai dari dampak musim El Nino hingga janji-janji politik yang belum terealisasi.
“Jika melihat dari kebijakan publik, tidak ada urgensinya ke sana karena Jawa Barat sendiri banyak masalah yang belum selesai. Misalnya infrastruktur, sektor pendidikan yang merupakan janji beliau, hingga musim El Nino yang membuat banyak sawah di Jabar mulai mengering. Jadi tidak urgent banget, cukup mengutus selevel wakil gubernur,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










