bukamata.id – Perdana Menteri Albania, Edi Rama, mengambil langkah tak biasa dengan menunjuk seorang menteri berbasis kecerdasan buatan (AI) ke dalam kabinetnya. Menteri virtual ini diberi nama Diella, yang berarti “matahari” dalam bahasa Albania, dan ditugaskan khusus untuk memastikan seluruh proses tender publik berjalan bersih dari praktik korupsi.
Keputusan tersebut diumumkan pada akhir pekan lalu. Dalam peluncurannya, Diella ditampilkan di layar sebagai sosok perempuan mengenakan busana tradisional Albania. Rama menegaskan bahwa kehadiran menteri AI ini akan mempercepat kinerja pemerintah sekaligus menjamin transparansi dalam pengelolaan kontrak publik.
“Diella akan membantu pemerintah bekerja lebih cepat dan transparan, memastikan bahwa tender publik bebas dari korupsi,” ujar Rama, dikutip dari Al Jazeera.
Bagaimana Diella Bekerja
Diella dikembangkan melalui kerja sama dengan Microsoft dan menggunakan model AI tingkat lanjut. Sebelumnya, sistem ini diperkenalkan sebagai asisten virtual di platform layanan publik e-Albania.
Fungsinya kini diperluas menjadi pengawas digital untuk seluruh tender negara. AI tersebut mampu:
- memverifikasi dokumen perusahaan,
- menilai kelayakan peserta tender,
- mendeteksi indikasi penyimpangan,
- serta mengeluarkan laporan secara real-time.
Kecanggihan ini memungkinkan risiko kelalaian manusia atau intervensi pihak luar berkurang drastis. Diella juga terintegrasi dengan teknologi tanda tangan digital, perintah suara, dan enkripsi berlapis untuk memastikan keamanan data.
Keunggulan lainnya, sistem ini beroperasi 24 jam tanpa henti, sehingga setiap aktivitas tender dapat diawasi secara berkesinambungan. AI ini bahkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan regulasi terbaru, sehingga keputusan yang dihasilkan selalu relevan dengan hukum yang berlaku.
Hingga saat ini, menurut data resmi, Diella telah menerbitkan lebih dari 36.600 dokumen digital dan menyediakan hampir 1.000 layanan publik. Pemerintah berharap inovasi ini mampu memperbaiki citra Albania yang selama ini terhambat kasus korupsi, sekaligus mempercepat proses integrasi dengan Uni Eropa. Partai Sosialis yang dipimpin Rama menargetkan negosiasi keanggotaan selesai pada 2027, dengan harapan resmi bergabung pada 2030.
Skeptisisme Publik Masih Tinggi
Meski digadang-gadang sebagai terobosan besar, kehadiran “menteri AI” ini memicu perdebatan. Banyak warga Albania menyuarakan keraguan mereka di media sosial.
Seorang pengguna Facebook berkomentar sinis, “Bahkan Diella akan rusak di Albania,” mengisyaratkan bahwa korupsi terlalu mengakar untuk diatasi hanya dengan teknologi. Komentar lain menyebut, “Pencurian tetap berlanjut, nanti Diella yang dipersalahkan.”
Selain kritik publik, sejumlah politisi juga mempertanyakan legitimasi jabatan ini. Mereka menilai penunjukan menteri virtual tidak sejalan dengan konstitusi Albania, sehingga status hukum Diella masih menuai tanda tanya di parlemen.
Pengamat politik menilai, meski teknologi bisa menjadi alat bantu, pemberantasan korupsi membutuhkan pengawasan manusia, penegakan hukum yang konsisten, serta reformasi struktural. Dengan kata lain, Diella hanya akan efektif jika didukung sistem pemerintahan yang bersih dan transparan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











