bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, langsung bereaksi keras menyikapi kacaunya pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 di wilayahnya. Pria yang akrab disapa KDM ini mengaku sangat memaklumi kepanikan dan meluapnya amarah para orang tua murid yang telantar akibat buruknya sistem digital garapan Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar.
Pernyataan menohok ini dikeluarkan KDM menyusul terjadinya insiden kericuhan dan penumpukan ratusan massa yang menggeruduk Kantor Disdik Jabar. Mereka memprotes aplikasi pendaftaran yang lumpuh serta rumitnya birokrasi akun yang membingungkan masyarakat.
Secara blak-blakan, Dedi Mulyadi mengkritik performa sistem IT yang dinilai belum siap menampung hajat hidup masyarakat banyak.
“Ya, bagi saya, ya wajarlah masyarakat marah, wajarlah masyarakat emosi. Karena apa? Karena sistem aplikasinya sering mengalami gangguan (error). Orang mau daftar susah, setelah daftar pengumumannya berubah-ubah, ditunda-tunda,” cetus Dedi Mulyadi dalam pernyataan resminya.
KDM juga menyoroti hilangnya data nilai secara misterius serta terhapusnya akun pendaftar secara sepihak oleh sistem. Mengingat hal ini menyangkut masa depan anak-anak di Jawa Barat, ia mendesak agar ke depan infrastruktur digital diperkuat secara masif dan dikelola secara transparan.
“Kemudian, nilai yang tadinya ada menjadi tidak ada. Akun yang tadinya sudah masuk, tiba-tiba hilang. Padahal, ini menyangkut nasib masa depan anak-anak mereka untuk bersekolah. Maka, wajar kalau timbul ketidakpercayaan,” tambahnya.
Lebih jauh, Gubernur memperingatkan jajarannya agar tidak berlindung di balik dalih kesalahan teknis komputer untuk menutupi ketidakjujuran di lapangan.
“Oleh karena itu, ke depan, kuncinya satu: kalau membuat sistem, buatlah sistem yang memiliki kapasitas yang besar, yang tidak mudah error, dan sistem itu harus transparan serta akuntabel. Dan yang paling utama adalah, panitia atau dinasnya harus memiliki komitmen kejujuran yang tinggi. Jangan sampai sistem komputerisasi ini hanya dijadikan tameng untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak objektif. Demikian terkait PCMB ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan dari @disdikjabar. Hatur nuhun,” pungkas KDM.
Fakta Lapangan: Ruwetnya Akun Bikin Orang Tua Telantar
Sengkarut yang disentil Gubernur tersebut tergambar jelas dari nasib apes yang menimpa Suhadis Harim (52), warga Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Ia terpaksa telantar dan kehabisan waktu hanya untuk mengurus verifikasi akun anaknya yang merupakan lulusan SMP luar provinsi.
Suhadis menceritakan peliknya birokrasi sistem saat berniat mendaftarkan anaknya ke Sekolah Manusia Unggul (Maung) 5 Bandung melalui Jalur Akademik.
“Waktu mau login di Maung, saya gagal. Akhirnya saya langsung lari ke KCD (Kantor Cabang Dinas) di Baros. Ternyata diketahui kalau anak dari luar provinsi harus pakai akun khusus dari SMP asal. Petunjuk dari KCD diminta ke sekolah tujuan (Maung 5), akhirnya di sana baru lancar,” keluh Suhadis saat ditemui di lokasi.
Nahas, masalah baru muncul begitu sang anak dinyatakan tidak lolos seleksi Sekolah Maung pada Senin (8/6/2026) pukul 10.00 WIB. Ketika Suhadis ingin mengalihkan pendaftaran ke jalur Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) reguler, akun lamanya mendadak tidak bisa digunakan kembali.
“Ternyata baru ketahuan kalau mau daftar PCMB, login dan username-nya itu harus minta akun baru lagi ke sekolah tujuan. Saya rasa ini sangat tidak efisien kalau sampai harus punya tiga akun berbeda. Kami kehilangan waktu dan emosi terkuras karena posisi sudah sore,” cetus Suhadis berang.
Ia sangat menyayangkan tiadanya mitigasi dan petunjuk teknis yang jelas dari panitia sejak awal pendaftaran dimulai.
Disdik Jabar Akui Sistem Down, Janji Perpanjang Waktu
Merespons membeludaknya protes warga, Kepala UPTD Tikomdik Disdik Jabar, Suhendar, berkilah bahwa kelumpuhan aplikasi hanya terjadi di jam-jam awal pengumuman akibat lonjakan jumlah pengakses secara bersamaan.
“Hanya awal saja pada pukul 07.35 WIB sampai 09.00 WIB karena tiba-tiba banyak yang daftar, tapi sekarang sudah bisa diakses lagi,” dalih Suhendar.
Sebagai kompensasi atas gangguan tersebut, Disdik Jabar berjanji akan melonggarkan batas akhir pendaftaran PCMB yang awalnya dipatok tutup pada Senin (8/6/2026) tengah malam.
“Kita lihat kesiapan sistem dengan membeludaknya pendaftar, jika tidak kuat ya diperpanjang. PCMB itu pemetaan saja, bisa diambil atau tidak. Mulai pendaftaran SPMB tahap 1 baru tanggal 15 Juni, jadi masih ada kesempatan daftar,” tambahnya.
Wakil Gubernur Desak Evaluasi Total
Kritik senada juga datang dari Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan. Dari Gedung Sate, Erwan meminta panitia pelaksana SPMB 2026 segera melakukan pembenahan total agar kendala teknis serupa tidak menjelma menjadi tradisi tahunan.
“Saya berharap aplikasi ini setiap tahun tidak berubah-ubah, bisa lebih diperkuat lagi, diperbaiki lagi. Sehingga ke depan tidak ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan seperti tiba-tiba aplikasinya tidak bisa digunakan dikarenakan sedang ada masalah,” tegas Erwan.
Ia juga mengimbau para petugas di lini depan untuk tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam meredam kekecewaan para orang tua murid.
“Pastilah ada yang kecewa, ada yang merasa sistem sekarang kurang baik dari yang dulu karena anaknya tidak masuk. Ya, itu harus betul-betul diselesaikan dengan baik dan mengakomodir rasa keadilan untuk masyarakat,” tutup Wagub.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








