bukamata.id – Pertandingan Argentina vs Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 dipastikan menjadi salah satu laga paling dinanti pecinta sepak bola dunia. Bukan hanya karena memperebutkan tiket ke final, tetapi juga karena sejarah panjang rivalitas kedua negara yang kerap dikaitkan dengan Perang Malvinas/Falklands 1982.
Namun, di tengah memanasnya atmosfer jelang pertandingan, Federasi Veteran Perang Malvinas justru mengeluarkan seruan penting. Mereka meminta publik tidak menjadikan pertandingan sepak bola sebagai ajang menghidupkan kembali konflik politik maupun sejarah antara Argentina dan Inggris.
Laga semifinal Piala Dunia 2026 ini akan digelar di Atlanta, Amerika Serikat, pada Kamis (16/7/2026) dini hari WIB.
Rivalitas Argentina vs Inggris Selalu Sarat Sejarah
Setiap kali Argentina dan Inggris bertemu di lapangan hijau, perhatian dunia hampir selalu tertuju pada hubungan sejarah kedua negara.
Rivalitas tersebut semakin kuat sejak Perang Malvinas (Falklands War) pada 1982, konflik bersenjata yang berlangsung selama sekitar 10 minggu dan menewaskan ratusan personel militer dari kedua belah pihak.
Empat tahun setelah perang berakhir, kedua negara kembali bertemu pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Pertandingan itu dikenang sebagai salah satu laga paling ikonik sepanjang sejarah sepak bola berkat dua gol legendaris Diego Maradona, yakni gol kontroversial “Tangan Tuhan” (Hand of God) dan gol spektakuler yang kemudian dijuluki “Goal of the Century”.
Kini, hampir empat dekade kemudian, Argentina dan Inggris kembali bertemu di fase gugur Piala Dunia, kali ini pada babak semifinal.
Veteran Perang Minta Publik Pisahkan Sepak Bola dan Politik
Menjelang pertandingan tersebut, Federasi Veteran Perang Malvinas menegaskan bahwa duel Argentina melawan Inggris tidak boleh dipandang sebagai kelanjutan konflik militer di masa lalu.
Dalam pernyataan resminya, organisasi yang mewakili para veteran perang itu meminta masyarakat tetap menghormati para prajurit yang gugur tanpa menjadikan sepak bola sebagai media menyebarkan kebencian.
“Pertandingan ini bukanlah pertandingan ulang perang ataupun bentuk kompensasi sejarah,” tulis Federasi Veteran Perang 2 April dalam pernyataannya.
Federasi juga menegaskan bahwa perjuangan Argentina terkait kedaulatan Kepulauan Malvinas tetap dilakukan melalui jalur diplomasi internasional.
“Kedaulatan diperjuangkan di forum internasional melalui diplomasi, kebenaran sejarah, serta klaim damai yang tidak dapat ditawar sebagaimana tercantum dalam konstitusi nasional kami.”
Mereka menambahkan bahwa semangat olahraga harus dipisahkan dari perjuangan politik dan sejarah bangsa.
“Kami menganggap penting untuk menarik garis yang jelas dan tegas antara semangat olahraga dan perjuangan bangsa. Bola tetap bergulir, kebanggaan terhadap warna kebesaran kami semakin besar, tetapi kenangan akan para pahlawan tetap terjaga.”
Lagu Suporter Sempat Singgung Malvinas
Selama Piala Dunia 2026 berlangsung, sebagian suporter Argentina beberapa kali menyanyikan lagu yang menyinggung Kepulauan Malvinas.
Lagu tersebut juga memuat penghormatan kepada Diego Maradona sekaligus harapan agar Lionel Messi mampu menutup karier internasionalnya dengan gelar Piala Dunia kedua.
Fenomena itu kembali memunculkan perdebatan mengenai batas antara ekspresi suporter dan sensitivitas sejarah kedua negara.
Lionel Scaloni: Ini Hanya Pertandingan Sepak Bola
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, berusaha meredam tensi yang berkembang di luar lapangan.
Menurutnya, pertandingan melawan Inggris murni soal sepak bola dan tidak memiliki kaitan dengan persoalan politik maupun sejarah.
“Ini pertandingan sepak bola. Titik. Tidak ada hal lain selain itu. Jangan mencari sesuatu yang lain,” ujar Scaloni setelah Argentina menyingkirkan Swiss di perempat final.
Scaloni berharap fokus seluruh pemain maupun suporter tetap tertuju pada pertandingan, bukan pada konflik masa lalu.
Jordan Pickford Sampaikan Pesan Serupa
Pandangan yang sama juga disampaikan kiper timnas Inggris, Jordan Pickford.
Ia menilai semifinal Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi panggung olahraga yang mempertemukan dua negara dengan tradisi sepak bola besar, bukan arena untuk menghidupkan kembali rivalitas politik.
“Ini hanyalah pertandingan sepak bola. Ini adalah dua negara yang sama-sama bangga. Biarkan sepak bola yang berbicara,” kata Pickford.
Semifinal Sarat Gengsi, Tapi Sportivitas Tetap Jadi Prioritas
Pertemuan Argentina dan Inggris dipastikan menyajikan duel berkelas dengan kualitas pemain bintang di kedua kubu.
Di satu sisi, Argentina berupaya mempertahankan gelar juara dunia yang diraih pada 2022 sekaligus membawa Lionel Messi menuju akhir karier internasional yang manis.
Sementara Inggris berambisi mengakhiri penantian panjang untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia setelah terakhir kali menjadi juara pada 1966.
Meski rivalitas historis tak mungkin dipisahkan dari narasi pertandingan ini, seruan dari Federasi Veteran Perang Malvinas, Lionel Scaloni, hingga Jordan Pickford menjadi pengingat bahwa sepak bola sejatinya adalah ajang kompetisi olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas, bukan ruang untuk memperpanjang konflik sejarah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









