bukamata.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus memperburuk kondisi lingkungan dan memicu krisis kualitas udara di berbagai daerah. Berdasarkan data pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Senin (31/8/2026) pukul 10.54 WIB, sejumlah kawasan mencatatkan kualitas udara yang masuk dalam kategori Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya bagi kesehatan.
Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan tingkat polusi terparah setelah angka ISPU melonjak drastis hingga menyentuh 848 dengan polutan utama partikel PM10.
Tak jauh berbeda, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kalteng) menyusul di posisi kedua dengan skor ISPU 773 (dominan PM10), disusul area Pontianak Tenggara di Kalimantan Barat yang berada di angka 732 dengan parameter utama PM2.5.
Daftar 10 Daerah dengan Kualitas Udara Terburuk
Dari hasil pemantauan pada Senin (31/8/2026) pukul 10.54 WIB, sebanyak delapan dari sepuluh wilayah teratas mencatatkan nilai ISPU di atas ambang batas 300, yang mengindikasikan status udara sudah sangat Berbahaya.
Berikut rincian 10 wilayah dengan tingkat pencemaran udara tertinggi:
- Kabupaten Murung Raya (Kalteng): 848 (PM10) – Berbahaya
- Kabupaten Kotawaringin Timur (Kalteng): 773 (PM10) – Berbahaya
- Pontianak Tenggara (Kalbar): 732 (PM2.5) – Berbahaya
- Kabupaten Gunung Mas (Kalteng): 578 (PM2.5) – Berbahaya
- Kabupaten Tabalong (Kalsel): 399 (PM2.5) – Berbahaya
- Kabupaten Kapuas (Kalteng): 390 (PM10) – Berbahaya
- Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kalsel): 373 (PM2.5) – Berbahaya
- Mobile AQMS BPBD Kalimantan Tengah: 367 (PM2.5) – Berbahaya
- Kabupaten Tebo (Jambi): 211 (PM2.5) – Sangat Tidak Sehat
- Kabupaten Kutai Barat (Kaltim): 201 (PM2.5) – Sangat Tidak Sehat
Ancaman Serius Partikel PM10 dan PM2.5 bagi Kesehatan
Tingginya konsentrasi partikel mikro di udara ini memerlukan kewaspadaan ekstra. Paparan polutan berisiko tinggi memicu berbagai masalah pernapasan akut.
“PM10 dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan bagian atas. Paparan PM10 berpotensi menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan mata, terutama saat konsentrasinya meningkat,” tulis BMKG dalam laman resminya, dikutip Senin (31/8).
Bahaya mendalam juga mengintai dari paparan mikroskopis partikel PM2.5 yang lebih mudah menembus pertahanan tubuh manusia.
“Karena ukurannya sangat halus, PM2.5 dapat masuk lebih dalam ke paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kelompok yang paling rentan terdampak antara lain anak-anak, lansia, serta pengidap penyakit pernapasan dan jantung,” lanjut BMKG.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










