bukamata.id – Di tengah dunia anak-anak yang umumnya masih dipenuhi permainan sederhana, seorang bocah asal Bojonegoro justru menempuh jalan yang jauh berbeda.
Namanya Parama Hansa Abhipraya, atau akrab disapa Rama, kini menjadi sorotan nasional setelah meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada April 2026.
Rama tidak hanya mencatat satu prestasi, tetapi lintas bidang sekaligus, mulai dari matematika internasional, musik, catur, hingga budaya tradisional Indonesia seperti wayang.
Rekor MURI: Anak Usia 7 Tahun dengan Prestasi Lintas Disiplin Terbanyak
Penghargaan bergengsi tersebut diberikan oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori anak usia dini dengan capaian lintas disiplin terbanyak.
Penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh pendiri MURI, Jaya Suprana bersama Direktur Utama MURI, Aylawati Sarwono pada 8 April 2026.
Dalam catatan MURI, Rama dinilai mampu menunjukkan prestasi di empat bidang utama sekaligus: akademik, seni, olahraga, serta literasi dan budaya.
Profil Parama Hansa Abhipraya: Bakat yang Tumbuh Sejak Usia 3 Tahun
Rama lahir di Bojonegoro dan mulai menunjukkan ketertarikan pada berbagai bidang sejak usia sekitar 3 tahun. Alih-alih fokus pada satu kemampuan, ia justru berkembang secara multidisipliner.
Ayahnya, Dhaniar Aji, menjadi sosok penting dalam perjalanan tersebut. Ia memberikan ruang eksplorasi tanpa membatasi minat anaknya.
Menurut keluarga, kunci perkembangan Rama bukan sekadar bakat, tetapi konsistensi, kebebasan belajar, dan pendampingan yang seimbang.
Prestasi Akademik: Juara Matematika Internasional
Di bidang akademik, Rama dikenal memiliki ketertarikan kuat pada angka dan logika. Ia aktif mengikuti berbagai kompetisi matematika sejak usia dini.
Puncaknya, Rama meraih gelar World Star Champion dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2025.
Kompetisi ini merupakan ajang bergengsi yang menguji kemampuan logika, analisis, serta pemecahan masalah tingkat internasional.
Dunia Musik: Piano Jadi Ruang Ekspresi
Selain matematika, Rama juga menekuni dunia seni musik. Ia belajar piano secara konsisten dan mengikuti berbagai kompetisi internasional.
Salah satu prestasinya adalah meraih 2nd Silver Trophy dalam Piano Golden Lion Singapore 2026.
Bagi Rama, musik bukan sekadar keterampilan, tetapi ruang untuk menyeimbangkan logika dan perasaan.
Olahraga Otak: Catur sebagai Latihan Strategi
Di bidang olahraga, Rama memilih catur sebagai arena pengembangan diri. Olahraga ini melatih konsentrasi, strategi, dan kemampuan berpikir jangka panjang.
Ia berhasil meraih prestasi di tingkat nasional hingga internasional, termasuk ajang kompetitif di Asia Tenggara.
Budaya dan Literasi: Dalang Wayang dan Penulis Buku Cilik
Salah satu aspek paling unik dari Rama adalah keterlibatannya dalam budaya tradisional Indonesia. Ia tidak hanya mengenal, tetapi juga mempraktikkan seni pedalangan wayang.
Selain itu, Rama juga telah menulis buku dan meraih Readers’ Choice Award 2025.
Keterlibatan ini menunjukkan bahwa perkembangan anak tidak hanya berfokus pada modernitas, tetapi juga tetap menjaga akar budaya bangsa.
Disiplin Spiritual dan Keseharian Anak
Di luar akademik dan seni, Rama juga dikenal memiliki kedisiplinan dalam aspek spiritual. Ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an sejak usia 5 tahun.
Meski memiliki segudang prestasi, Rama tetap menjalani kehidupan sebagai anak sekolah biasa. Saat ini ia duduk di kelas 2 SD Yasporbi 1 Pancoran, Jakarta Selatan.
“Tidak Perlu Satu Warna untuk Menggambar Pelangi”
Dalam salah satu ungkapan sederhana, Rama mengatakan:
“Kita tidak perlu memilih satu warna untuk menggambar pelangi.”
Kalimat ini mencerminkan filosofi hidupnya, bahwa setiap anak memiliki ruang untuk berkembang di banyak arah tanpa harus dibatasi satu bidang saja.
Pandangan MURI: Simbol Potensi Anak Indonesia
Menurut Jaya Suprana, pencapaian Rama mencerminkan potensi besar anak Indonesia jika dikembangkan secara seimbang.
“Rekor ini bukan sekadar angka, tetapi simbol bahwa anak Indonesia bisa unggul di banyak bidang jika diberi kesempatan yang tepat,” ujarnya.
Dukungan Keluarga Jadi Kunci Utama
Ayah Rama, Dhaniar Aji, menegaskan bahwa pencapaian ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal proses panjang.
Ia berharap kisah Rama dapat menjadi inspirasi bagi orang tua lain untuk memberikan ruang eksplorasi yang sehat bagi anak.
Komentar Warganet
Kisah Parama Hansa Abhipraya atau Rama juga ramai mendapat respons positif dari warganet di media sosial. Dikutip dari kolom komentar Instagram Instagram @mental_juara.id, Senin (20/4/2026), banyak pengguna memberikan pujian atas pencapaian bocah berusia 7 tahun tersebut.
“Semoga anak kita semua seperti ananda …,” tulis akun @ayu***.
“Mantap & keren,” tulis akun @dew***.
“Kerenn kieu si penjinak mini ucii,” tulis akun @mfa***.
Respons tersebut menunjukkan tingginya antusiasme publik terhadap sosok Rama yang dinilai inspiratif dan berprestasi di usia dini.
Penutup
Kisah Parama Hansa Abhipraya atau Rama menjadi gambaran bahwa potensi anak tidak selalu harus diarahkan pada satu jalur sejak dini. Dengan ruang eksplorasi yang luas, pendampingan keluarga yang tepat, serta proses belajar yang konsisten, kemampuan anak dapat tumbuh melampaui batas-batas umum usia.
Di balik berbagai prestasi yang diraih, Rama tetaplah seorang anak yang sedang menjalani masa tumbuh kembangnya. Penghargaan dan rekor yang ia capai bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang masih terus berjalan.
Fenomena ini sekaligus menjadi refleksi bagi banyak pihak bahwa pendidikan bukan hanya soal hasil akademik, tetapi juga tentang bagaimana membangun karakter, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk mencoba banyak hal sejak usia dini.
Pada akhirnya, kisah Rama bukan sekadar cerita tentang anak jenius, tetapi tentang bagaimana sebuah potensi bisa tumbuh ketika diberi kesempatan untuk berkembang tanpa batas yang kaku.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










