Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri

Minggu, 14 Juni 2026 17:35 WIB

Persib Masih Kena Transfer Ban FIFA! Bursa Transfer Maung Bandung Terancam Kacau?

Minggu, 14 Juni 2026 16:27 WIB

Jangan Sampai Terlambat! WhatsApp akan Blokir Akses di iPhone dengan iOS Versi Ini

Minggu, 14 Juni 2026 15:09 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri
  • Persib Masih Kena Transfer Ban FIFA! Bursa Transfer Maung Bandung Terancam Kacau?
  • Jangan Sampai Terlambat! WhatsApp akan Blokir Akses di iPhone dengan iOS Versi Ini
  • Pro-Kontra Razia Outfit Jogging di Aceh: Aturan Daerah vs Gaya Hidup Modern, Siapa yang Salah?
  • Drama Besar Timnas Jepang! Moriyasu Minta Maaf Usai Coret Wataru Endo
  • Terungkap! Ini Penyebab Persib Sempat Kacau di Awal Musim 2023/24
  • Hasil PCMB Jabar 2026 Resmi Diumumkan, Ini Aturan Wajib Daftar Ulang atau Calon Siswa Bisa Gugur
  • Heboh Video Cut Salwa Viral! Warganet Penasaran, Sebenarnya Isinya Apa?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 14 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bukan Mitra, Tapi Babu: Kapitalisme Ojol dan Tipu Daya Teknologi

By AdminSabtu, 14 Juni 2025 14:44 WIB5 Mins Read
Penta Peturun, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

SHOSHANA Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism menunjuk bahwa kapitalisme kontemporer tak hanya mengeksploitasi tenaga kerja, melainkan juga mengubah pengalaman manusia menjadi data yang dapat dipanen dan diperjualbelikan. Slavoj Žižek menambahkan gagasan “ideologi cyber-fetishisme”: bagaimana teknologi menyamarkan hubungan eksploitasi di balik narasi kemajuan dan efisiensi. Sementara Antonio Gramsci memberi kita kerangka untuk memahami hegemoni baru yang terbentuk melalui “common sense” digital, yang menormalisasi prekarisasi kerja.

Di Indonesia, konvergensi perspektif ini terealisasi nyata dalam kalkulasi data aktif dan pasif nasib 4,2 juta driver ojek online. Menurut BPS 2024, mereka berjuang agar diakui sebagai buruh, bukan sekadar “mitra bisnis” seperti diklaim platform digital. Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan hanya sebagian kecil yang menjadi peserta mandiri, selebihnya bekerja tanpa jaminan sosial. Ironisnya, di tengah semua itu, Presiden Prabowo Subianto mendorong aplikasi memberikan “bonus hari raya” pada Idul Fitri 1446, mengambil jalan tengah walau pertanyaan mendasar soal status ketenagakerjaan belum tuntas.

Žižek dan “Enlightened False Consciousness”

Katakan seorang driver berkata kepada Pramoedya:

“Tuan, saya tahu kami bukan mitra sejati, tapi apa yang bisa kami lakukan? Kami harus tetap bekerja untuk makan anak.”

Inilah yang Žižek sebut enlightened false consciousness, kesadaran akan penindasan, namun tetap terperangkap karena pilihan lainnya sangat terbatas. Driver tahu platform tak peduli keselamatan mereka, namun tetap membuka aplikasi, menunggu orderan. Narasi “mitra bisnis” menjadi ilusi, sementara struktur yang menjerat tetap berdiri tegak.

Baca Juga:  KDM Angkat Adik Korban Ojol Jadi Anak Asuh, Janjikan Rumah untuk Keluarga Affan

Narasi “Ekonomi Berbagi” dan Kritik Ideologis

Žižek mengecam narasi “ekonomi berbagi” sebagai ideologi murni. Ketika Wakil Menaker Immanuel Ebenezer (Noel) menyatakan di sidang ILO, “Ojol adalah manusia yang harus dimanusiakan, bukan algoritma data dalam status kemitraan,”
itu merupakan pengakuan bahwa selama ini mereka diperlakukan seperti perpanjangan mesin.

Di sidang International Labour Conference di Jenewa, Juni 2025, ILO memutuskan bahwa driver ojol adalah pekerja digital yang berhak atas perlindungan buruh. Konvensi ini akan ditetapkan resmi pada 2026.

Gramsci menyebut proses ini sebagai “war of position”, perebutan ruang diskursif lewat serikat buruh global yang berhasil meruntuhkan narasi kemitraan buatan platform.

Data sebagai Senjata: Mengungkap Ketimpangan

Pramoedya percaya bahwa kebenaran sejati berada pada kehidupan orang-orang kecil, bukan retorika penguasa. Berikut fakta yang menegaskan nasib driver:

Total driver aktif: ±2 juta; baru ±250 ribu yang terdaftar BPJS Ketenagakerjaan masih ±1,75 juta yang tanpa jaminan JKK dan JKM.

Rata-rata pendapatan bruto: Rp 2,1 juta/bulan, jauh di bawah UMR di banyak kota.

Setelah potongan operasional (bensin, servis, helm, jaket, ponsel), pendapatan bersih hanya ±Rp 1,4 juta, sebuah “kemerdekaan digital” yang menindas.

Ekonomi platform RI bernilai US$27 miliar dan tumbuh 35 % per tahun, tapi sebagian besar keuntungan dinikmati korporasi multinasional, bukan para driver. Platform mengubah terms and conditions secara sepihak, bukan kemitraan, melainkan bentuk modern perbudakan berbaju teknologi.

Baca Juga:  Gercep! 3 Pelaku Pengeroyokan Ojol di Cimekar Berhasil Diringkus Polisi

Politik Kedermawanan Terhadap Realitas Struktural

Saat Presiden Prabowo menyebut soal penambahan bonus hari raya (BHR) sekitar Rp 1 juta, bahkan ada yang hanya dapat Rp 50 ribu atau tidak sama sekali, itu mencerminkan kontradiksi mendalam. Pramoedya tentu akan melihatnya sebagai mentalitas priyayi: memberi belas kasih tanpa mengubah struktur yang menindas. BHR ini adalah contoh paling jelas dari charity capitalism.

Žižek menyebutnya “ideology at its purest”: tindakan tampak progresif namun menyokong status quo. Meski Indonesia mendukung keputusan ILO, implementasi di tingkat nasional masih minim regulasi substantif, konvensi bisa saja jadi slogan kosong.

Dari Cultuurstelsel ke Algoritma

Dalam Bumi Manusia, pribumi dibentuk sebagai kelas terbawah, tunduk pada “cambuk” kolonial. Kini, algoritma platform digital menyandang peran cambuk baru yang tak terlihat, rating, suspend akun, dan manipulasi order menjadi alat kedisiplinan.

Driver bukan sekadar memberi layanan; mereka juga menyediakan data tentang pola hidup yang diubah jadi “behavioral futures” dan diperjualbelikan. Ini adalah kolonialisme data, lebih dalam dari kolonialisme fisik.

Bagian paling ironis: platform memberi narasi “jadilah bos untuk diri sendiri” sambil memberlakukan kontrol lebih ketat daripada hubungan kerja tradisional, GPS, rating, tracking penolakan order, semuanya mencerminkan bentuk baru dominasi.

Perjuangan Kemanusiaan: War of Position Digital

Bayangkan seorang driver bertanya:

“Mereka bilang kami mitra, tapi kenapa diperlakukan seperti babu? Kenapa rating bisa bikin kami kehilangan order? Kenapa kami gak boleh pilih order jauh?”

Baca Juga:  Apes! Ojol di Bandung Mendapati Pelanggan Terima Pesanan Tanpa Busana

Perjuangan untuk status hukum adalah perjuangan untuk kemanusiaan, hak upah minimum, jaminan sosial, perlindungan kerja. Gramsci melihat ini sebagai “war of position”: narasi kemitraan harus dilawan lewat kesadaran kritis dan solidaritas kolektif.

GARDA dan Aliansi Driver Online adalah organic intellectuals, intelektual organik dari kelas pekerja yang merumuskan kesadaran kritis, tak hanya soal tarif, tapi soal posisi manusia di hadapan algoritma.

Melawan Amnesia Digital: Žižekian Wake‑Up Call

Pramoedya menegaskan pentingnya ingatan kolektif untuk melawan penindasan. Kata dia “jangan jadi bangsa amnesia.” Dalam konteks digital, amnesia ini menjadi normalisasi eksploitasi. Žižek menambahkan bahwa kita tak benar-benar lupa, tetapi melakukan “disavowal”:

“Saya tahu driver dieksploitasi, tapi tetap pakai aplikasi karena praktis.”

Tindakan kita, memberi rating rendah karena terlambat, memilih opsi termurah, hal itu secara tak sadar memperkuat sistem. Namun kita menolak tanggung jawab dengan mengatakan, “Itu tugas platform, bukan saya.”

Gramsci mengatakan ini bagian dari hegemoni platform: konsumen dipisahkan dari realitas produksi, sehingga eksploitasi tak terlihat.

Perlawanan terhadap kapitalisme pengawasan harus dimulai dari menolak amnesia ini, seperti yang dilakukan Pramoedya lewat penulisan: mendokumentasikan dan menyuarakan pengalaman driver sebagai bagian dari sejarah perjuangan kelas digital. Ini soal empati dan gagasan struktural.

Penulis: Penta Peturun (Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI)

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

babu ojol mitra ojol Ojol perbudakan ojol tipu daya teknologi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hilang 3 Tahun, Wanita Bandung Ditemukan dengan Wajah Hancur! Diduga Disekap Kekasih Sendiri

Pro-Kontra Razia Outfit Jogging di Aceh: Aturan Daerah vs Gaya Hidup Modern, Siapa yang Salah?

Hasil PCMB Jabar 2026 Resmi Diumumkan, Ini Aturan Wajib Daftar Ulang atau Calon Siswa Bisa Gugur

Viral! Pencopetan di Mal Bandung Terekam CCTV, iPhone 17 Pro Max Raib Usai Salat Magrib

Rampok Uang Negara Rp18 Miliar, Ternyata Segini Isi Garasi dan Total Harta Wabup Indramayu

Kisruh SPMB: Dedi Mulyadi Janjikan Siswa yang Tersingkir di Sekolah Negeri Dijamin Gratis Masuk Swasta

Terpopuler
  • Viral! Link Video Full Durasi Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Apa Isinya?
  • Dari Buku ‘Broken Strings’ Sampai Urusan Istri: Mengapa Eza Gionino dan Robby Tremonti Mendadak Panas?
  • Link Telegram Video Cut Salwa Full Durasi Ramai Dicari, Benarkah Ada?
  • Link Video Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Ini Fakta Sebenarnya yang Mengejutkan
  • Link Video Cut Salwa Viral ‘No Sensor’, Warganet Diminta Jangan Asal Klik!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.