bukamata.id – Kontroversi lagu “Gapapa” yang menyeret nama Icha Chellow, Mala Agatha, dan DJ Zhu terus bergulir. Alih-alih meredam polemik dengan menyampaikan permintaan maaf kepada publik maupun pemilik lagu asli, ketiganya justru memilih memberikan klarifikasi yang berisi pembelaan diri.
Sikap tersebut memicu gelombang kritik baru dari masyarakat. Banyak warganet menilai klarifikasi yang disampaikan bukan menunjukkan penyesalan, melainkan upaya mengalihkan tanggung jawab kepada pihak produser.
Kasus yang semula hanya menjadi perbincangan di media sosial kini berkembang menjadi persoalan yang lebih serius. Selain mendapat kecaman dari pedangdut senior Anisa Bahar, polemik ini juga telah masuk ke ranah hukum setelah dilaporkan oleh Aliansi Madura Indonesia (AMI) ke Polrestabes Surabaya. Bahkan, anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya turut mengkritik keras perubahan lirik lagu tersebut.
Klarifikasi Icha Chellow dan Mala Agatha Justru Tuai Sorotan
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @mala.agatha, Mala Agatha bersama Icha Chellow dan DJ Zhu akhirnya buka suara terkait ultimatum yang sebelumnya diberikan Anisa Bahar.
Namun, isi klarifikasi mereka justru dianggap tidak menjawab substansi persoalan yang dipermasalahkan publik, yakni perubahan lirik lagu “Gapapa” menjadi bernuansa vulgar tanpa izin pencipta lagu.
Dalam video tersebut, ketiganya menyampaikan beberapa poin pembelaan.
1. Mengaku Terikat Kontrak dengan Produser
Mala Agatha, Icha Chellow, dan DJ Zhu mengaku hanya menjalankan pekerjaan sebagai penyanyi profesional yang telah terikat kontrak dengan produser.
Menurut mereka, lagu yang dinyanyikan merupakan bagian dari pekerjaan sehingga jika menolak justru berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum berupa wanprestasi.
“Di sini kami juga terikat kontrak, kami juga tahu konsekuensinya akan seperti ini, tapi dikerjakan salah, enggak dikerjakan kita dapat wanprestasi,” ujar DJ Zhu.
2. Menilai Sorotan Hanya Tertuju kepada Icha dan Mala
Icha Chellow juga menyayangkan sorotan publik yang menurutnya hanya mengarah kepada dirinya dan Mala Agatha.
Padahal, lagu tersebut juga dibawakan bersama DJ Zhu.
“Bukan hanya aku dan Icha,” ujar Mala Agatha dalam klarifikasinya.
3. Meminta Produser Ikut Bertanggung Jawab
Selain mengaku hanya menjalankan pekerjaan, ketiganya juga meminta agar tanggung jawab tidak hanya dibebankan kepada para penyanyi.
Menurut mereka, produser yang membuat konsep lagu juga seharusnya menerima konsekuensi.
“Jadi jangan salahkan kami dong, salahkan juga produsernya,” kata DJ Zhu.
Ucapan tersebut kemudian disambut Icha Chellow dengan nada santai.
“Masa kita aja ya,” ucapnya sambil tersenyum.
4. Tidak Ada Permintaan Maaf
Yang paling menjadi sorotan publik adalah tidak adanya permintaan maaf dalam klarifikasi tersebut.
Padahal, polemik lagu itu telah memicu kegaduhan nasional, menuai kritik dari berbagai kalangan, hingga berujung laporan ke kepolisian.
Sikap tersebut membuat banyak warganet menilai ketiga penyanyi lebih sibuk mencari pembenaran dibanding menunjukkan rasa penyesalan.
Publik Nilai Hanya Cari Selamat
Alih-alih meredakan kemarahan masyarakat, klarifikasi tersebut justru memancing reaksi yang lebih keras.
Banyak komentar bermunculan dari akun-akun publik maupun figur yang telah terverifikasi.
Pendakwah Derry Sulaiman mengingatkan pentingnya meminta maaf dibanding saling menyalahkan.
“Malu itu sebagian dari iman… istighfar banyak-banyak, bertaubatlah kepada Allah. Minta maaf kepada kedua orang tua kalian, anak-anak kalian dan semua orang yang telah terganggu pendengarannya karena lagu kalian, bukan sibuk membela diri dan saling menyalahkan.”
Komentar serupa juga datang dari akun @dynababyboo.
“Minta maaf apa nantangin sih? Kenapa enggak ada rasa menyesal sama sekali malah cengar-cengir.”
Sementara akun @syalialia mempertanyakan alasan para penyanyi tetap bersedia membawakan lagu tersebut meski dinilai tidak pantas.
“Kan bisa nolak. Walaupun kontrak, tetap punya hak untuk menolak kalau memang liriknya tidak pantas.”
Reaksi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar publik tidak puas dengan penjelasan yang diberikan Icha Chellow dan rekan-rekannya.
Anisa Bahar: “Masa Disuruh Terus Mau?”
Klarifikasi tersebut juga mendapat tanggapan langsung dari Anisa Bahar.
Pedangdut senior itu menilai alasan bahwa mereka hanya menjalankan perintah produser tidak bisa dijadikan pembenaran.
Menurut Anisa, setiap penyanyi tetap memiliki tanggung jawab moral atas karya yang dibawakan.
“Katanya dia cuma disuruh sama produsernya dan dia enggak mau disalahkan karena cuma talent. Tapi ya mbok kamu perempuan punya otak. Enggak menghalalkan segala cara mentang-mentang disuruh terus mau? Menurut aku kalian kayak enggak punya otak,” ujar Anisa Bahar melalui akun INstagram @anisa_bahar_new.
Anisa juga menegaskan bahwa lagu “Gapapa” merupakan karya ciptaan kakaknya, Eko Bahar, yang memiliki pesan positif tentang menghadapi perundungan. Menurutnya, perubahan lirik menjadi bernuansa vulgar telah menghilangkan makna asli lagu sekaligus merugikan pencipta.
Beri Ultimatum 3×24 Jam
Sebelumnya, Anisa Bahar telah memberikan ultimatum terbuka kepada Icha Chellow dan Mala Agatha.
Ia meminta keduanya menghubunginya dalam waktu 3×24 jam sebagai bentuk iktikad baik sebelum persoalan dibawa ke jalur hukum.
Anisa mengaku telah berdiskusi dengan kuasa hukum dan pihak-pihak terkait untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Bukannya mami diam saja, tetapi mami juga butuh diskusi, butuh pengacara, dan harus bicara dengan orang-orang yang terkait dalam masalah ini,” tulis Anisa.
Kasus Sudah Masuk Ranah Hukum
Di tengah polemik yang terus berkembang, Aliansi Madura Indonesia (AMI) resmi mengadukan kasus tersebut ke Polrestabes Surabaya.
Ketua Umum AMI, Baihaqi Akbar, mengatakan laporan tersebut dilatarbelakangi keresahan masyarakat, terutama para orang tua yang khawatir lagu tersebut dikonsumsi anak-anak.
AMI menilai perubahan lirik lagu mengandung unsur vulgar yang diduga berpotensi melanggar UU ITE dan UU Pornografi.
Selain meminta penyanyi diperiksa, AMI juga mendesak aparat penegak hukum mengusut produser maupun pihak-pihak yang terlibat dalam produksi lagu tersebut.
DPR RI Ikut Mengecam
Sorotan terhadap kasus ini semakin meluas setelah anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya ikut menyampaikan kritik.
Menurut Atalia, mengejar popularitas dengan mengorbankan nilai moral merupakan fenomena yang memprihatinkan.
Ia bahkan mengaku enggan mengunggah potongan lagu tersebut karena dinilai terlalu vulgar.
Atalia juga menilai perubahan lirik lagu tersebut tidak hanya merendahkan perempuan, tetapi berpotensi memberi contoh buruk bagi anak-anak dan remaja yang aktif mengakses media sosial.
Polemik Belum Berakhir
Hingga kini, polemik lagu “Gapapa” masih terus menjadi perhatian publik.
Alih-alih meredakan situasi melalui permintaan maaf, klarifikasi yang disampaikan Icha Chellow, Mala Agatha, dan DJ Zhu justru memperpanjang perdebatan.
Dengan adanya ultimatum dari Anisa Bahar, laporan resmi ke kepolisian, serta desakan dari berbagai pihak, kasus ini kini tidak lagi sekadar menjadi kontroversi di media sosial. Persoalan tersebut telah berkembang menjadi perdebatan mengenai batas kreativitas, etika berkarya, penghormatan terhadap hak cipta, hingga tanggung jawab pelaku industri hiburan terhadap dampak karya yang dipublikasikan di ruang digital.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










