bukamata.id – Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar materi dan keuntungan, kisah hidup dr. FX Sudanto hadir sebagai pengingat bahwa ketulusan masih nyata di negeri ini.
Namanya mendadak menjadi perbincangan publik setelah kisah pengabdiannya di Papua viral di media sosial. Ribuan warganet tersentuh mengetahui bahwa selama puluhan tahun ia tetap melayani masyarakat dengan tarif berobat yang sangat murah, bahkan hanya sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per pasien.
Bagi banyak orang, angka tersebut mungkin tidak lagi bernilai besar. Namun bagi masyarakat kecil yang hidup di pelosok Papua, tarif itu menjadi jembatan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak.
Tak heran jika kolom komentar media sosial dipenuhi doa dan apresiasi.
“Masuk surga tanpa hisab ya Dok, Aamiin,” tulis salah satu warganet.
“Pantasan umurnya panjang karena suka menolong banyak orang,” tulis akun lainnya.
Komentar-komentar tersebut menggambarkan betapa besar rasa hormat masyarakat terhadap sosok dokter yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk melayani tanpa memikirkan keuntungan pribadi.
Memilih Papua Saat Banyak Orang Mengejar Kota Besar
Perjalanan hidup dr. FX Sudanto dimulai jauh sebelum dirinya dikenal sebagai “Dokter Seribu Rupiah”.
Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, itu awalnya tidak langsung memilih dunia kedokteran. Setelah lulus SMA, ia sempat masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun atas dorongan sang ibu yang berprofesi sebagai perawat, ia kemudian beralih ke Fakultas Kedokteran UGM.
Keputusan itu mengubah seluruh jalan hidupnya.
Tahun 1975, setelah menyelesaikan pendidikan dokter, Sudanto mengikuti program Dokter Inpres yang saat itu digagas pemerintah untuk mengatasi minimnya tenaga kesehatan di daerah terpencil.
Ketika banyak dokter muda berharap ditempatkan di kota besar atau wilayah yang lebih nyaman, Sudanto justru memilih Irian Jaya, yang kini dikenal sebagai Papua.
Keputusan itu bukan tanpa risiko.
Papua saat itu dikenal sebagai daerah dengan akses transportasi terbatas, fasilitas kesehatan minim, serta tantangan geografis yang berat. Namun Sudanto melihatnya sebagai panggilan pengabdian.
“Saya memilih Irian Jaya karena saya menyukainya,” kenangnya dalam berbagai kesempatan.
Menembus Hutan dan Rawa Demi Pasien
Penempatan pertama Sudanto berada di Asmat.
Di wilayah yang sebagian besar berupa rawa dan hutan lebat itu, kehidupan sehari-hari jauh dari kata mudah. Jalan darat hampir tidak tersedia. Banyak kampung hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki berjam-jam atau menggunakan perahu kecil.
Namun kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah.
Setiap hari ia keluar masuk kampung, memeriksa pasien satu per satu. Ia berjalan menembus hutan, melintasi rawa, dan menghadapi berbagai keterbatasan yang mungkin sulit dibayangkan generasi sekarang.
Makanan pun sangat sederhana.
Tidak ada sayuran segar seperti di Pulau Jawa. Selama bertahun-tahun ia terbiasa mengonsumsi sagu dan ikan seperti masyarakat setempat.
“Karena daerahnya rawa, saya hanya makan sagu dan ikan,” tuturnya.
Di tengah segala keterbatasan itu, Sudanto menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Papua berjuang menghadapi berbagai penyakit seperti malaria, TBC, polio, hingga busung lapar akibat kekurangan gizi.
Dibayar dengan Sagu dan Kayu Bakar
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan hidupnya adalah kondisi ekonomi masyarakat yang sangat sederhana.
Banyak pasien datang tanpa membawa uang.
Sebagian membayar dengan sagu. Sebagian lagi membawa kayu bakar hasil hutan. Bahkan tidak sedikit yang hanya mengucapkan terima kasih.
Namun Sudanto tidak pernah menjadikan uang sebagai syarat utama pelayanan.
Baginya, tugas seorang dokter adalah membantu orang yang sakit.
Ia tidak tega melihat masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis harus pulang karena tidak mampu membayar.
Prinsip itulah yang kemudian menjadi fondasi dari praktik medis yang ia jalankan selama puluhan tahun.
Lahirnya Julukan “Dokter Seribu Rupiah”
Setelah sekitar enam tahun bertugas di Asmat, Sudanto dipindahkan ke Jayapura pada awal 1980-an. Di sana ia bertugas di Rumah Sakit Jiwa Abepura sekaligus membuka praktik pribadi.
Meski berpindah lokasi, satu hal tidak berubah: tarif pengobatannya tetap sangat murah.
Saat banyak dokter menetapkan biaya konsultasi yang lebih tinggi, Sudanto hanya meminta Rp500 termasuk obat-obatan.
Seiring waktu tarif tersebut naik menjadi Rp1.000, lalu Rp2.000, dan kini sekitar Rp5.000. Meski demikian, masyarakat tetap mengenalnya dengan julukan “Dokter Seribu Rupiah”.
Julukan itu melekat karena mencerminkan filosofi hidupnya. Yang dicari bukan kekayaan, melainkan kesempatan untuk membantu sebanyak mungkin orang.
“Yang saya cari adalah berbuat baik bagi banyak orang,” ujarnya.
Melayani Hingga Ratusan Pasien Setiap Hari
Meski usianya terus bertambah, semangat pengabdian Sudanto tidak pernah surut.
Setiap hari ratusan pasien masih datang ke kliniknya di Abepura.
Mereka datang bukan hanya karena tarifnya murah, tetapi juga karena percaya pada ketulusan dan dedikasi sang dokter.
Bagi banyak warga Papua, Sudanto bukan sekadar dokter.
Ia telah menjadi bagian dari keluarga.
Banyak pasien mengaku merasa didengarkan, dihargai, dan diperlakukan dengan penuh kasih saat berobat kepadanya.
Karena itulah penghormatan masyarakat terhadap dirinya jauh melampaui profesi yang disandangnya.
Ketika Materi Bukan Tujuan Utama
Di era ketika profesi dokter sering dikaitkan dengan penghasilan besar dan kehidupan mapan, Sudanto menunjukkan perspektif berbeda.
Ia tidak pernah menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Baginya, uang hanya alat untuk memenuhi kebutuhan sederhana sehari-hari.
Sebaliknya, kebahagiaan terbesar justru muncul ketika melihat pasien sembuh dan bisa kembali beraktivitas.
Pemikiran tersebut lahir dari pengalaman hidup panjang yang dijalaninya sejak masa kecil hingga puluhan tahun mengabdi di Papua.
Ia percaya bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Viral dan Menginspirasi Indonesia
Di tengah derasnya arus informasi digital, kisah dr. FX Sudanto menjadi oase yang menyegarkan.
Saat banyak orang berlomba mencari popularitas, ia justru menghabiskan hidupnya dalam kesunyian pelayanan.
Tanpa panggung besar. Tanpa sorotan media.
Namun justru karena ketulusannya itulah publik tersentuh.
Kisahnya menjadi bukti bahwa pengabdian sejati tidak selalu lahir dari fasilitas mewah atau penghargaan besar. Kadang, pengabdian itu hadir dalam bentuk sederhana: seorang dokter yang memilih tetap membuka pintu kliniknya bagi masyarakat miskin, meski hanya dibayar beberapa ribu rupiah.
Lebih dari empat dekade mengabdi di Papua, dr. FX Sudanto telah menunjukkan bahwa profesi bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan kemanusiaan.
Di tengah dunia yang terus berubah, sosoknya mengingatkan bahwa nilai paling mahal dalam hidup bukanlah uang, melainkan ketulusan untuk menolong sesama.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









