Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Persib Makin Gemuk! 16 Sponsor Resmi Bergabung, 6 Nama Baru Bikin Penasaran

Selasa, 25 Agustus 2026 17:01 WIB

Resmi Dirilis! Jersey Persib 2026/27 Usung ‘Lives Inside Us’ dan Teknologi K-Loomax

Selasa, 25 Agustus 2026 16:51 WIB

Kuliner Unik Bandung yang Wajib Dicoba! Roti Labu Kukus Lembut dengan Topping Berlimpah

Selasa, 25 Agustus 2026 16:34 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Persib Makin Gemuk! 16 Sponsor Resmi Bergabung, 6 Nama Baru Bikin Penasaran
  • Resmi Dirilis! Jersey Persib 2026/27 Usung ‘Lives Inside Us’ dan Teknologi K-Loomax
  • Kuliner Unik Bandung yang Wajib Dicoba! Roti Labu Kukus Lembut dengan Topping Berlimpah
  • Di Balik Isu Ekowisata Puncak, Tangisan Dedi Mulyadi Berakhir Tanpa Hasil?
  • Cek Bansos Sekarang! Status ‘YA’ dan ‘Proses Transfer’ Ternyata Punya Arti Berbeda
  • Data BPS: Penduduk Miskin di Jawa Barat Capai 3,44 Juta Jiwa
  • Haaland Potong Rambut Jadi Cepak, Malah Mandul Gol?
  • Sering Dikira Buas, Ternyata Ini Sejarah Asli Anjing Pitbull dan Alasan Dijuluki Sahabat Petani
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 25 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dari Kampung Cirumput, Benih Harapan Koperasi Petani Hortikultura Mulai Tumbuh

By Aga GustianaJumat, 29 Agustus 2025 06:30 WIB3 Mins Read
petani hortikultura
Petani hortikultura. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kampung Cirumput, yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten, mungkin belum banyak dikenal publik. Namun, dari desa kecil ini kini lahir sebuah inisiatif besar yang berpotensi mengubah wajah pertanian lokal sekaligus menjadi inspirasi bagi pembangunan sistem pertanian nasional berbasis koperasi.

Lahirnya Koperasi Bangun Tani Makmur

Sekelompok petani hortikultura di Cirumput baru-baru ini membentuk Koperasi Bangun Tani Makmur. Kehadirannya tidak berdiri sendiri, melainkan dengan pendampingan Agriterra, organisasi internasional yang berfokus memperkuat koperasi petani di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Saat ini, koperasi tersebut sudah memiliki 23 anggota aktif. Meski jumlahnya masih kecil, potensinya diperkirakan dapat merangkul lebih dari 500 petani hortikultura di kawasan tersebut.

Berbeda dari koperasi pada umumnya yang kerap dibangun murni secara swadaya, koperasi ini lahir melalui kemitraan dengan perusahaan swasta yang sebelumnya sudah bekerja sama dengan petani setempat. Perusahaan tersebut bukan hanya menyerap hasil panen, melainkan juga memberikan suntikan modal awal guna memperkuat fondasi koperasi.

Model kolaborasi seperti ini dinilai inovatif. Agriterra menilai format tersebut bisa menjadi contoh yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain.

Baca Juga:  Diduga Cemburu, Seorang Petani di Bandung Tewas Ditusuk Rekan Sendiri

“Model koperasi seperti ini bisa jadi inspirasi untuk perusahaan-perusahaan yang punya komitmen terhadap pemberdayaan petani. Melalui koperasi, mereka tidak hanya membantu petani secara individu, tetapi juga memperkuat kelembagaan ekonomi desa,” ungkap Aditya Mirzapahlevi Saptadjaja, Cooperative Advisor Agriterra.

Manfaat Langsung bagi Petani

Ketua Koperasi Bangun Tani Makmur, Dadang, menegaskan bahwa koperasi ini sudah memberi manfaat nyata bagi anggotanya. Salah satunya, biaya produksi lebih rendah karena pembelian sarana produksi pertanian (saprotan) dilakukan secara kolektif.

Selain itu, koperasi menyediakan akses pinjaman produktif dengan skema pembiayaan berbasis simpanan wajib anggota. Hal ini menjadi terobosan penting, sebab banyak petani sebelumnya kesulitan mengakses kredit dari lembaga keuangan formal dan justru terjebak pada pinjaman berbunga tinggi.

Dari sisi pendapatan, harga jual hasil panen lebih stabil karena dipasarkan melalui koperasi. Anggota juga mendapatkan tambahan penghasilan dari pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) setiap tahun. Dalam jangka panjang, koperasi memberi peluang bagi petani kecil yang selama ini dianggap “tidak bankable” untuk memiliki rekam jejak finansial yang sehat sehingga dipercaya lembaga keuangan.

Baca Juga:  Tamparan yang Mengguncang Banten: Saat Disiplin Sekolah Berbalik Menjadi Polemik Nasional

“Petani hortikultura menghadapi banyak risiko, mulai dari fluktuasi harga hingga ancaman gagal panen. Melalui koperasi, risiko tersebut bisa dibagi dan dikelola bersama, sehingga petani tidak harus menanggung beban sendirian,” jelas Aditya.

Hortikultura, Sektor Strategis Masa Depan

Agriterra menilai sektor hortikultura sangat strategis bagi masa depan pertanian Indonesia. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, siklus tanamnya relatif cepat dan permintaan pasar terus meningkat.

“Kami melihat hortikultura sebagai sektor yang sangat strategis. Namun, sering kali petani kesulitan karena tidak adanya kelembagaan yang kuat. Dengan koperasi, kita bisa membangun dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, pembiayaan, hingga pemasaran,” tambah Aditya.

Sejak beroperasi di Indonesia, Agriterra telah mendampingi lebih dari 30 koperasi petani dan nelayan di berbagai wilayah. Hingga tahun lalu, mereka berhasil memobilisasi pembiayaan lebih dari Rp 500 miliar untuk modal kerja dan investasi produktif. Sementara di sektor ekspor, koperasi binaannya menyumbang transaksi lebih dari Rp 1,1 miliar serta USD 3 juta.

Baca Juga:  Kunjungi Perkebunan di Pangalengan Bandung, Anies Baswedan Soroti Masalah yang Dihadapi Petani

Selain pendanaan, Agriterra juga aktif memberikan pelatihan manajemen, tata kelola keuangan, hingga strategi bisnis agar koperasi tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga kuat secara kelembagaan.

Langkah ke Depan

Bagi Koperasi Bangun Tani Makmur, target utama saat ini adalah memperluas jumlah anggota dan memperkuat tata kelola. Dengan dukungan berkelanjutan dari Agriterra, koperasi ini diharapkan bisa menjadi role model koperasi hortikultura berkelanjutan di Indonesia.

Lebih jauh, keberadaan koperasi ini membuktikan bahwa kemitraan antara petani, koperasi, dan perusahaan swasta dapat menciptakan ekosistem pertanian yang lebih adil, efisien, serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Dari Kampung Cirumput, benih harapan itu mulai tumbuh. Siapa sangka, langkah kecil ini bisa menjadi pintu bagi perubahan besar dalam masa depan pertanian hortikultura Indonesia.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Banten petani
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Di Balik Isu Ekowisata Puncak, Tangisan Dedi Mulyadi Berakhir Tanpa Hasil?

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cek Bansos Sekarang! Status ‘YA’ dan ‘Proses Transfer’ Ternyata Punya Arti Berbeda

Data BPS: Penduduk Miskin di Jawa Barat Capai 3,44 Juta Jiwa

Seleksi Petugas Haji 2027 Resmi Dibuka! Cek Syarat, Formasi dan Cara Daftarnya

BIKIN BANGGA! Anak SD Asal Bandung Sikat Habis Medali Kompetisi Sains Nasional 2026, Ini Rahasianya!

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik Jika PKH Belum Masuk! Cek Bansos Agustus 2026 dan Status PKH Tahap 3 Lewat HP

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.