bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberikan respons tegas terkait kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan ilegal di kawasan karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor.
Menyusul instruksi Jaksa Agung, Burhanudin kepada Kejaksaan Tinggi untuk menindak tegas praktik tambang ilegal di seluruh daerah, Dedi memastikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar akan melakukan reboisasi di kawasan karst yang terdampak.
“Semua. Kan barusan Pak Burhanudin sebagai Jaksa Agung udah ngomong ke Kejaksaan Tinggi semua, harus melakukan penindakan terhadap seluruh daerah yang menjadi objek tambang ilegal,” ucap Dedi di Jalan Sumatera, Kota Bandung, Sabtu (12/4/2025).
Lebih lanjut, Dedi menekankan bahwa penindakan terhadap pelaku tambang ilegal tidak hanya akan didasarkan pada Undang-undang Lingkungan Hidup, tetapi juga akan menyasar potensi tindak pidana korupsi yang mungkin terjadi dalam aktivitas ilegal tersebut.
“Penindakannya bukan berdasarkan Undang-undang Lingkungan Hidup, tapi berdasarkan Undang-undang Korupsi,” tegasnya.
Terkait upaya pemulihan lingkungan, Dedi memastikan langkah reboisasi akan segera dilakukan, terlepas dari tindakan yang akan diambil oleh para pelaku perusakan.
“Harus. Kalau sudah ada penindakan, mau direboisasi atau tidak oleh pelakunya, provinsi pasti mereboisasi,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, sebuah video beredar di media sosial yang memperlihatkan kondisi memprihatinkan kawasan karst di atas mata air Sodong, Desa Linggarmukti, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.
Berdasarkan unggahan akun Instagram @bogor.terkini, hamparan hijau pegunungan kapur yang dulunya rimbun dengan pepohonan kini tampak gundul, rata dengan tanah akibat aktivitas yang diduga kuat adalah pengerukan karst.
Kondisi ini diperparah dengan dugaan kuat bahwa penggundulan hutan lindung di kawasan karst inilah yang menjadi penyebab banjirnya mata air Sodong pada November 2024 lalu, yang merugikan masyarakat sekitar.
“Kawasan karst gunung kapur yang dulunya hijau dan penuh pepohonan, kini terlihat gundul alias rata dengan tanah. Gundulnya kawasan hutan lindung ini juga disinyalir yang menjadi penyebab banjirnya mata air di bawah pada November 2024 silam,” tulis keterangannya @bogor.terkini, dikutip Sabtu (12/4/2025).
Bukan hanya itu, kerusakan lingkungan ini juga mengancam keberadaan fauna endemik langka, yaitu ikan buta Barbodes klapanunggalensis.
Ikan unik yang ditemukan oleh peneliti BRIN di Goa Cisodong ini terancam punah akibat masifnya aktivitas pengerukan karst yang merusak habitat alaminya.
“Bahkan, hewan endemik langka, ikan buta Barbodes klapanunggalensis yang ditemukan peneliti BRIN di Goa Cisodong juga ikut terancam punah akibat aktivitas pengerukan karst yang masif,” katanya.
Kondisi ini sontak memantik reaksi dari warganet. Banyak yang menyoroti dan meminta perhatian Dedi Mulyadi, yang dikenal memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.
Melalui kolom komentar di media sosial, sejumlah warganet mendesak Dedi Mulyadi untuk turun tangan dan mengatasi persoalan ini.
“Kalau KDM no respon, berarti yg punya power nya lebih kuat dari KDM,” tulis akun @dorisnovel.
“Kang @dedimulyadi71 ini bisa diberesin kan?” tanya @broy_11.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











