bukamata.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai kebijakan sayembara berhadiah bagi warga yang membantu menangkap pelaku kejahatan merupakan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan budaya masyarakat Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Dedi saat ditemui awak media di Sport Jabar, Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (24/7/2026), menanggapi kebijakan sayembara bagi warga yang berhasil menangkap pelaku begal dan tindak kriminal lainnya.
Menurut Dedi, budaya pemberian hadiah telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terbukti mampu mendorong semangat seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.
“Karena begini, tradisi bangsa kita itu tradisi hadiah. Di sekolah, kalau ada ranking pertama dan diumumkan, belajarnya jadi rajin. Kemudian daerah, kalau dilombakan, juga jadi rajin,” ujar Dedi.
Ia menjelaskan, konsep yang sama diterapkan dalam program sayembara agar masyarakat terdorong menjaga keamanan lingkungan sekaligus menyerahkan pelaku kejahatan kepada aparat penegak hukum, bukan melakukan aksi main hakim sendiri.
“Logikanya sederhana. Misalnya ada maling motor, jangan digebuki sampai mati. Kalau ada sayembara dari saya, tidak usah digebuki sampai mati, lumayan, Rp10 juta kalau diantarkan. Itu secara psikologis akan memengaruhi,” katanya.
Dedi berharap kebijakan tersebut dapat menghidupkan kembali budaya ronda dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keamanan di lingkungan masing-masing.
“Jadi ini dibuat untuk memicu orang, misalnya ronda. Sudah, ronda saja. Nanti kalau ada maling ayam, kan lumayan. Nah, yang seperti itu harus memacu warga kita. Warga kita kan belum seperti warga di negara maju lainnya. Kita harus terus dimotivasi,” ucapnya.
Meski demikian, Dedi menegaskan hadiah hanya akan diberikan kepada warga yang menyerahkan pelaku kepada kepolisian dalam keadaan hidup dan setelah pelaku ditetapkan sebagai tersangka.
“Nanti yang diberi hadiah itu yang sudah memenuhi kualifikasi dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres. Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh. Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah,” tegasnya.
Menanggapi anggapan bahwa sayembara dapat mendorong masyarakat bersikap pragmatis, Dedi menilai pemberian insentif merupakan hal yang wajar karena hampir setiap pekerjaan juga disertai penghargaan.
“Pertanyaan saya, mana sih yang sekarang tidak ada pragmatis? Orang bekerja juga ingin ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang patroli sudah mulai ramai,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









