Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi video syur

Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes

Jumat, 9 Oktober 2026 14:03 WIB

Total Hadiah Fantastis! Ajang Anugerah Jurnalistik KPU RI 2026 Resmi Dibuka, Simak Kategori Barunya

Jumat, 9 Oktober 2026 13:51 WIB

Ban Diduga Pecah, Mobil Hantam Tembok Bandung Zoo hingga Roboh!

Jumat, 9 Oktober 2026 13:29 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
  • Total Hadiah Fantastis! Ajang Anugerah Jurnalistik KPU RI 2026 Resmi Dibuka, Simak Kategori Barunya
  • Ban Diduga Pecah, Mobil Hantam Tembok Bandung Zoo hingga Roboh!
  • Terungkap! Mantan Koki di Amerika Tanam Ganja di Rooftop Rumah di Bandung
  • Sampel Makanan Raib, Misteri Dugaan Keracunan Massal di Restoran 88 Seoul Bandung Belum Terpecahkan
  • Berawal dari Protes Kartu Kuning, Ini Kronologi Lengkap Dugaan Rasisme yang Timpa Gabriel Mutombo
  • Persib Tuntaskan Mimpi Buruk Port FC, Dominasi Thailand dari Indonesia Berakhir?
  • Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Kapan Cair? Ini Jadwal, Nominal, dan Cara Ceknya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 9 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dedi Mulyadi Sebut Transparansi Anggaran Bohong, Kenapa?

By SusanaSelasa, 18 Februari 2025 11:30 WIB2 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: YouTube.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat terpilih periode 2025-2030, Dedi Mulyadi, menegaskan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah untuk memastikan bahwa dana publik digunakan secara efisien dan tepat sasaran.

Dedi mengungkapkan bahwa selama ini banyak anggaran yang seharusnya untuk sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, dan penanganan kemiskinan, justru sering disalahgunakan untuk kegiatan yang tidak relevan, seperti seminar, studi banding, atau analisis yang tidak memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

“Seringkali kita terjebak dengan ungkapan anggaran pendidikan 40%, anggaran kesehatan 30%, anggaran penanganan masyarakat miskin 40%, kalimat-kalimat itu belum tentu benar,” kata Dedi Mulyadi, dikutip dari Instagram @dedimulyadi71, Selasa (18/2/2025).

Ia menyebutkan bahwa anggaran pendidikan, misalnya, sering kali tidak sepenuhnya digunakan untuk pengadaan buku yang layak untuk anak-anak sekolah, pembangunan ruang kelas baru, atau fasilitas pendidikan lainnya.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Serius Bangun Iklim Investasi yang Baik di Jabar

Sebaliknya, anggaran tersebut seringkali dialihkan untuk kegiatan seperti studi banding atau seminar yang tidak memberikan manfaat signifikan bagi dunia pendidikan.

Begitu pula dengan anggaran kesehatan dan kemiskinan. Menurut Dedi, meskipun anggaran untuk kesehatan dan penanggulangan kemiskinan cukup besar, seringkali dana tersebut tidak digunakan untuk membeli alat kesehatan, membangun infrastruktur kesehatan, atau menyediakan layanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Baca Juga:  Gunting Guru BK vs Air Mata Siswi! Skandal 'Salon Paksa' di SMKN 2 Garut Meledak

Alih-alih, anggaran tersebut digunakan untuk kegiatan administratif yang tidak langsung berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, seperti seminar atau pengarahan.

“Anggaran kemiskinan juga bisa begitu, judulnya penanganan kemiskinan isinya seminar di hotel, isinya studi banding,” tambahnya.

Sebagai solusinya, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pembangunan analisis anggaran yang terbuka dan transparan kepada masyarakat.

Menurutnya, setelah dana terkumpul, anggaran harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan nyata masyarakat, seperti pembangunan ruang kelas atau infrastruktur yang mendukung sektor pendidikan dan kesehatan.

“Misalnya saya di Provinsi Jawa Barat, butuh ruang kelas apa TIK. Ruang kelasnya 60 miliar, TIK-nya 730 miliar. Ya butuh ruang kelas dong, ruang kelasnya yang harusnya 730 miliar, bukan TIK-nya,” jelas Dedi, memberikan contoh konkret tentang alokasi anggaran yang tepat.

Baca Juga:  Sani Aqila, 'Ibu Kelinci' Dedi Mulyadi Resmi Menikah

Sebagai Gubernur Jabar terpilih, Dedi Mulyadi juga menekankan pentingnya keterbukaan anggaran di semua lembaga pemerintah, dari pusat hingga daerah.

Ia menyarankan agar anggaran dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat, bahkan hingga tingkat satuan tiga di portal masing-masing lembaga pemerintah.

“Kalau itu gak diberikan, wah bohong transparansi,” tegasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

anggaran Dedi Mulyadi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi video syur

Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes

Total Hadiah Fantastis! Ajang Anugerah Jurnalistik KPU RI 2026 Resmi Dibuka, Simak Kategori Barunya

Ban Diduga Pecah, Mobil Hantam Tembok Bandung Zoo hingga Roboh!

Terungkap! Mantan Koki di Amerika Tanam Ganja di Rooftop Rumah di Bandung

Sampel Makanan Raib, Misteri Dugaan Keracunan Massal di Restoran 88 Seoul Bandung Belum Terpecahkan

JNE Raih Sertifikasi Halal dari BPJPH, Begini Standar Baru Layanan Logistiknya

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.