Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update Terbaru! Kode Redeem ML 17 April 2026: Dapatkan Skin Epic dan Fragmen Langka Secara Gratis

Jumat, 17 April 2026 06:00 WIB

Buruan! 100+ Kode Redeem FF April 2026 Masih Aktif, Hadiah Skin Langka Menanti

Jumat, 17 April 2026 05:00 WIB

Kuliner Pagi Bandung Lagi Viral, Ini 3 Spot Sarapan Favorit Warga

Jumat, 17 April 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update Terbaru! Kode Redeem ML 17 April 2026: Dapatkan Skin Epic dan Fragmen Langka Secara Gratis
  • Buruan! 100+ Kode Redeem FF April 2026 Masih Aktif, Hadiah Skin Langka Menanti
  • Kuliner Pagi Bandung Lagi Viral, Ini 3 Spot Sarapan Favorit Warga
  • Sekali Klik Bisa Kena! Link Viral Ini Ancam Rekening dan Data Pribadi
  • Banjir Pemain Bintang! Kode Redeem FC Mobile 17 April 2026: Klaim Pack Spesial dan Jutaan Koin Sekarang!
  • Siap Booyah! Kode Redeem FF 17 April 2026: Klaim Bundle Arctic Blue dan Diamond Voucher Gratis Sekarang!
  • Skenario Final Ideal? Intip Jadwal Panas Semifinal Liga Champions: PSG vs Bayern & Atletico vs Arsenal
  • Sentilan Bojan Hodak: Di Eropa Klub Divisi 7 Punya Lapangan Sendiri, Persib Harus Lebih Profesional!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 17 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dedi Mulyadi Tantang Purbaya Buka Data Daerah yang Simpan APBD di Deposito

By Aga GustianaSenin, 20 Oktober 2025 20:26 WIB4 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. (Foto: bukamata.id/Rizal Fadillah)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melempar tantangan terbuka kepada Menteri Purbaya Yudhi Sadewa untuk mempublikasikan data lengkap daerah-daerah yang menyimpan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam bentuk deposito.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2025 yang digelar di kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (20/10/2025). Dalam rapat tersebut, Purbaya menyebut data Bank Indonesia per 15 Oktober 2025, yang mengungkap 15 daerah masih menyimpan dana mereka di bank. Beberapa di antaranya adalah DKI Jakarta Rp14,683 triliun, Jawa Timur Rp6,8 triliun, dan Jawa Barat Rp4,17 triliun.

“Saya Tantang Pak Menkeu untuk Membuka Data dan Faktanya”

Menanggapi data tersebut, Dedi menyatakan telah mengecek secara langsung kondisi keuangan Pemprov Jabar.

“Saya sudah cek tidak ada yang disimpan dalam deposito. Saya tantang Pak Menkeu [Purbaya] untuk membuka data dan faktanya, daerah mana yang menyimpan dana dalam bentuk deposito,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini pemerintah daerah justru tengah berada dalam fase percepatan belanja publik, bukan menahan dana. Ia menegaskan tidak semua daerah mengalami kendala dalam merealisasikan anggaran.

“Di antara kabupaten kota dan provinsi yang jumlahnya sangat banyak ini, pasti ada yang bisa melakukan pengelolaan keuangan dengan baik, bisa membelanjakan, belanja kepentingan masyarakatnya dengan baik. Dan bisa jadi juga ada daerah-daerah yang tidak bisa membelanjakan keuangan daerahnya dengan baik,” tuturnya.

Baca Juga:  Kinerja Fiskal Jabar Turun, Sekda Bilang Hoaks, Pakar: Itu Fakta dan Ada Dampak Kebijakan KDM

Masalah Dana Mengendap dan Opini Publik

Meski begitu, Dedi tidak menutup kemungkinan ada provinsi atau kabupaten/kota yang memang menyimpan uang dalam bentuk deposito.

“Nah, tentunya ini adalah sebuah problem yang harus diungkap secara terbuka dan diumumkan kepada publik secara terbuka, sehingga tidak membangun opini bahwa seolah-olah daerah ini tidak memiliki kemampuan dalam melakukan pengelolaan keuangan,” katanya.

Ia menilai opini yang berkembang saat ini bisa merugikan daerah yang sebenarnya sudah bekerja baik dalam mengelola anggaran.

“Hal ini akan sangat merugikan daerah-daerah yang bekerja dengan baik. Efeknya adalah kalau semuanya dianggap menjadi sama, daerah yang bekerja dengan baik akan mengalami problematika pengelolaan keuangan, sehingga daerahnya terus-menerus mengalami penurunan daya dukung fiskal dan ini sangat berefek buruk bagi kinerja pembangunannya,” tegasnya.

Baca Juga:  35 Tahun Tak Jumpa, Dedi Mulyadi Bertemu Lagi dengan Cinta Pertamanya Kokom Komariah

Usul Publikasi Daerah Penyimpan Dana

Terkait dugaan dana sekitar Rp200 triliun yang masih mengendap di bank, Dedi menyarankan agar pemerintah pusat secara terbuka mengumumkan daerah mana saja yang belum membelanjakan anggarannya.

“Sebaiknya daripada menjadi spekulasi yang membangun opini negatif tentang kinerja pemerintah daerah secara keseluruhan, umumkan saja daerah-daerah mana saja yang belum membelanjakan keuangannya dengan baik dan uangnya masih tersimpan dengan baik, bahkan ada yang disimpan dalam bentuk deposito,” tuturnya.

Ia juga mendorong Purbaya untuk bersikap adil.

“Nah, hal ini sangat penting, untuk apa? Untuk menghormati daerah-daerah yang bekerja dengan baik,” pungkasnya.

Data BI vs Kemendagri: Ada Selisih Rp18 Triliun

Sebelumnya, Purbaya mengungkap bahwa sejumlah pemda menyimpan dana mereka bukan di Bank Pembangunan Daerah (BPD), tetapi di Bank Jakarta.

Berdasarkan data Bank Indonesia yang diolah Kemendagri, total dana yang mengendap di rekening kas daerah mencapai Rp233 triliun. Rinciannya:

  • Pemerintah kabupaten: Rp134,2 triliun
  • Pemerintah provinsi: Rp60,2 triliun
  • Pemerintah kota: Rp39,5 triliun
Baca Juga:  Dedi Mulyadi Geram Temukan Tambang Ilegal di Subang, Semprot Kinerja Satpol PP dan Dinas ESDM Jabar

Namun, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menilai data tersebut belum akurat. Ia mencontohkan Pemkot Banjar Baru yang disebut memiliki simpanan Rp5,1 triliun, padahal pendapatannya tidak sampai Rp5 triliun.

Setelah dilakukan pengecekan langsung ke rekening kas pemda, Kemendagri menemukan bahwa total dana mengendap hanya Rp215 triliun, dengan rincian:

  • Provinsi: Rp64 triliun
  • Kabupaten: Rp119,9 triliun
  • Kota: Rp30,1 triliun

Ada selisih sekitar Rp18 triliun antara data BI dan hasil verifikasi Kemendagri.

Faktor Penyebab Dana Mengendap

Tito menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat simpanan kas daerah masih tinggi, di antaranya:

  • Efisiensi sesuai Instruksi Presiden (Inpres) No.1/2025
  • Penyesuaian visi-misi kepala daerah terpilih
  • Kendala administratif
  • Penyesuaian penggunaan e-Katalog versi terbaru

Kesimpulan

Pernyataan Dedi Mulyadi memunculkan desakan transparansi yang lebih besar terhadap pengelolaan dana daerah. Tantangan terbuka kepada Purbaya untuk mempublikasikan data daerah penyimpan deposito bisa menjadi momentum memperbaiki opini publik dan mendorong efisiensi fiskal di tingkat daerah.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Dana Daerah Dedi Mulyadi Deposito Kemendagri Purbaya Yudhi Sadewa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Promo HUT Kota Sukabumi 2026 dari bank bjb, Kuliner dan Ngopi Jadi Lebih Hemat!

Program DPLK bank bjb Bertabur Hadiah 2026, Total Reward Capai Rp40 Juta

Rafael Situmorang Soroti Reformasi Kepolisian dan Perlindungan Kelompok Rentan

Ilustrasi korban meninggal.

Geger! Kerangka Manusia Ditemukan di Bawah Jembatan Dayeuhkolot

Modus Cinta Berujung Penipuan di Batujajar, Motor Dibawa Kabur Usai Diajak Belanja

Spionase di Tengah Gencatan Senjata: Iran Ringkus Kuartet Terduga Mata-mata Israel

Terpopuler
  • Link Video Diburu Netizen, Fakta di Balik Ibu Tiri vs Anak Tiri Terbongkar
  • Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri, Fakta Asli dari Kebun Sawit hingga Dapur Terungkap
  • Update Kode Redeem FF 12 April 2026: Buruan Ambil Skin Titan & Emote Langka Hari Ini!
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Terbongkar! Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Ternyata Bukan Cerita Asli
  • Viral! Link Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Full Durasi No Sensor dari Kebun Sawit ke Dapur
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.