bukamata.id – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan penampilan grup drumband dalam perayaan Gebyar Muharram di salah satu madrasah di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.
Aksi penari perempuan dengan busana rok mini hingga gaya mayoret yang dinilai “patah-patah” saat berjoget, memicu perdebatan publik dan dikaitkan dengan fenomena baru dalam dunia marching band yang kian banyak menampilkan unsur tarian dan goyangan.
Video penampilan tersebut pertama kali ramai beredar di berbagai platform media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @beritasemaranghariini. Dalam narasinya, penampilan tersebut menjadi sorotan karena dianggap tidak sepenuhnya selaras dengan nuansa acara keagamaan Tahun Baru Islam.
“Perayaan Gebyar Muharram ke-16 yang digelar salah satu sekolah di Mranggen, Demak, menuai sorotan setelah dalam rangkaian acara tersebut ditampilkan pertunjukan tarian yang dinilai tidak sejalan dengan identitas, nilai, serta karakter lembaga pendidikan,” tulis akun tersebut.
Busana Penari dan Aksi Joget Jadi Sorotan
Dalam video yang beredar luas, terlihat para penari drumband perempuan mengenakan kostum putih lengan panjang dipadukan dengan rok biru muda berpotongan mini. Saat penampilan berlangsung, gerakan joget yang cukup energik membuat sebagian warganet menyoroti sisi busana yang dinilai kurang tepat untuk konteks acara.
Tidak hanya itu, aksi mayoret dan penari yang menampilkan gerakan patah-patah atau koreografi modern juga menjadi perhatian tersendiri di ruang komentar media sosial.
Warganet Ramai: Dari Keprihatinan hingga Kritik
Kolom komentar di unggahan tersebut dipenuhi beragam respons warganet. Sebagian mengaku terkejut, sementara lainnya menyampaikan kritik terhadap konsep penampilan.
“Ikut sedih dan prihatin,” tulis akun @goa***
“Astagfirullah konsep nya bagaimana ini,” tulis akun @adv***
“Perasaan dulu marchingband gak goyang pinggul gitu deh ya,” tulis akun @niq***
“Dia yg pake rok mini gw yg malu njir,” tulis akun @cem***
Perdebatan pun mengarah pada pertanyaan lebih luas: apakah perubahan gaya penampilan drumband saat ini sudah melampaui batas estetika tradisional marching band?
Klarifikasi Pihak Sekolah: Bukan dari Siswa Pelajar
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala MTs NU Mranggen, Muhamad Abdul Kodir, memberikan penjelasan bahwa kegiatan Gebyar Muharram tersebut dilaksanakan pada Selasa (16/6/2026) di halaman MTs-MA NU Mranggen, Kabupaten Demak.
Kodir menegaskan bahwa acara tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang sudah memasuki edisi ke-16.
“Itu acara menyambut tahun baru Hijriah. Nggih. Itu kan kalau sesuai di judulnya kan itu acara yang ke-16,” ujar Kodir.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penampilan drumband yang viral di media sosial bukan berasal dari kelompok pelajar madrasah, melainkan dari grup drumband umum yang diundang dalam kegiatan tersebut.
“Yang viral itu bukan drumband pelajar, baik itu bukan pelajar dari MTs NU maupun pelajar dari luar, tapi itu notabene adalah tampilan dari drumband umum,” jelasnya.
Kuota Pelajar Tidak Terpenuhi, Drumband Umum Dilibatkan
Dalam keterangannya, pihak sekolah juga mengungkapkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan ini lebih banyak melibatkan grup drumband dari kalangan pelajar. Namun pada pelaksanaan tahun ini, jumlah peserta pelajar tidak terpenuhi.
“Untuk drumband remaja itu cenderung istilahnya kayak mati suri ya… biasanya ada porsi untuk pelajar dan umum,” kata Kodir.
Karena minimnya partisipasi pelajar, panitia akhirnya membuka ruang lebih besar bagi grup drumband umum.
Total terdapat 26 grup drumband yang tampil dalam acara tersebut, dengan rincian:
- 1 grup dari MTs NU
- 2 grup dari TK
- Sisanya berasal dari kalangan umum
“Sisanya itu umum,” tambah Kodir.
Sudah Diingatkan Soal Etika Penampilan
Pihak madrasah mengaku telah memberikan imbauan sejak awal pelaksanaan kegiatan, termasuk pada saat technical meeting, agar seluruh peserta menjaga etika penampilan.
“Kita di awal sudah menyampaikan… untuk bisa tampil dengan menjaga etika, menjaga kondusivitas, menjaga ketertiban,” ungkapnya.
Namun, ia mengakui tidak menyangka akan ada penampilan yang kemudian menjadi sorotan publik seperti dalam video yang viral tersebut.
Fenomena Baru Marching Band: Dari Formasi ke Koreografi Joget
Viralnya penampilan ini turut mengangkat kembali fenomena yang lebih luas dalam dunia marching band modern. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penampilan drumband di berbagai daerah memang mulai memasukkan unsur koreografi tarian, goyangan, hingga gaya mayoret yang lebih ekspresif.
Perubahan ini dinilai sebagian pihak sebagai bentuk inovasi hiburan agar penampilan lebih menarik dan tidak monoton. Namun di sisi lain, muncul kritik bahwa unsur tersebut mulai menjauh dari karakter klasik marching band yang identik dengan disiplin formasi dan ketukan musik.
Fenomena “mayoret joget patah-patah” yang kini sering muncul di media sosial menjadi salah satu contoh bagaimana seni pertunjukan pelajar berkembang mengikuti tren hiburan digital, terutama yang berpotensi viral di platform seperti TikTok.
Permintaan Maaf dan Evaluasi Kegiatan
Atas polemik yang terjadi, pihak MTs NU Mranggen menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan berjanji akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang.
“Kami mohon maaf atas kegaduhan ini dan akan menjadi introspeksi bagi kami untuk event berikutnya,” ujar Kodir.
Ia menegaskan pentingnya evaluasi agar kegiatan drumband di wilayah Mranggen dan sekitarnya tetap bisa tampil lebih baik tanpa mengabaikan etika dan nilai yang berlaku di lingkungan pendidikan.
Penutup
Peristiwa viral di Demak ini tidak hanya soal penampilan drumband, tetapi juga membuka diskusi lebih luas tentang batas antara kreativitas, tren hiburan, dan etika dalam kegiatan sekolah. Di era digital saat ini, setiap penampilan publik tidak lagi berhenti di panggung acara, tetapi langsung menjadi konsumsi viral yang bisa memicu perdebatan nasional dalam hitungan jam.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








