bukamata.id – Saat nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp17.600 per dolar AS, nama Bacharuddin Jusuf Habibie kembali ramai diperbincangkan publik.
Di media sosial, banyak warganet membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan masa krisis 1998 ketika Indonesia berada di titik paling genting. Di tengah kehancuran ekonomi kala itu, muncul satu sosok yang justru berasal dari dunia teknik, bukan ekonomi: BJ Habibie.
Ia tidak pernah belajar ekonomi secara formal. Namun dalam waktu singkat, Habibie mampu membawa rupiah perlahan bangkit dari jurang krisis. Lebih dari itu, ia mengambil keputusan yang dianggap paling menyakitkan dalam hidupnya: menghentikan proyek pesawat nasional demi menyelamatkan negara.
Bagi sebagian generasi muda, nama BJ Habibie mungkin hanya dikenal sebagai tokoh film romantis “Ainun dan Habibie”. Padahal di balik kisah cintanya, Habibie adalah ilmuwan kelas dunia, perancang pesawat, sekaligus presiden yang mewarisi salah satu krisis ekonomi paling parah dalam sejarah Indonesia.
Dari Parepare Menuju Jerman
BJ Habibie lahir di Parepare pada 25 Juni 1936. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kecerdasan luar biasa, terutama dalam bidang matematika dan teknologi.
Setelah menempuh pendidikan di Indonesia, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan ke Jerman. Di negeri itu, kariernya melesat sangat cepat. Ia bahkan dipercaya bekerja di industri dirgantara Eropa dan berhasil menciptakan teori retakan pesawat yang kemudian dikenal sebagai “Teori Habibie”.
Penemuan tersebut membuat namanya diperhitungkan dalam dunia penerbangan internasional.
Namun di tengah karier cemerlangnya di Jerman, Habibie memilih pulang ke Indonesia pada 1973 setelah dipanggil Presiden Soeharto.
Keputusan itu menjadi awal dari mimpi besar Habibie: membangun industri teknologi tinggi Indonesia.
Membangun Mimpi Bernama Pesawat Nasional
Pada 1976, Habibie mendirikan Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian berubah menjadi IPTN dan kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia.
Dari tempat inilah lahir berbagai proyek pesawat kebanggaan nasional, termasuk CN-235 dan N250 Gatotkaca.
Pesawat CN-235 merupakan hasil kerja sama Indonesia dengan perusahaan Spanyol CASA. Sementara N250 menjadi simbol ambisi besar Indonesia untuk sejajar dengan negara maju dalam industri penerbangan dunia.
Saat N250 sukses terbang perdana pada 1995, Indonesia menjadi sorotan dunia. Banyak negara mulai melirik kemampuan teknologi Indonesia. Bahkan pesawat buatan Habibie sempat diekspor ke Qatar, Pakistan, Thailand, Filipina hingga Korea Selatan.
Habibie percaya bahwa penguasaan teknologi adalah jalan menuju kemerdekaan ekonomi bangsa.
Krisis Moneter dan Runtuhnya Rupiah
Namun mimpi besar itu harus berbenturan dengan kenyataan pahit.
Pada 1997–1998, Indonesia dihantam krisis moneter Asia. Rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.500 per dolar AS anjlok drastis hingga menembus lebih dari Rp16.800 per dolar AS.
Harga kebutuhan pokok melambung. Banyak perusahaan bangkrut. Pengangguran meningkat tajam. Kepercayaan investor runtuh.
Kini, ketika rupiah kembali menyentuh Rp17.600 per dolar AS, banyak masyarakat mengingat kembali masa kelam tersebut.
Ekonomi Indonesia memang masih sangat bergantung pada impor bahan baku. Ketika dolar menguat, biaya produksi industri ikut melonjak. Dampaknya terasa langsung pada harga kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Di tengah situasi kacau itulah, Habibie naik menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto pada 1998.
Presiden Teknik yang Menyelamatkan Ekonomi
Banyak pihak awalnya meragukan Habibie. Ia dikenal sebagai ahli pesawat, bukan ekonom.
Namun justru di tangan Habibie, berbagai langkah penting dilakukan untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Dalam masa pemerintahan yang hanya sekitar 17 bulan, Habibie melakukan reformasi besar:
- Membentuk independensi Bank Indonesia
- Merestrukturisasi perbankan nasional
- Mendorong lahirnya Bank Mandiri dari penggabungan bank-bank bermasalah
- Menstabilkan politik nasional pasca-reformasi
- Memulihkan kepercayaan investor asing
Hasilnya mulai terlihat. Rupiah perlahan menguat hingga berada di kisaran Rp6.550 per dolar AS.
Banyak ekonom menilai stabilitas tersebut menjadi fondasi penting kebangkitan ekonomi Indonesia pasca-krisis.
Pengorbanan Terbesar: Menghentikan N250
Di balik keberhasilan itu, ada pengorbanan yang sangat besar.
Salah satu syarat bantuan IMF kepada Indonesia saat itu adalah penghentian subsidi terhadap proyek-proyek strategis yang dianggap membebani anggaran negara, termasuk IPTN dan proyek N250.
Bagi Habibie, keputusan itu seperti menghancurkan mimpinya sendiri.
N250 bukan sekadar pesawat. Itu adalah simbol perjuangan hidupnya selama puluhan tahun. Namun sebagai presiden, Habibie memilih mengutamakan keselamatan ekonomi rakyat dibanding ambisi pribadinya.
Ia rela menghentikan proyek yang paling dicintainya demi menyelamatkan rupiah dan menjaga Indonesia tetap berdiri.
Keputusan tersebut hingga kini masih dikenang sebagai salah satu bentuk nasionalisme terbesar dalam sejarah modern Indonesia.
Warganet Bandingkan dengan Kondisi Sekarang
Di tengah melemahnya rupiah saat ini, sebagian warganet kemudian membandingkan gaya kepemimpinan Habibie yang kala itu rela menghentikan proyek pesawat nasional N250 demi menjaga stabilitas ekonomi negara.
Narasi tersebut berkembang luas di media sosial. Banyak publik melihat keputusan Habibie sebagai simbol bahwa kepentingan ekonomi nasional ditempatkan di atas ambisi proyek besar negara.
Komentar-komentar bernada kritik pun bermunculan di media sosial. Ada yang meminta pemerintah mengevaluasi program-program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih agar anggaran negara lebih fokus menjaga kestabilan ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Komentar-komentar itu ramai dikutip dari Instagram @mental_juara, Rabu (20/5/2026).
“Cukup BUTUH 2 thn DOANG EKONOMI INDONESIA SDH KEMBALI MEMBAIK THN 2000 THN INDONESIA MILENIUM!! NEVER FORGET,” tulis akun @rf***
“Stop mog dan kopdes skrg jg! Rampingkan dan resuffle kabinet, yakin dolar akan turun ke level 16 ribuan,” tulis akun @gar***
“ORDE MBG skrg presidennya sgt egois mikir proyeknya sendiri,” tulis akun @nov***
Perbandingan tersebut muncul karena banyak publik melihat Habibie sebagai pemimpin yang rela mengorbankan proyek kebanggaannya demi kepentingan negara.
Habibie dan Warisan yang Tak Pernah Mati
BJ Habibie meninggal dunia pada 11 September 2019 akibat gagal jantung. Ia dimakamkan di samping istrinya, Hasri Ainun Habibie, di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Namun warisan Habibie tidak pernah benar-benar hilang.
Ia meninggalkan semangat bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara maju melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pesawat N250 memang tidak lagi mengudara. Tetapi mimpi besar Habibie tetap hidup melalui generasi muda, industri dirgantara Indonesia, dan sosok-sosok yang percaya bahwa kemajuan bangsa tidak lahir dari rasa takut.
Di tengah situasi rupiah yang kembali melemah hari ini, nama Habibie kembali dikenang bukan hanya sebagai ilmuwan jenius, melainkan juga negarawan yang rela mengorbankan mimpinya demi menyelamatkan Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









