bukamata.id – Raihan trofi beruntun selama tiga musim berturut-turut (2023/24, 2024/25, dan 2025/26) di bawah arahan pelatih Bojan Hodak tak lantas membuat PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) tergesa-gesa menggelontorkan anggaran besar-besaran untuk infrastruktur. Manajemen klub memilih mengambil langkah rasional dan terukur dalam mengelola arus kas perusahaan.
Isu keterbatasan fasilitas latihan belakangan kembali mengemuka menyusul pernyataan gelandang Thom Haye usai laga kontra Dewa United pada 11 Oktober 2026 yang berakhir imbang 2-2 di ajang Super League. Pemain yang berlaga di empat kompetisi sekaligus musim ini mengaku lebih nyaman menjalani proses pemulihan kondisi fisik di tempat kebugaran pribadi milik Marc Klok karena menganggap sarana pendukung di internal tim belum memadai.
Menanggapi sorotan publik serta kritik dari internal tim—termasuk penilaian asisten pelatih Igor Tolić mengenai kualitas lapangan latihan serta keluhan durasi perjalanan menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA)—Deputy CEO PT PBB, Adhitia Putra Herawan, memberikan penjelasan gamblang.
Adhitia mengungkapkan bahwa aspek kesehatan finansial perusahaan menjadi alasan utama di balik keputusan manajemen mendahulukan komposisi skuad ketimbang pembangunan sarana fisik secara langsung.
“Kita tahu di industri kita ini belum money making. Sehingga investasinya mesti kita balance. Maka dari itu investasinya paling utama kita ke tim dulu karena kita ingin juara,” kata Adhitia.
“Beli pemain, make sure pemain yang kita beli adalah pemain-pemain terbaik. Investasinya ke situ dulu karena uang kita terbatas,” lanjutnya.
Kondisi keuangan saat ia pertama kali memangku jabatan sebagai Sporting Director pada 2024 menjadi pertimbangan krusial. Menurutnya, neraca keuangan Maung Bandung kala itu sempat mencatatkan defisit yang sangat signifikan.
“Ketika 2024, ketika saya diminta untuk memimpin sebagai Sporting Director, minus perusahaan saat itu minus hampir 100 miliar. Bayangin dengan minus 100 miliar mau bikin apa? Mau bayar pemain juga was-was. Mau uang dari mana?” ungkap Adhitia.
“Persib itu bukan klub kaya, Persib itu klub sehat. Kami itu berusaha menjadi klub sehat. Persib ingin menjadi klub sehat, sehingga kami berusaha mem-balance. Ketika kami ingin membangun infrastruktur, kita harus menyeimbangkan mana dulu prioritasnya, dan itu butuh uang dan butuh waktu,” lanjutnya.
Adhitia menegaskan bahwa manajemen sebetulnya bisa saja menggantungkan kebutuhan anggaran kepada jajaran pimpinan tertinggi seperti Glenn Sugita. Namun, Persib berkomitmen membangun pondasi organisasi yang mandiri dan berkelanjutan secara bisnis.
“Bisa aja minta ke Pak Glen, tapi kita ingin menjadi klub yang sustainable. Makanya prioritas pertama di tahun pertama saya rapihin dulu keuangannya. Akhirnya fasilitas kita bertahap, gak langsung jedar-jedor,” imbuhnya.
Penataan infrastruktur olahraga memang memerlukan kapital yang tidak sedikit. Sebagai gambaran, pembuatan satu unit lapangan latihan berstandar membutuhkan dana berkisar Rp5 hingga Rp6 miliar, di luar biaya pengadaan lahan dan bangunan pendukung.
Meski dilakukan bertahap, proses pembenahan terus berjalan. Sejak Mei 2026, Pangeran Biru tak lagi berpindah-pindah lokasi latihan setelah mengamankan penggunaan Lapangan Pendamping. Selain itu, hak pengelolaan Stadion GBLA selama 30 tahun juga telah resmi dikantongi klub.
Di tengah penataan internal tersebut, fokus Pangeran Biru kini terbagi pada jadwal kompetisi yang amat padat. Skuad asuhan Bojan Hodak dijadwalkan menghadapi Madura United pada 22 Oktober, Garudayaksa FC pada 26 Oktober, serta bentrokan krusial meladeni Melbourne Victory di ajang AFC Champions League Two pada 28 Oktober.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











