Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

7 Sport Center di Bandung dengan Fasilitas Lengkap, Ada Kolam Renang hingga Padel

Sabtu, 17 Oktober 2026 02:00 WIB
Bansos

Menunggu BLT Kesra Rp900 Ribu? Ini Fakta Terbaru dan Link Cek Bansos Kemensos

Sabtu, 17 Oktober 2026 01:00 WIB

100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?

Jumat, 16 Oktober 2026 21:01 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • 7 Sport Center di Bandung dengan Fasilitas Lengkap, Ada Kolam Renang hingga Padel
  • Menunggu BLT Kesra Rp900 Ribu? Ini Fakta Terbaru dan Link Cek Bansos Kemensos
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Target 4 Perunggu Asian Para Games 2026, Indonesia Awali Perjuangan dengan Dua Kemenangan
  • IHSG Terjun ke Level 5.185, Kapolri Perintahkan Bareskrim Selidiki Dugaan Pidana
  • Tragedi Kebakaran Bromo! 4 Orang Tewas, Petugas TNBTS dan Relawan Terjebak Kobaran Api
  • Dana Bencana Rp148 Miliar Diduga Dikorupsi, Adik Eks Kepala BNPB Jadi Tersangka
  • Kabar Duka! Aktor Senior Yadi Timo Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Diagnosis Pahit vs Harapan Ibu: Mengapa Dokter Bilang Jangan Menyerah pada Rana?

By SusanaSenin, 9 Februari 2026 19:58 WIB4 Mins Read
Bayi cantik viral bernama Rana. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Masih ingat dengan bayi cantik viral bernama Rana? Parasnya yang bak boneka sempat membuat jagat media sosial terpikat. Namun di balik wajah mungil nan memesona itu, tersimpan kisah perjuangan yang menggetarkan hati.

Dalam potongan video yang beredar luas, Rana terlihat lebih banyak diam dan belum merespons seperti bayi seusianya. Tatapan matanya kosong, tubuhnya jarang bergerak. Banyak warganet bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada bayi perempuan tersebut?

Fakta pahit pun terungkap. Rana, yang kini berusia 9 bulan, didiagnosis mengidap craniosynostosis, kelainan langka yang menyebabkan tulang tengkorak menutup terlalu cepat. Kondisi ini berisiko besar menghambat pertumbuhan otak dan perkembangan sistem saraf.

Detik-detik Awal yang Menjadi Titik Balik

Ibu Rana, Vina Dorika, mengisahkan bahwa putrinya lahir secara normal dengan berat badan 3,9 kilogram. Harapan dan kebahagiaan menyelimuti keluarga saat itu. Namun, sesaat setelah dilahirkan, kondisi Rana berubah drastis.

Tubuhnya sempat membiru dan tangisnya terdengar lemah. Rana harus segera dirujuk ke rumah sakit dan menjalani perawatan intensif selama delapan hari. Sejak saat itu, perjalanan hidup Rana dipenuhi pemeriksaan medis dan kecemasan yang tak berujung.

Saat Tulang Kepala Menutup Terlalu Dini

Dokter spesialis saraf anak, dr. Herbowo, menjelaskan bahwa craniosynostosis terjadi ketika sambungan tulang tengkorak bayi menutup lebih cepat dari waktu normal.

“Ubun-ubun bayi seharusnya menutup bertahap. Bagian depan bahkan normalnya baru menutup di usia sekitar dua tahun. Kalau terlalu cepat, otak tidak punya ruang untuk berkembang,” ujarnya, dikutip dari YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, Senin (9/2/2026).

Pada Rana, hampir seluruh ubun-ubun sudah menutup di usia yang sangat dini. Bentuk kepalanya tampak tidak simetris, dengan benjolan di bagian belakang, jejak dari tulang yang menyatu terlalu cepat dan terdorong keluar.

Kondisi itu diperparah dengan kejang tanpa demam yang datang berulang. Dalam satu hari, kejang Rana bisa terjadi 20 hingga 50 kali, dengan durasi terlama hampir 10 menit.

Meski kini mengonsumsi empat jenis obat antikejang, serangan belum sepenuhnya berhenti. Namun secercah kabar baik muncul dari hasil EEG, yang menunjukkan perbaikan: durasi gelombang kejang kini lebih pendek.

Dugaan Kelainan Bawaan, Bukan Kesalahan Ibu

Pemeriksaan MRI mengungkap fakta lain yang tak kalah berat: adanya kalsifikasi luas di otak. Dokter menduga hal ini berkaitan dengan gangguan metabolik atau kelainan genetik bawaan.

Ia menegaskan, kondisi Rana bukan kesalahan sang ibu. “Mayoritas kasus craniosynostosis bersifat genetik atau mutasi spontan. Bukan karena ibu jarang minum vitamin atau kesalahan selama kehamilan,” tegasnya.

Di Tengah Keterbatasan, Harapan Itu Masih Ada

Di usia 9 bulan, Rana belum bisa duduk, merangkak, atau mengangkat kepala dengan stabil. Ia juga belum mengeluarkan suara selain tangisan. Namun di balik keterlambatan itu, ada tanda-tanda kecil yang memberi harapan besar.

Rana kini mulai tersenyum dan merespons interaksi sosial. Bagi dunia medis, itu bukan hal sepele. Itu adalah sinyal bahwa jalur saraf masih bekerja.

“Usia di bawah dua tahun adalah masa emas perkembangan otak. Selama kejang bisa dikontrol dan penyebab utamanya ditemukan, peluang perbaikan masih ada. Jangan menyerah dulu,” kata dr. Herbowo.

Doa Mengalir dari Ribuan Hati

Perjuangan Rana tak hanya ditemani keluarganya. Dukungan juga mengalir dari warganet. Kolom komentar YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo dipenuhi doa dan harapan.

“Ya Allah semoga ada mujijat dari Allah dan sembuh. Amiiin,” tulis akun @war*.

“Allah adalah sebaik-baiknya penolong… semoga si adek diberikan kesehatan, umur panjang, kesembuhan, dan kelak jadi anak sholehah,” tulis akun @yun*.

“Doaku untuk Rana insya Allah sembuh. Mari kita doakan kesembuhan Rana yuk,” tulis akun @fan*.

Pesan Penting untuk Para Orang Tua

Dari kisah Rana, dokter mengingatkan pentingnya memantau tumbuh kembang anak secara rutin, termasuk berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Ketika grafik perkembangan mulai menyimpang, jangan menunggu atau menormalisasi keterlambatan.

“Segera bawa ke dokter. Deteksi dini sangat menentukan,” pesannya.

Sementara itu, di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, sang ibu tetap menggenggam harapan sederhana namun penuh makna.

“Minimal dia bisa duduk dulu. Itu saja sudah bahagia,” ucap Vina, lirih.

Kisah Rana bukan sekadar cerita viral. Ia adalah pengingat bahwa di balik satu senyum bayi, bisa tersimpan perjuangan panjang. Dan di tengah diagnosis berat sekalipun, harapan sekecil apa pun masih selalu ada.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bansos

Menunggu BLT Kesra Rp900 Ribu? Ini Fakta Terbaru dan Link Cek Bansos Kemensos

IHSG Terjun ke Level 5.185, Kapolri Perintahkan Bareskrim Selidiki Dugaan Pidana

Tragedi Kebakaran Bromo! 4 Orang Tewas, Petugas TNBTS dan Relawan Terjebak Kobaran Api

Ilustrasi korupsi

Dana Bencana Rp148 Miliar Diduga Dikorupsi, Adik Eks Kepala BNPB Jadi Tersangka

Viral Petugas SPBU Menangis di Depan I Wayan Koster: Saya Bukan Robot, Pak!

Diduga Jadi Korban Pengantin Pesanan WNA China, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di Apartemen PIK 2

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Kontroversi Jalan Diponegoro Bandung: Demi Ruang Publik atau Menabrak Tata Ruang?
  • Siap-siap Cair! Panduan Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Oktober-Desember 2026 Pakai NIK KTP
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.