bukamata.id – Sulit membayangkan perjalanan Iko Uwais menuju panggung perfilman internasional bermula dari kehidupan yang jauh dari gemerlap industri hiburan. Sebelum dikenal sebagai salah satu aktor laga Indonesia yang diperhitungkan Hollywood, Iko pernah menjalani pekerjaan sebagai sopir perusahaan telekomunikasi.
Kini, perjalanan itu membawanya ke posisi yang sangat berbeda. Iko Uwais dipercaya menjadi salah satu juri 7th Jackie Chan International Action Film Week 2026 di Harbin, China, pada 10-12 Agustus 2026.
Yang membuat pencapaian tersebut semakin istimewa, Iko mengungkap bahwa dirinya dipilih langsung oleh Jackie Chan, legenda film laga dunia yang selama ini menjadi salah satu ikon terbesar perfilman aksi.
Dari sopir perusahaan, pesilat Betawi, aktor The Raid, hingga duduk sebagai juri di ajang yang berkaitan langsung dengan nama Jackie Chan. Perjalanan Iko Uwais menunjukkan bahwa karier besar tidak selalu dimulai dari tempat yang besar.
Iko Uwais dan Jalan Panjang dari Pencak Silat
Lahir di Jakarta pada 12 Februari 1983, Iko Uwais sudah mengenal pencak silat sejak kecil. Pada usia sekitar 10 tahun, ia mulai berguru kepada pamannya di perguruan silat Tiga Berantai.
Lingkungan Betawi tempat Iko tumbuh turut membentuk karakter bela dirinya. Ia kemudian menekuni silat Betawi dan mulai mengikuti berbagai kompetisi.
Prestasi demi prestasi diraihnya. Iko pernah meraih posisi ketiga dalam turnamen pencak silat DKI Jakarta pada 2003. Dua tahun kemudian, ia menjadi juara terbaik dalam Kejuaraan Silat Nasional kategori demonstrasi.
Namun, perjalanan Iko sempat bersinggungan dengan dunia sepak bola.
Ia pernah bergabung dengan klub sepak bola dan bermain di posisi gelandang. Sayangnya, klub tersebut mengalami kebangkrutan. Iko kemudian kembali fokus mengembangkan kemampuan pencak silat.
Pilihan itu ternyata menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hidupnya.
Kemampuan silatnya membawanya tampil dalam berbagai peragaan bela diri hingga ke Inggris, Prancis, Rusia, Laos, dan Kamboja.
Tetapi, saat itu belum ada yang benar-benar tahu bahwa kemampuan tersebut kelak akan menjadi tiket Iko menuju Hollywood.
Pernah Jadi Sopir untuk Menyambung Hidup
Sebelum kamera film mengarah kepadanya, Iko harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pada 2008, ia bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan telekomunikasi. Pekerjaan tersebut dijalaninya selama sekitar dua tahun.
Di satu sisi, Iko tetap menekuni pencak silat. Di sisi lain, ia harus menjalani pekerjaan sebagai sopir.
Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa tahun kemudian namanya akan terpampang dalam deretan film laga internasional.
Titik balik itu datang ketika sutradara asal Inggris, Gareth Evans, melakukan riset mengenai pencak silat di Jakarta.
Evans kemudian melihat kemampuan Iko dan tertarik menjadikannya bagian dari proyek film.
Pertemuan tersebut menjadi pintu masuk Iko ke dunia perfilman.
Dari Merantau hingga The Raid
Iko kemudian dipercaya membintangi film Merantau pada 2009 yang disutradarai Gareth Evans.
Film tersebut menjadi awal perjalanan Iko sebagai aktor laga.
Ia bahkan meninggalkan pekerjaan sebagai sopir dan memilih fokus menekuni dunia film bersama Gareth Evans.
Namanya kemudian benar-benar melejit melalui The Raid: Redemption pada 2011 dan The Raid 2: Berandal pada 2014.
Adegan pertarungan yang intens, kemampuan bela diri yang autentik, serta gaya akting Iko membuatnya berbeda dari banyak aktor laga lainnya.
Dari sinilah industri film internasional mulai memperhatikannya.
Star Wars Membuka Pintu Hollywood
Kesempatan besar berikutnya datang melalui Star Wars: The Force Awakens pada 2015.
Iko memerankan Razoo Qin-Fee dan tampil bersama jajaran pemain film Hollywood.
Meski bukan pemeran utama, keterlibatannya dalam waralaba sebesar Star Wars membuat namanya semakin dikenal di industri internasional.
Tawaran film kemudian berdatangan.
Iko tampil dalam sejumlah produksi internasional seperti Man of Tai Chi, Beyond Skyline, Mile 22, Triple Threat, Stuber, hingga Snake Eyes.
Ia pun berkesempatan beradu akting dengan sejumlah nama besar Hollywood, termasuk Keanu Reeves dan Mark Wahlberg.
Karier yang dahulu dimulai dari sebuah perguruan silat di Jakarta akhirnya membawanya ke berbagai produksi film dunia.
Kini Duduk Satu Meja dengan Jackie Chan
Perjalanan tersebut mencapai babak baru pada Agustus 2026.
Iko Uwais dipercaya menjadi salah satu juri 7th Jackie Chan International Action Film Week 2026 di Harbin, China.
Bukan sekadar datang sebagai aktor.
Iko mendapatkan kepercayaan untuk ikut menilai karya-karya film aksi dari berbagai negara bersama para profesional industri perfilman lainnya.
Yang membuat momen tersebut semakin menarik adalah pengakuan Iko bahwa ia dipilih langsung oleh Jackie Chan.
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk dipilih oleh Jackie Chan menjadi juri di Jackie Chan FF,” tulis Iko melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam unggahan lainnya, Iko juga menuliskan pesan singkat yang menunjukkan rasa syukurnya.
“Allah punya rencana baik untuk umatnya,” tulisnya.
Bagi Iko, kesempatan tersebut menjadi semacam lingkaran perjalanan yang sulit dipercaya.
Dulu ia mengemudikan kendaraan untuk bekerja.
Kini, ia berada di satu forum dengan legenda film laga dunia yang namanya telah mendunia selama puluhan tahun.
Dari Pesilat Indonesia Menjadi Representasi Film Laga Tanah Air
Penunjukan Iko sebagai juri juga menunjukkan perubahan posisi dirinya di industri perfilman internasional.
Ia tidak lagi hanya hadir sebagai aktor yang memainkan adegan perkelahian.
Pengalamannya di dunia film laga membuat Iko dipercaya ikut memberikan penilaian terhadap karya film aksi.
Ajang Jackie Chan International Action Film Week sendiri memberikan perhatian kepada berbagai elemen penting dalam film laga, termasuk aktor, sutradara, koreografer aksi, stunt performer, hingga talenta-talenta baru.
Dengan pengalaman panjang dari The Raid hingga berbagai film internasional, Iko kini berada di sisi lain industri: bukan hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang menilai dan mengapresiasi film aksi.
Iko Uwais Kini Membangun Jalannya Sendiri
Menariknya, perjalanan Iko tidak berhenti sebagai aktor.
Ia juga mulai masuk ke belakang kamera melalui Timur, film yang menjadi debutnya sebagai sutradara dan turut didistribusikan ke sejumlah negara.
Ia juga terus memperluas kiprahnya melalui berbagai proyek film laga internasional, termasuk Wings of Dread yang menampilkan aksi Iko dalam produksi perfilman Tiongkok.
Semua itu memperlihatkan bagaimana karier Iko terus berkembang.
Dari seorang anak yang belajar silat kepada pamannya, pesilat yang sempat menjadi atlet sepak bola, sopir perusahaan, lalu ditemukan Gareth Evans, Iko perlahan membangun namanya melalui kerja keras.
Dan kini, ia tidak hanya dikenal sebagai aktor laga asal Indonesia.
Iko Uwais telah sampai pada titik ketika salah satu legenda terbesar film aksi dunia, Jackie Chan, memberikan kepercayaan kepadanya.
Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa panggung dunia terkadang dimulai dari tempat yang sangat sederhana: sebuah perguruan silat, sebuah pekerjaan untuk menyambung hidup, dan keberanian untuk mengambil kesempatan ketika pintu akhirnya terbuka.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










