Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Sekadar Menang! Saddil Ramdani Beberkan Misi Besar Persib vs Manila Digger

Minggu, 23 Agustus 2026 16:14 WIB

Bukan Asli Ajaran Nabi? Konser Diberi Izin Tapi Maulid Dilarang, Ada Apa dengan Arab Saudi?

Minggu, 23 Agustus 2026 15:17 WIB

Jelang Muktamar NU ke-35, PKB Kabupaten Bandung Gelar Mujahadah dan Tirakat Politik

Minggu, 23 Agustus 2026 14:40 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Sekadar Menang! Saddil Ramdani Beberkan Misi Besar Persib vs Manila Digger
  • Bukan Asli Ajaran Nabi? Konser Diberi Izin Tapi Maulid Dilarang, Ada Apa dengan Arab Saudi?
  • Jelang Muktamar NU ke-35, PKB Kabupaten Bandung Gelar Mujahadah dan Tirakat Politik
  • 72 Ribu Hektare Lebih Dilalap Api! Ini Daftar Wilayah dengan Karhutla Terluas di Indonesia
  • Arcamanik Membiru! Ratusan Warga Meriahkan Pesta Rakyat Demokrat Jabar
  • Thailand Kena Mental? Vietnam Curi Kemenangan 2-0 di Rajamangala, Comeback Jadi Misi Mustahil
  • Persib Mulai Panaskan Mesin! Igor Tolic Bongkar Kondisi Skuad Jelang Play-off ACL Two
  • Cek Bansos 2026 Lewat HP Pakai NIK KTP, Begini Cara Lihat Status dan Desil DTSEN
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 23 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bukan Asli Ajaran Nabi? Konser Diberi Izin Tapi Maulid Dilarang, Ada Apa dengan Arab Saudi?

By SusanaMinggu, 23 Agustus 2026 15:17 WIB8 Mins Read
Ilustrasi Maulid Nabi. (Foto: Mohammad Shahriyar dari Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun diperingati umat Islam di berbagai negara dengan tradisi yang berbeda-beda. Di Indonesia, peringatan kelahiran Nabi telah melekat dalam kehidupan masyarakat, mulai dari pengajian, pembacaan shalawat, istighotsah, hingga tradisi budaya seperti Sekaten.

Namun, ada pertanyaan yang selalu menarik perhatian: dari mana sebenarnya tradisi Maulid Nabi berasal dan mengapa perayaan tersebut tidak dilakukan secara resmi di Arab Saudi?

Pertanyaan itu kembali ramai diperbincangkan di ruang digital. Perbedaan cara pandang terhadap Maulid Nabi bahkan memunculkan perdebatan mengenai apakah peringatan tersebut merupakan bentuk kecintaan kepada Rasulullah atau justru termasuk praktik keagamaan yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

Perdebatan ini sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak berabad-abad lalu, para ulama telah memiliki pandangan berbeda mengenai status Maulid Nabi.

Karena itu, memahami sejarah Maulid Nabi, perkembangan tradisinya, serta alasan Arab Saudi tidak menjadikannya sebagai perayaan resmi menjadi penting agar perdebatan tidak berhenti pada klaim di media sosial.

Maulid Nabi Bukan Tradisi yang Muncul pada Masa Rasulullah

Hal pertama yang perlu diluruskan adalah bahwa peringatan Maulid Nabi dalam bentuk perayaan tahunan tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW maupun generasi sahabat.

Tradisi Maulid sebagai sebuah perayaan khusus berkembang beberapa abad setelah wafatnya Rasulullah.

Kajian sejarah mengenai Maulid menunjukkan bahwa asal-usulnya memiliki perjalanan yang kompleks. Salah satu catatan penting menghubungkannya dengan Dinasti Fatimiyah di Mesir pada sekitar abad ke-10 hingga 12 Masehi. Dinasti Fatimiyah merupakan dinasti Ismailiyah yang berpusat di Mesir dan berkuasa hingga 1171.

Namun, menyebut Fatimiyah sebagai satu-satunya titik awal Maulid juga perlu kehati-hatian.

Sejarawan dan akademisi yang mengkaji sejarah Maulid mencatat adanya perkembangan berbeda antara tradisi Maulid di lingkungan Fatimiyah dan kemudian tradisi Maulid yang berkembang di kalangan Sunni.

N.J.G. Kaptein, dalam kajiannya tentang sejarah Maulid, bahkan membahas secara khusus perkembangan Maulid di bawah Fatimiyah, kemunculan perayaan Maulid di lingkungan Sunni, hingga perbedaan pandangan umat Islam mengenai asal-usulnya.

Artinya, sejarah Maulid tidak sesederhana anggapan bahwa sejak awal Islam umat Islam telah memiliki perayaan Maulid dalam bentuk seperti sekarang.

Dari Mesir hingga Dunia Islam

Dalam perkembangannya, peringatan Maulid kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam.

Salah satu perayaan Maulid Sunni yang sering dibahas dalam literatur sejarah berlangsung di Irbil pada awal abad ke-13, di bawah Muzaffar al-Din Kökbürü, penguasa yang memiliki hubungan dengan lingkungan Salahuddin al-Ayyubi. Tradisi tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan Maulid di kalangan Sunni.

Di kemudian hari, Maulid berkembang menjadi tradisi keagamaan sekaligus sosial-budaya.

Baca Juga:  Libur Panjang Maulid Nabi, Penumpang Kereta Api di Daop 2 Bandung Melonjak

Bentuknya pun berbeda-beda. Ada masyarakat yang mengisinya dengan pembacaan sirah Nabi, shalawat, puji-pujian kepada Rasulullah, ceramah agama, sedekah, pembagian makanan hingga kegiatan sosial.

Dengan kata lain, Maulid Nabi yang dikenal masyarakat saat ini merupakan hasil perkembangan sejarah yang berlangsung selama berabad-abad, bukan sebuah bentuk perayaan yang sudah ditetapkan pada masa Rasulullah.

Mengapa Ada Ulama yang Membolehkan?

Di sinilah perdebatan mengenai Maulid mulai memasuki wilayah fikih dan pemahaman terhadap konsep bid’ah.

Kelompok ulama yang membolehkan Maulid pada umumnya tidak menganggap peringatan tersebut sebagai ibadah baru yang wajib dilakukan. Mereka melihat kegiatan seperti membaca sirah Nabi, bershalawat, bersedekah, berkumpul untuk mengingat keteladanan Rasulullah, dan menyampaikan nasihat keagamaan sebagai amalan yang pada dasarnya memiliki nilai positif.

Karena itu, selama kegiatan Maulid tidak diisi dengan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip syariat, sebagian ulama memandangnya sebagai sarana untuk menghidupkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Pandangan ini kemudian menjadi salah satu alasan mengapa Maulid berkembang luas di banyak komunitas Muslim, termasuk Indonesia.

Mengapa Ada Ulama yang Menganggap Maulid Bid’ah?

Sebaliknya, kelompok ulama lain mengambil pendekatan yang berbeda.

Argumentasinya sederhana: Nabi Muhammad SAW tidak pernah menjadikan hari kelahirannya sebagai perayaan tahunan, begitu pula para sahabat dan generasi awal Islam.

Dalam pandangan ini, kecintaan kepada Rasulullah seharusnya diwujudkan dengan mengikuti sunnah yang telah diajarkan, bukan membuat bentuk perayaan baru dalam agama.

Pandangan tersebut sangat kuat dalam tradisi keagamaan resmi Arab Saudi.

Lembaga keagamaan yang menerbitkan materi keislaman resmi di bawah otoritas Saudi secara tegas menyatakan bahwa perayaan Maulid Nabi tidak diperbolehkan karena dianggap sebagai inovasi dalam agama yang tidak dilakukan oleh Rasulullah, para khalifah, sahabat, maupun generasi awal Islam.

Perbedaan inilah yang kemudian menjelaskan mengapa Maulid Nabi diterima sebagai tradisi keagamaan di sejumlah negara Muslim, tetapi tidak menjadi perayaan keagamaan resmi di Arab Saudi.

Mengapa Arab Saudi Tidak Merayakan Maulid Nabi?

Arab Saudi memiliki pendekatan keagamaan yang berbeda dalam persoalan Maulid.

Dalam pandangan keagamaan resmi yang dominan, Maulid dipandang sebagai bid’ah, karena tidak terdapat contoh perayaan tersebut dari Rasulullah dan generasi awal Islam.

Karena itu, pemerintah Saudi tidak menyelenggarakan Maulid Nabi sebagai perayaan keagamaan resmi sebagaimana yang dilakukan sejumlah negara Muslim lainnya.

Hal ini perlu dibedakan dari anggapan bahwa “semua kegiatan Maulid otomatis dilarang dengan cara yang sama di setiap tempat dan kondisi”.

Persoalan keagamaan dan persoalan ketertiban umum merupakan dua hal yang berbeda. Pemerintah Saudi memiliki aturan mengenai kegiatan publik, perkumpulan, serta berbagai aktivitas masyarakat. Tetapi alasan teologis utama penolakan terhadap Maulid berasal dari pandangan keagamaan yang menganggap perayaan tersebut tidak memiliki dasar dalam sunnah.

Baca Juga:  Momentum Maulid Nabi, Haedar Nashir Ajak Umat Muslim Tampilkan Sifat Welas Asih

Jadi, jika membahas mengapa Maulid tidak dirayakan secara resmi di Arab Saudi, faktor utamanya adalah pendekatan keagamaan negara terhadap praktik tersebut.

Bukan Berarti Tidak Ada Muslim Saudi yang Membicarakan atau Menghormati Rabiul Awal

Tidak adanya perayaan resmi bukan berarti seluruh masyarakat Muslim di Arab Saudi memiliki pandangan yang identik.

Keragaman praktik keagamaan tetap ada, khususnya jika melihat sejarah masyarakat Hijaz.

Sejumlah laporan mengenai praktik keagamaan di Hijaz mencatat bahwa sebagian keluarga dan komunitas tetap memiliki tradisi berkumpul atau melakukan kegiatan keagamaan selama bulan Rabiul Awal, meskipun Maulid bukan bagian dari kalender perayaan resmi negara.

Karena itu, penting membedakan antara kebijakan dan doktrin keagamaan resmi dengan seluruh praktik masyarakat yang hidup di suatu negara.

Bagaimana dengan Konser dan Halloween di Arab Saudi?

Perbedaan kebijakan ini kemudian memunculkan pertanyaan di media sosial.

Sebagian warganet membandingkan tidak adanya perayaan Maulid dengan penyelenggaraan konser musik dan kegiatan hiburan di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Perbandingan tersebut sebenarnya menyangkut dua wilayah yang berbeda.

Maulid merupakan persoalan praktik keagamaan dan hukum keagamaan, sedangkan konser dan kegiatan hiburan merupakan bagian dari kebijakan sosial-budaya dan industri hiburan yang mengalami perubahan besar di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Karena itu, fakta bahwa konser diperbolehkan tidak otomatis menjelaskan status hukum Maulid.

Keduanya memiliki dasar kebijakan yang berbeda.

Perubahan sosial Arab Saudi dalam bidang hiburan memang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta mengubah pandangan keagamaan resmi mengenai Maulid.

Pro Kontra Maulid Nabi Kembali Ramai di Media Sosial

Perbedaan pandangan tersebut juga terlihat dalam komentar warganet.

Sejumlah komentar di kolom Instagram @khalayaknesia memperlihatkan bagaimana perdebatan Maulid Nabi masih berlangsung hingga sekarang.

“Di Arab Saudi Maulid di larang tapi perayaan hallowen dan konser musik boleh,” tulis akun @la***.

Komentar lain mempertanyakan perbedaan kebijakan terhadap kegiatan hiburan.

“Kenapa konser di RIYADH bisa aman? Apakah itu bagus?” tulis akun @uba***.

Sementara itu, ada pula komentar yang melihat persoalan tersebut dari perspektif perbedaan pemahaman keagamaan.

“Ketika NU vs islam ajaran nabi,” tulis akun @ase***.

Komentar lainnya menyoroti pentingnya mengikuti praktik yang memiliki contoh dari Rasulullah dan generasi awal Islam.

“Jgn di ada2 kan kalo gk ada contoh nya rosulallah atau sahabat,” tulis akun @aba***.

Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai Maulid bukan hanya terjadi di ruang kajian keagamaan, tetapi telah menjadi diskusi publik di media sosial.

Indonesia Memiliki Tradisi Maulid yang Sangat Beragam

Berbeda dengan Arab Saudi, Indonesia memiliki tradisi Maulid yang sangat kuat.

Baca Juga:  Tablig Akbar Maulid Nabi: Pj Gubernur Jabar Ingatkan Bahaya Pinjol Ilegal dan Pentingnya Pendidikan Keuangan

Hampir setiap daerah mempunyai cara tersendiri untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di sebagian tempat, Maulid diisi dengan pengajian dan pembacaan kitab sirah. Di daerah lain, masyarakat menggelar pawai, pembacaan shalawat, pembagian makanan, hingga kegiatan sosial.

Di Jawa, salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Sekaten, terutama di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana peringatan Maulid dalam sejarah Nusantara tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga berinteraksi dengan kebudayaan lokal.

Di negara lain pun bentuknya berbeda.

Di Mesir, Maulid berkembang dengan berbagai kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat. Di sejumlah wilayah dunia Islam, Maulid juga diisi dengan pembacaan puisi pujian kepada Nabi, ceramah, zikir dan kegiatan sosial.

Dengan demikian, tidak ada satu bentuk Maulid yang berlaku seragam di seluruh dunia Muslim.

Perdebatan Maulid Sebenarnya Sudah Berusia Ratusan Tahun

Jika ditarik lebih jauh, pro dan kontra mengenai Maulid Nabi bukanlah perdebatan baru yang lahir dari media sosial.

Perdebatan tersebut telah berlangsung selama berabad-abad.

Satu kelompok menilai tidak adanya contoh dari Nabi dan generasi sahabat merupakan alasan kuat untuk tidak menjadikan Maulid sebagai perayaan keagamaan.

Kelompok lainnya melihat substansi kegiatan, seperti membaca sejarah Nabi, bershalawat, bersedekah dan mengingat keteladanan Rasulullah sebagai aktivitas yang dapat membawa kebaikan selama tidak melanggar prinsip agama.

Karena itu, persoalan Maulid sebaiknya tidak disederhanakan menjadi “yang merayakan cinta Nabi, yang tidak merayakan anti-Nabi.”

Kedua kelompok sama-sama mengklaim memiliki argumentasi keagamaan masing-masing.

Perbedaannya terletak pada cara memahami sunnah, bid’ah, tradisi, dan batas antara ibadah mahdhah dengan aktivitas sosial-keagamaan.

Maulid Nabi dan Makna Kecintaan kepada Rasulullah

Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi di Indonesia menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam yang berinteraksi dengan masyarakat dan budaya lokal.

Bagi mereka yang merayakannya, Maulid menjadi momentum untuk kembali membaca sejarah Rasulullah, memperbanyak shalawat, bersedekah dan meneladani akhlaknya.

Sementara bagi mereka yang tidak merayakannya, kecintaan kepada Nabi diwujudkan melalui ketaatan terhadap sunnah dan amalan yang diyakini memiliki dasar kuat dari Rasulullah serta generasi awal Islam.

Perbedaan tersebut merupakan bagian dari sejarah pemikiran Islam yang telah berlangsung lama.

Yang penting, perdebatan mengenai Maulid Nabi tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama Muslim.

Sebab, terlepas dari perbedaan cara memperingatinya, sosok Nabi Muhammad SAW tetap menjadi figur sentral yang dihormati dan dicintai umat Islam di seluruh dunia.

Dan mungkin justru di situlah inti persoalannya: bukan sekadar apakah Maulid Nabi dirayakan atau tidak, tetapi bagaimana umat Islam menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

alasan Maulid Nabi dilarang asal usul Maulid Nabi Maulid Nabi Maulid Nabi di Arab Saudi sejarah Maulid Nabi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Jelang Muktamar NU ke-35, PKB Kabupaten Bandung Gelar Mujahadah dan Tirakat Politik

72 Ribu Hektare Lebih Dilalap Api! Ini Daftar Wilayah dengan Karhutla Terluas di Indonesia

Arcamanik Membiru! Ratusan Warga Meriahkan Pesta Rakyat Demokrat Jabar

Bansos

Cek Bansos 2026 Lewat HP Pakai NIK KTP, Begini Cara Lihat Status dan Desil DTSEN

Dari Buruh Sawit ke Crazy Rich 100 Triliun: Alasan Haji Isam Ditunjuk Pimpin Pemadaman Karhutla Kalsel!

Turun Langsung ke Lokasi Karhutla Kalbar, Presiden Prabowo Perintahkan Mobilisasi 1.500 Pasukan dan Helikopter Boom

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.