bukamata.id – Panggung final FIFA ASEAN Cup 2026 menyisakan drama emosional yang luar biasa bagi pencinta sepak bola Asia Tenggara. Skuad Garuda sukses keluar sebagai juara setelah menaklukkan Thailand lewat adu penalti dramatis di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Senin malam (5/10/2026).
Pertandingan puncak tersebut berjalan sangat sengit. Thailand yang sempat tertinggal mampu menunjukkan mental baja dengan menyamakan kedudukan 1-1 jelang waktu normal usai, kendati harus bermain dengan 10 orang menyusul kartu merah yang diterima Nicholas Mickelson.
Memasuki babak extra time, Gajah Perang bahkan sempat membalikkan keadaan menjadi 2-1 melalui aksi Peeradol Chanrasamee. Namun, ketangguhan Elkan Baggott di lini serang akhirnya memaksa laga berlanjut ke adu penalti setelah menyamakan kedudukan di detik-detik krusial.
Sorotan Chanathip Songkrasin Terhadap Pemain Naturalisasi Garuda
Seusai pertandingan, kapten sekaligus motor serangan Thailand, Chanathip Songkrasin, tak segan melontarkan pujian atas performa gigih rekan-setimnya. Gelandang senior berusia 33 tahun itu juga memberikan pandangannya secara terbuka mengenai dominasi pemain naturalisasi di kubu Timnas Indonesia saat ini.
Menurut Chanathip, kehadiran pilar-pilar keturunan berkualitas seperti Kevin Diks dan kolega tidak membuat Skuad Garuda berada di level yang jauh melampaui timnya secara skill individu. Ia menilai kekalahan timnya lebih disebabkan oleh detail-detail kecil dan kesalahan sendiri di lapangan.
“Hari ini kami bermain sangat baik. Kami bisa bilang Indonesia memiliki beberapa pemain yang bisa disebut ‘pemain asing,’ tetapi dalam hal kemampuan individu, mereka tidak jauh lebih unggul dari kita. Kami hanya melewatkan beberapa kesalahan kecil,” ucap Chanathip, seperti dikutip dari Thairath Sport.
Regenerasi Skuad dan Sisi Lain Kubu Thailand
Menariknya, isu pemain naturalisasi ini menjadi topik yang seimbang jika melihat komposisi skuad Thailand di turnamen yang sama. Pasukan Gajah Perang ternyata juga diperkuat oleh beberapa pemain berdarah campuran Eropa, seperti Nicholas Mickelson (berdarah Norwegia), Manuel Bihr (Jerman), hingga penyerang muda berbakat Jude Jacob Soonsup-Bell (Inggris).
Selain mengandalkan darah keturunan, juru taktik Thailand juga mulai serius menggenjot proses regenerasi tim. Salah satu buktinya adalah pemanggilan talenta muda berusia 21 tahun, Iklas Sanron, yang tampil cemerlang dan sukses menyumbangkan gol penyeimbang krusial ke gawang Indonesia pada partai final tersebut.
Meski harus puas pulang sebagai runner-up, perlawanan sengit yang ditampilkan Thailand menegaskan bahwa peta kekuatan sepak bola ASEAN kini semakin kompetitif dan menarik untuk disaksikan pada tahun-tahun mendatang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








