Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Mudah banget, cara mendapatkan saldo DANA gratis hanya dengan bermain game di HP.

Cara Berburu Saldo DANA Gratis 13 September 2026, Amankan Cuan Tambahan Hari Ini!

Minggu, 13 September 2026 02:00 WIB

Klaim Cepat Kode Redeem FF 13 September 2026, Sikat Berbagai Hadiah Menariknya!

Minggu, 13 September 2026 01:00 WIB

Geger Skandal Perselingkuhan Suami Artis, Pelapor Tantang Pihak M Buktikan Video Palsu

Sabtu, 12 September 2026 23:16 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cara Berburu Saldo DANA Gratis 13 September 2026, Amankan Cuan Tambahan Hari Ini!
  • Klaim Cepat Kode Redeem FF 13 September 2026, Sikat Berbagai Hadiah Menariknya!
  • Geger Skandal Perselingkuhan Suami Artis, Pelapor Tantang Pihak M Buktikan Video Palsu
  • Krisis Darurat Kantong Darah di Cianjur, Pasien Talasemia Terpaksa Andalkan Keluarga
  • Takluk dari Persija 2-1, Igor Tolic Soroti Celah Lini Belakang Persib
  • Akhir Perjalanan Kangen Band: Dodhy Umumkan Bubar Akibat ‘Kezaliman’ dan Larang Nyanyikan Lagunya
  • Pasukan Jepang Nyesel Datang? Niat Bantu Karhutla Malah Disambut Parade & Marching Band!
  • BOSS Cabaret Festival 2026 Jadi Ruang Tumbuh Kreativitas Anak Muda
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 13 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dosen Undip Ungkap Alasan Masyarakat Tak Lagi Percaya Jurnalisme

By Putra JuangJumat, 26 Juli 2024 19:27 WIB2 Mins Read
(tengah) Kepala Sekolah Demokrasi Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto. (Foto: tangkapan layar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kepala Sekolah Demokrasi Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto mendorong jurnalisme atau media untuk kembali menjalankan perannya sebagai cleaning house of information.

“Bahwa jurnalisme perlu menjalankan kembali fungsinya, jurnalisme perlu menjadi cleaning house of information,” ucap Wijayanto dalam acara Sekolah Demokrasi 2024 melalui zoom meeting, Jumat (26/7/2024).

Wijayanto menilai, banyak masyarakat yang memilih mengakses informasi melalui media sosial, lantaran mereka sudah tidak percaya lagi terhadap jurnalisme.

“Alasan kenapa publik itu berbaling kepada media sosial, karena jurnalisme tidak dipercaya lagi. Karena orang berpandangan ‘ah jurnalisme ya itu media miliknya si politisi yang ini, polisitisi yang itu pasti mendukung kesana, beritanya ga masuk, ga dalem’,” katanya.

Baca Juga:  Heboh Video Viral 6 Menit 'Ibu Tiri dan Anak Tiri', Warganet Ramai Cari Link Asli

Selain itu, tak sedikit juga media-media yang membuat sebuah artikel atau berita dengan informasi yang tidak jelas atau hoaks.

“Atau bahkan sekarang muncul media bukan yang mainstream, yang judulnya panjang tapi isinya ya judulnya itu. Kadang kadang isinya hoaks juga,” ungkap Wijayanto yang juga Wakil Rektor Riset, Inovasi dan Kerjasama Universitas Diponegoro (Undip).

Di sisi lain, Wijayanto juga menyoroti terkait demokrasi digital di Indonesia yang saat ini menunjukan tren kurang baik.

“Pertama represi digital justru dibelakangnya ada negara. Baik respresi yang bersifat langsung, ada represi yang menggunakan Undang-undang untuk merepresi suara kritis,” imbuhnya.

Baca Juga:  Manfaatkan Media Sosial dengan Inovasi, Bapenda Jabar Raih Juara Umum HJA 2024

Wijayanto menjelaskan, demokrasi digital ini adalah semua proses-proses politik yang ada di demokrasi seperti pemilu, legislatif, hingga eksekutif itu berpindah ke ranah digital.

“Namun tidak hanya sekedar itu, tapi ada juga fenomena fenomena baru yang sebelumnya tidak bisa kita bayangkan di demokrasi yang konvesional sekarang bisa berlangsung,” jelasnya.

Dia mencotohkan, dalam perkembangan teknologi saat ini, masyarakat bisa memprotes suatu kebijakan pemerintah melalui status media sosial.

“Misal tidak puas dengan kebijakan pemerintah misalnya, itu bisa langsung protes di status WhatsApp, di Facebooknya mereka (pejabat publik). Dulu ga bisa. Zaman kerajaan kalau mau protes kebijakan raja caranya dengan berjemur di alun-alun,” katanya.

Baca Juga:  Video Cut Salwa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya

“Pada masa sebelum internet ada, adanya media konvesional ada Tv, koran, yang ada elit bicara melalui media, warga ga bisa langsung bicara, sekarang ada space itu yang memungkinkan warga untuk langsung memprotes,” tambahnya.

Menurutnya, demokrasi digital ini ada dialegtika antara masyarakat dan teknologi.

“Teknologi memfasilitasi perkembangan sosial, sebaliknya perkembangan masyarakat juga sebenarnya memajukan teknologi jadi aja dialegtika disitu,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

media sosial
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Geger Skandal Perselingkuhan Suami Artis, Pelapor Tantang Pihak M Buktikan Video Palsu

Krisis Darurat Kantong Darah di Cianjur, Pasien Talasemia Terpaksa Andalkan Keluarga

penyaluran bansos PKH dan BPNT 2025 di kantor pos

Kemensos Gunakan Data Baru, 4,3 Juta Keluarga Resmi Masuk Daftar Penerima Bansos

Kaya Raya dan Ditakuti Pejabat! Sisi Lain Mentan Amran: Jago Tebak Tebu, Suka Bantu Anak Yatim Piatu

Ibu dan Bayi Baru Lahir Ditemukan Tewas di Garut, Diduga Korban Aborsi

Bansos September 2026 Belum Cair? Begini Cara Cek PKH Lewat HP

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Gemuruh GBLA Bikin Merinding, Balsa Sekulic Terpukau oleh Militansi Bobotoh Persib
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.