Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi Sate

Wisata Kuliner Ciamis 2026: 5 Makanan Khas Tatar Galuh yang Wajib Dicoba

Rabu, 28 Oktober 2026 04:00 WIB
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

BLT Kesra Oktober 2026 Cair Lagi? Ini Faktanya dan Cara Cek Bansos

Rabu, 28 Oktober 2026 03:00 WIB

Bukan Ilustrator, KAI Diduga Andalkan AI untuk Livery HUT ke-81

Selasa, 27 Oktober 2026 21:50 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Wisata Kuliner Ciamis 2026: 5 Makanan Khas Tatar Galuh yang Wajib Dicoba
  • BLT Kesra Oktober 2026 Cair Lagi? Ini Faktanya dan Cara Cek Bansos
  • Bukan Ilustrator, KAI Diduga Andalkan AI untuk Livery HUT ke-81
  • Polisi Amankan 8 Pemuda di Terminal Tegalega, Golok hingga Ganja Ditemukan di Mobil
  • Topeng ‘Sultan Dermawan’ Retak? Aisar Khaled Diisukan Bawa Kabur Uang Rp5,7 Miliar
  • Tiga Pemanjat Tebing Indonesia Tembus Top 3 Ranking Dunia IFSC 2026
  • Edankeun di Asia! Ini Daftar Tempat Nobar Persib vs Melbourne Victory di Bandung
  • Upaya Penyelundupan Sabu saat Besuk, Pengunjung Lapas Banceuy Sembunyikan Barang di Ikat Rambut
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dosen Undip Ungkap Alasan Masyarakat Tak Lagi Percaya Jurnalisme

By Putra JuangJumat, 26 Juli 2024 19:27 WIB2 Mins Read
(tengah) Kepala Sekolah Demokrasi Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto. (Foto: tangkapan layar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kepala Sekolah Demokrasi Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto mendorong jurnalisme atau media untuk kembali menjalankan perannya sebagai cleaning house of information.

“Bahwa jurnalisme perlu menjalankan kembali fungsinya, jurnalisme perlu menjadi cleaning house of information,” ucap Wijayanto dalam acara Sekolah Demokrasi 2024 melalui zoom meeting, Jumat (26/7/2024).

Wijayanto menilai, banyak masyarakat yang memilih mengakses informasi melalui media sosial, lantaran mereka sudah tidak percaya lagi terhadap jurnalisme.

“Alasan kenapa publik itu berbaling kepada media sosial, karena jurnalisme tidak dipercaya lagi. Karena orang berpandangan ‘ah jurnalisme ya itu media miliknya si politisi yang ini, polisitisi yang itu pasti mendukung kesana, beritanya ga masuk, ga dalem’,” katanya.

Baca Juga:  Netizen Buru Cewek Ini, Disebut Biang Kerok Tuduhan Es Kue Viral Pakai Spons

Selain itu, tak sedikit juga media-media yang membuat sebuah artikel atau berita dengan informasi yang tidak jelas atau hoaks.

“Atau bahkan sekarang muncul media bukan yang mainstream, yang judulnya panjang tapi isinya ya judulnya itu. Kadang kadang isinya hoaks juga,” ungkap Wijayanto yang juga Wakil Rektor Riset, Inovasi dan Kerjasama Universitas Diponegoro (Undip).

Di sisi lain, Wijayanto juga menyoroti terkait demokrasi digital di Indonesia yang saat ini menunjukan tren kurang baik.

“Pertama represi digital justru dibelakangnya ada negara. Baik respresi yang bersifat langsung, ada represi yang menggunakan Undang-undang untuk merepresi suara kritis,” imbuhnya.

Baca Juga:  Isi Buku Harian Lula Lahfah Terungkap, Curhatan Terakhirnya Bikin Sahabat dan Netizen Heboh

Wijayanto menjelaskan, demokrasi digital ini adalah semua proses-proses politik yang ada di demokrasi seperti pemilu, legislatif, hingga eksekutif itu berpindah ke ranah digital.

“Namun tidak hanya sekedar itu, tapi ada juga fenomena fenomena baru yang sebelumnya tidak bisa kita bayangkan di demokrasi yang konvesional sekarang bisa berlangsung,” jelasnya.

Dia mencotohkan, dalam perkembangan teknologi saat ini, masyarakat bisa memprotes suatu kebijakan pemerintah melalui status media sosial.

“Misal tidak puas dengan kebijakan pemerintah misalnya, itu bisa langsung protes di status WhatsApp, di Facebooknya mereka (pejabat publik). Dulu ga bisa. Zaman kerajaan kalau mau protes kebijakan raja caranya dengan berjemur di alun-alun,” katanya.

Baca Juga:  Menjawab Tantangan Zaman: Dewan Hisbah Persis Rumuskan Fatwa untuk Umat Modern

“Pada masa sebelum internet ada, adanya media konvesional ada Tv, koran, yang ada elit bicara melalui media, warga ga bisa langsung bicara, sekarang ada space itu yang memungkinkan warga untuk langsung memprotes,” tambahnya.

Menurutnya, demokrasi digital ini ada dialegtika antara masyarakat dan teknologi.

“Teknologi memfasilitasi perkembangan sosial, sebaliknya perkembangan masyarakat juga sebenarnya memajukan teknologi jadi aja dialegtika disitu,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

media sosial
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

BLT Kesra Oktober 2026 Cair Lagi? Ini Faktanya dan Cara Cek Bansos

Bukan Ilustrator, KAI Diduga Andalkan AI untuk Livery HUT ke-81

Polisi Amankan 8 Pemuda di Terminal Tegalega, Golok hingga Ganja Ditemukan di Mobil

Upaya Penyelundupan Sabu saat Besuk, Pengunjung Lapas Banceuy Sembunyikan Barang di Ikat Rambut

Viral Gelang Emas 41 Gram Milik Pasien Diduga Raib di RSUD Cideres Majalengka

Tepis Penolakan Warga, DPKP Bandung Tegaskan Skatepark Taman Teuku Umar Hanya 30 Persen

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.