Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Geger! Warga Temukan Mayat Pria di Bantaran Sungai Citarum

Kamis, 1 Oktober 2026 20:42 WIB

Traffic Light Mati karena Dicuri, Ini 5 Persimpangan Bandung yang Terdampak

Kamis, 1 Oktober 2026 20:20 WIB

Catat Jadwal Persib Oktober 2026, Maung Bandung Tampil di 3 Kompetisi

Kamis, 1 Oktober 2026 20:11 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Geger! Warga Temukan Mayat Pria di Bantaran Sungai Citarum
  • Traffic Light Mati karena Dicuri, Ini 5 Persimpangan Bandung yang Terdampak
  • Catat Jadwal Persib Oktober 2026, Maung Bandung Tampil di 3 Kompetisi
  • Pasutri di Cimahi Edarkan Uang Palsu Rp100 Ribu Selama 4 Bulan, Terbongkar di Warung
  • Reshuffle Kabinet Prabowo 1 Oktober: 18 Pejabat Dilantik, Ada Kapolri dan Menko Baru
  • Catat! Ini Jadwal Operasi Antik Lodaya 2026 di Jawa Barat
  • Berburu Sarapan di Bandung? 7 Kuliner Legendaris Ini Wajib Masuk Daftar
  • BSU Oktober 2026 Rp900 Ribu, Cek Syarat Penerima dan Desilnya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 1 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Dua Sesi Sehari, Tanpa Bayaran: Anatomi Ketulusan Mbah Melan, Guru Matematika di Balik Layar TikTok

By Aga GustianaSabtu, 1 Agustus 2026 13:30 WIB6 Mins Read
Mbah Melan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah gempuran konten hiburan instan yang memenuhi linimasa media sosial hari ini, ada sebuah pemandangan yang menyejukkan sekaligus mengharukan. Setiap sore menjelang petang dan berlanjut hingga malam hari, layar TikTok diramaikan oleh sosok pria paruh baya berseragam rapi, berdiri tegap di depan papan tulis putih, dengan sabar merumuskan angka-angka aljabar dan geometri.

Ia bukanlah seorang kreator konten muda yang mengejar popularitas atau algoritma viral demi pundi-pundi komersial. Ia adalah Melan Achmad, atau yang akrab disapa netizen dengan penuh takzim sebagai Mbah Guru atau Mbah Melan. Di usianya yang telah melampaui delapan dekade, Mbah Melan mendedikasikan waktu luangnya untuk meruntuhkan mitos bahwa matematika adalah momok yang menakutkan, sekaligus menunjukkan bahwa usia senja bukanlah halangan untuk terus menebar manfaat.

Akar Pengabdian: 40 Tahun di Dunia Pendidikan

Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 11 Oktober 1945—tepat bertepatan dengan detik-detik awal kemerdekaan Republik Indonesia—Melan Achmad ditempa dalam tradisi pendidikan yang kuat. Ia menempuh pendidikan di Didaktik Kurikulum Taman Siswa, Yogyakarta, sebuah lembaga pendidikan legendaris yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara. Tak cukup sampai di situ, ia kemudian memperdalam ilmunya dengan meraih gelar ganda dalam bidang matematika dan didaktik kurikulum dari Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Karier mengajarnya dimulai sejak tahun 1969. Selama lebih dari empat dekade, yakni 40 tahun lamanya, Mbah Melan mengabdikan diri di ruang-ruang kelas konvensional, mendidik generasi demi generasi anak bangsa. Bahkan, ketika masa purnabaktinya tiba pada tahun 2003, ikatan batin antara dirinya dan dunia pendidikan tidak serta-merta putus. Permintaan dari para murid dan pihak sekolah membuatnya kerap kembali ke ruang kelas demi membagikan ilmu yang dimilikinya.

Menyulap Ruang Tengah Menjadi Ruang Kelas Digital

Bagi sebagian besar pensiunan, masa tua dihabiskan dengan beristirahat menikmati hari. Namun, prinsip hidup Mbah Melan berbeda. Ia mengaku tidak sanggup berdiam diri tanpa aktivitas yang produktif. Niat awalnya setelah pensiun adalah membuka sebuah bimbingan belajar konvensional. Sayangnya, keterbatasan modal serta fasilitas membuat rencana tersebut menemui jalan buntu.

Titik balik kehidupan digitalnya bermula dari saran sang menantu, Mei Karina. Melihat mertuanya yang gelisah karena rindu mengajar dan memiliki energi melimpah, sang menantu menyarankan agar Mbah Melan memanfaatkan fitur siaran langsung di aplikasi TikTok. Dari sinilah sebuah babak baru dimulai.

Tanpa studio mewah atau peralatan canggih, Mbah Melan menyulap ruang tengah rumahnya di Purworejo menjadi ruang kelas matematika dadakan. Ia menyiapkan papan tulis kecil, spidol warna-warni, dan mengenakan pakaian rapi layaknya hendak mengajar di sekolah formal. Dalam sehari, ia tidak tanggung-tanggung menggelar dua sesi siaran langsung: sore hari pukul 16.00 dan malam hari pukul 19.30 WIB. Masing-masing sesi berdurasi sekitar satu setengah jam.

“Awalnya yang menonton siaran langsung hanya satu atau dua orang saja. Kadang kosong. Tapi saya tidak peduli berapa jumlah yang hadir, karena niat saya ikhlas membagikan ilmu agar anak-anak tidak benci matematika.” — Mbah Melan

Dari Penonton Segelintir hingga Ribuan Murid Maya

Kesabaran dan konsistensi tidak pernah mengkhianati hasil. Apa yang bermula dari ruangan kosong dengan satu-dua penonton perlahan-lahan berubah menjadi fenomena. Algoritma kebaikan bekerja; video siaran langsung Mbah Melan mulai menarik perhatian pengguna TikTok dari berbagai penjuru tanah air.

Kini, setiap kali ia menyalakan ponselnya untuk memulai kelas, ribuan pasang mata dari berbagai kelompok usia—mulai dari murid kelas 5-6 Sekolah Dasar, pelajar SMP kelas 7-9, hingga siswa SMA kelas 10-12—berbondong-bondong “masuk kelas” di kolom komentar. Mbah Melan mengajar dengan metode klasik yang sabar: menjelaskan rumus, menulis langkah-langkah penyelesaian secara runtut di papan tulis, membuka sesi tanya jawab interaktif, hingga membuat para penonton setianya merasa seperti duduk di barisan depan kelas nyata.

Tidak hanya berhenti di TikTok, jejak digital pengabdiannya kini diperluas melalui kanal YouTube bertajuk Mbah Guru Matematika, di mana ribuan pengikut setia dapat mengulang kembali materi-materi pelajaran yang telah diunggah.

Apresiasi Publik dan Suara Warga di Ruang Digital

Kehadiran Mbah Melan di tengah ekosistem media sosial tidak hanya mendulang decak kagum, tetapi juga memantik gelombang apresiasi yang tulus dari warganet. Kolom komentar di setiap siaran langsung maupun potongan video beliau kerap dipenuhi oleh ungkapan terima kasih, rasa hormat, hingga refleksi sosial mendalam dari masyarakat luas.

Banyak netizen yang merasa takjub dengan cara Mbah Melan mendedikasikan sisa usianya untuk mengisi ruang edukasi publik yang kerap kali terabaikan. Berbagai tanggapan hangat mengalir memuji ketulusan dan gaya mengajarnya yang telaten:

“Amanat undang-undang mencerdaskan kehidupan bangsa, diambil perannya oleh warga sipil lewat mbahnya, sehat selalu mbah, amin,” tulis salah seorang netizen di kolom komentar.

Banyak pula yang menyoroti metode penyampaian materi Mbah Melan yang sangat runtut, tenang, serta mudah dipahami oleh siapa saja tanpa pandang bulu:

“Tapi si mbah ngajarnya jelas dan pelan sih. Beliau jujur lebih berguna dari pejabat-pejabat skrg,” timpal netizen lainnya.

Selain itu, kemudahan akses belajar yang dihadirkan oleh Mbah Melan dinilai memberikan solusi nyata bagi pelajar di berbagai daerah untuk mendapatkan bimbingan belajar berkualitas secara cuma-cuma:

“Anak jaman sekarang udah segampang itu buat nyari tempat belajar tanpa perlu bayar les mahal-mahal,” puji netizen lain yang merasakan langsung manfaat dari kelas daring tersebut.

Penghargaan Negara dan Air Mata Presiden

Dedikasi luar biasa yang ditunjukkan Mbah Melan tidak luput dari perhatian publik nasional, hingga akhirnya sampai pada meja pemerintahan tertinggi. Pada perayaan puncak Hari Guru Nasional 2024 yang dihelat di Jakarta International Velodrome, Jakarta Timur, pada Kamis, 28 November 2024, Mbah Melan menerima penghargaan khusus langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Di hadapan ribuan hadirin, Mbah Melan yang akrab disapa Mbah Guru Matematika itu dianugerahi plakat kehormatan, satu unit laptop penunjang aktivitas digital, serta bantuan dana sebesar Rp 100 juta. Momen penyerahan tersebut menjadi salah satu titik paling emosional dalam acara tersebut.

Presiden Prabowo Subianto, dalam sambutannya, menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah kunci dari keberhasilan sebuah bangsa. Prabowo kemudian menyampaikan bahwa pemerintah akan terus berupaya memperbaiki kualitas hidup rakyat, termasuk para guru di seluruh pelosok negeri. Ia mengaku menyadari bahwa upaya yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan guru belum sepenuhnya mencukupi.

Dengan suara yang bergetar dan terbata-bata, Presiden tak kuasa menahan air matanya:

“Tapi ini adalah… upaya kami dan ini akan kami upayakan terus. Saudara-saudara kita harus memperbaiki kehidupan seluruh rakyat kita.” — Presiden Prabowo Subianto

Air mata yang tumpah dari seorang pemimpin negara di samping sosok guru sepuh berusia 79 tahun kala itu menjadi simbol persatuan antara negara dan para pahlawan tanpa tanda jasa. Penghargaan tersebut bukan sekadar apresiasi materi, melainkan pengakuan moral yang mendalam bahwa ketulusan seorang guru melampaui batas ruang kelas fisik.

Warisan Ketulusan untuk Generasi Bangsa

Cerita inspiratif Melan Achmad membuktikan bahwa pahlawan masa kini dapat hadir dari mana saja, bahkan dari ruang tamu sederhana di sudut Purworejo. Di saat banyak orang merasa berhak beristirahat total di masa tua, Mbah Melan justru memilih untuk terus menyalakan lilin kecil di tengah tantangan literasi numerik bangsa.

Melalui papan tulis kecil dan gawai pintar di tangannya, Mbah Melan telah menginspirasi jutaan anak muda Indonesia bahwa ilmu pengetahuan tidak untuk disimpan sendiri, melainkan untuk disebarkan seluas-luasnya. Ia adalah potret nyata dari sebuah dedikasi abadi: bahwa seorang guru sejati tidak akan pernah benar-benar pensiun dari panggilan jiwanya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Berburu Sarapan di Bandung? 7 Kuliner Legendaris Ini Wajib Masuk Daftar

Batal Cerai atau Prank? Kemunculan Demian di Live Sara Wijayanto Bikin Heboh, Cinta Belum Usai?

Jangan Lewatkan! Ini Jadwal Indonesia di Asian Games 2026 1 Oktober, Ada Duel Perebutan Emas

Bansos PKH September 2026 Belum Cair? Cek Status Penerima Lewat HP Cukup Pakai NIK

Rekomendasi Kuliner Malam Bekasi: Tempat Nongkrong & Makan Enak yang Buka Seharian

Bikin Ngiler! 4 Nasi Goreng Bandung dengan Racikan Unik dan Topping Melimpah

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.