bukamata.id – Dalam dunia politik, sering kali sorotan publik terpusat pada ucapan atau kebijakan seorang pejabat. Namun, peristiwa yang menimpa Dheninda Chaerunnisa, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Gorontalo Utara, membuktikan bahwa ekspresi wajah pun dapat menjadi bumerang besar.
Perempuan muda berusia 22 tahun itu kini tengah menjadi buah bibir setelah ekspresinya saat menghadapi aksi demonstrasi viral di media sosial.
Dalam potongan video berdurasi singkat, Dheninda terlihat jutek ketika perwakilan massa tengah berorasi di depan kantor DPRD pada Senin (13/10/2025). Ekspresi itu memicu kemarahan publik, terutama di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat.
Momen Ekspresi yang Picu Kemarahan Massa
Dalam waktu singkat video tersebut menyebar luas ke berbagai platform media sosial. Dalam video itu, Dheninda berdiri di barisan depan bersama Ketua DPRD Gorontalo Utara Dedy Dunggio dan Wakil Ketua DPRD Ridwan Riko Arbie. Mereka menerima aspirasi dari Aliansi Masyarakat Peduli Gorontalo Utara (AMP-Gorut).
Di tengah pidato berapi-api perwakilan massa, kamera menangkap Dheninda memperlihatkan ekspresi yang dinilai publik sebagai gestur mencibir. Aksi spontan itu seketika memancing reaksi keras dari peserta aksi di lapangan. Beberapa orator bahkan berhenti berbicara karena merasa diejek.
Koordinator aksi, Andi S. Buna, mengecam keras tindakan tersebut.
“Kami datang dengan itikad baik membawa suara rakyat, tapi yang kami dapat justru sikap mencibir dan melecehkan. Ini bentuk arogansi dan ketidakhormatan terhadap publik,” ujarnya tegas.
Andi menambahkan bahwa aksi tersebut awalnya dimaksudkan untuk menyuarakan berbagai persoalan serius, mulai dari dugaan praktik calo dalam rekrutmen PPPK paruh waktu, pelanggaran pembayaran upah di bawah UMR, hingga tunggakan PBB oleh perusahaan di wilayah Gorontalo Utara. Namun, fokus publik kini justru teralih pada sikap Dheninda.
“Harusnya mereka mendengar, bukan mencibir. Rakyat datang bukan untuk dijadikan bahan lelucon,” lanjut Andi.
Gelombang Kritik Netizen: “Petantang-petenteng di Depan Orang Berjuang”
Tak butuh waktu lama, video tersebut viral dan menjadi bahan perbincangan nasional. Netizen dari berbagai daerah ikut mengomentari sikap Dheninda. Komentar bernada hujatan membanjiri kolom komentar unggahan video tersebut.
Beberapa komentar warganet antara lain:
“Copotttt, petantang-petenteng di depan orang-orang yang lagi perjuangkan haknya. Bangga sekali kayanya sama jabatannya.”
“Sekolah tinggi tidak menjamin seseorang punya adab dan etika.”
“Gini nih kalau masuk jalur orang dalam.”
“Belum lulus sudah jadi anggota dewan, aura nggak bisa kerjanya kuat banget.”
Gelombang kritik tersebut bahkan berdampak pada aktivitas media sosial pribadi Dheninda. Akun Instagram pribadinya,*@dinychaerunnisa_, yang sebelumnya aktif membagikan kegiatan politik dan keseharian, kini hilang. Penelusuran menunjukkan akun tersebut telah dihapus atau dinonaktifkan sementara.
Dheninda Klarifikasi: “Saya Bukan Mencibir”
Dheninda akhirnya angkat bicara. Dalam keterangan pers di Gorontalo, Selasa (14/10/2025), ia membantah keras tudingan bahwa dirinya mencibir peserta aksi.
“Jadi sebenarnya di video itu saya bukan bermaksud mencibir orator, tetapi saya sedang berkomunikasi melalui ekspresi wajah dengan karyawan orang tua saya yang sempat hadir pada saat demo itu, karena memberikan gestur jempol kepada saya,” jelasnya.
Menurut Dheninda, orang tersebut adalah karyawan usaha milik keluarganya yang datang untuk memberikan dukungan moril. Ia mengaku merespons dengan ekspresi wajah yang kemudian dipotong dan dipelintir dalam video yang beredar.
“Sebenarnya ada kelanjutannya. Saya lihat lagi orang di sebelah karyawan saya juga, saya kenal. Pas saya lihat ada karyawan saya, saya kasih ekspresi. Jadi nggak ada maksud sama sekali untuk mencibir,” terangnya.
Meski merasa videonya dipelintir, Dheninda tetap menyampaikan permintaan maaf.
“Ke depannya akan saya perbaiki. Ketika ada demo-demo lagi saya akan ekspresi datar saja dan tidak akan melihat ke mana-mana karena takutnya akan dipelintir-pelintir,” katanya.
Profil Dheninda: Politikus Muda yang Naik Daun
Insiden ini menjadi sorotan lebih tajam karena sosok Dheninda tergolong muda dan mencolok di panggung politik Gorontalo. Lahir pada 2 April 2002, Dheninda mencatatkan diri sebagai anggota DPRD termuda di Gorontalo Utara saat terpilih pada Pemilu 2024. Ia saat itu baru berusia 21 tahun.
Berbekal suara pribadi sebanyak 2.846 suara dari Partai NasDem, ia menempati posisi dengan perolehan suara tertinggi di antara 24 anggota DPRD terpilih lainnya. Karier politiknya melesat cepat. Selain aktif di parlemen, ia juga dipercaya menjadi bendahara Garda Pemuda NasDem Gorontalo Utara.
Perempuan yang akrab disapa Dini ini merupakan anak sulung dari pasangan pengusaha Roni Patinasarani dan Shanti Shera. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 1 Moluo, kemudian SMP Negeri 1 Kwandang, dan SMA Islam Athirah Makassar. Saat ini ia masih menempuh studi hukum di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Kemampuan berbicaranya yang baik dan jaringan keluarganya yang luas membuatnya cepat dikenal publik. Namun, insiden ekspresi wajah ini menjadi ujian besar pertama dalam karier politiknya.
Harta Kekayaan: Rp277 Juta
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) per 6 Juni 2024, total kekayaan Dheninda tercatat Rp277.744.101. Rinciannya:
- Tanah seluas 197 m² di Kabupaten Gorontalo Utara senilai Rp100 juta
- Tanah seluas 856 m² di Kabupaten Gorontalo Utara senilai Rp150 juta
- Kas dan setara kas sebesar Rp27,7 juta
Ia tidak tercatat memiliki kendaraan, surat berharga, maupun harta bergerak lainnya. Tidak ada catatan utang.
Gestur yang Jadi Cermin Politik
Kasus Dheninda menjadi pelajaran penting dalam komunikasi politik. Di era digital, setiap gestur wajah, ekspresi spontan, atau senyuman sinis dapat ditangkap kamera dan ditafsirkan publik secara luas. Dalam konteks demonstrasi yang membawa isu serius, ekspresi jutek pejabat publik dapat dianggap sebagai bentuk merendahkan perjuangan rakyat.
Apalagi, peristiwa ini terjadi saat tingkat kepercayaan publik terhadap DPRD tengah menurun. Survei nasional beberapa tahun terakhir menunjukkan citra lembaga legislatif sering dipersepsikan negatif akibat perilaku elit politik yang dianggap jauh dari rakyat.
Dalam konteks ini, ekspresi wajah Dheninda bukan hanya soal mimik pribadi — tapi simbol relasi kekuasaan yang timpang antara rakyat dan pejabat publik. Netizen pun merespons keras, bukan hanya terhadap gestur itu sendiri, melainkan terhadap apa yang mereka anggap sebagai arogansi politik muda yang lahir dari privilese.
Pelajaran: Pejabat Tak Cukup “Berbicara Benar”
Kasus ini mengingatkan bahwa menjadi pejabat publik bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana bersikap dan menampilkan diri di hadapan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital, satu gestur kecil dapat berkembang menjadi badai opini.
Bagi Dheninda, yang usianya baru 22 tahun dan baru satu tahun menjabat, insiden ini menjadi pelajaran awal yang sangat mahal. Karier politik yang awalnya bersinar kini diuji oleh hal yang tampak sepele namun berdampak besar: ekspresi wajah.
Kesimpulannya, kasus “senyum jutek” ini memperlihatkan bahwa komunikasi nonverbal pejabat publik bisa menjadi alat ukur kepekaan sosial. Bukan hanya sikap dan perkataan yang dituntut etis, ekspresi pun harus dijaga, terutama di ruang publik dan momen sensitif seperti demonstrasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











