bukamata.id – Langkah mitigasi ekstra kini tengah digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka. Berdasarkan proyeksi meteorologi, fenomena cuaca ekstrem El Nino diprediksi bakal memicu bencana kekeringan parah serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut. Adapun fase kritis dari lonjakan suhu ini diperkirakan bakal berlangsung sepanjang periode Juni hingga Agustus 2026.
“Berdasarkan informasi BMKG dan koordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Barat, ekstremnya itu diperkirakan sekitar Juni, Juli, Agustus. Tapi sebetulnya berdasarkan BMKG itu bisa berlangsung sampai enam bulan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Majalengka Agus Tamim, Jumat (22/5/2026).
Ancaman Karhutla di Kaki Gunung Ciremai
Agus memaparkan bahwa potensi amukan si jago merah membayangi hampir seluruh kawasan pedesaan di Majalengka. Titik paling rawan didominasi oleh desa-desa yang berada di kawasan sabuk hijau kaki Gunung Ciremai. Kendati demikian, wilayah dataran rendah yang dipenuhi semak belukar juga tidak luput dari status siaga.
“Kalau kebakaran hutan memang banyak di kaki Gunung Ciremai. Tapi ada juga wilayah lain yang banyak kebun dan ilalang kering, itu juga rawan terbakar,” ujarnya.
Bukan hanya masalah kebakaran, krisis ekologis ini juga diproyeksikan bakal memukul sektor pemenuhan kebutuhan dasar warga. BPBD mengidentifikasi ada puluhan desa yang rentan mengalami kelangkaan pasokan air untuk konsumsi harian.
“Kurang lebih tahun ini diprediksi ada 30 desa yang terancam kekeringan terkait kebutuhan air minum. Mudah-mudahan jangan sampai terjadi,” ungkap Agus.
Strategi Pasokan Air dan Keterbatasan Armada
Guna meredam dampak yang lebih luas, Penjabat Bupati Majalengka, Eman Suherman, telah memerintahkan jajaran BPBD untuk menyusun skema darurat dan memperkuat sinergi bersama PDAM untuk mengawal distribusi air bersih ke pemukiman warga.
Namun, Agus tidak menampik adanya kendala teknis berupa keterbatasan jumlah armada truk tangki operasional yang dimiliki BPBD saat ini. Merespons kendala tersebut, pihak pemkab langsung bergerak cepat melayangkan permohonan sokongan sarana ke tingkat provinsi.
“Kita memang terbatas tangki air. Kemarin Pak Bupati mengarahkan agar segera dibuat surat usulan ke provinsi untuk peminjaman tangki air sebagai antisipasi kebutuhan air bersih,” katanya.
Sebagai informasi, saat ini BPBD Majalengka hanya bersandar pada satu unit truk tangki air. Kendati minim armada, pemkab optimistis penanganan akan berjalan lancar berkat adanya komitmen bantuan dari pihak swasta dan pemanfaatan jaringan hidran.
“PDAM selama ini banyak membantu kita, terutama memberi kemudahan mengambil air dari sumber-sumber air yang ada. Perusahaan-perusahaan juga biasanya ikut membantu masyarakat sekitar,” tutur Agus.
Di akhir penjelasannya, Agus meminta warga Majalengka untuk tetap tenang dan tidak merespons situasi ini dengan kepanikan yang berlebihan. Ia memastikan sistem kedaruratan telah siap bekerja berdasarkan evaluasi penanganan bencana pada tahun-tahun sebelumnya.
“Masyarakat jangan panik. Pemerintah insyaallah hadir ketika ada kebutuhan masyarakat. Kita juga sudah memetakan daerah-daerah rawan berdasarkan pengalaman dua sampai tiga tahun terakhir,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










