bukamata.id – Musisi sekaligus penulis Fiersa Besari membagikan cerita di balik perjalanannya menaklukkan Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Afrika. Pendakian tersebut menjadi pengalaman yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga memberikan pelajaran tentang batas kemampuan diri, keluarga, hingga kecintaannya terhadap Indonesia.
Kilimanjaro merupakan gunung berapi tertinggi di Afrika dengan ketinggian mencapai 5.895 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung yang berdiri sendiri, tidak berada dalam rangkaian pegunungan, ini memiliki tiga kerucut utama, yakni Kibo, Mawenzi, dan Shira. Sementara titik tertingginya berada di Puncak Uhuru, yang berada di Kibo.
Bagi Fiersa, pendakian tersebut menjadi pengalaman pertamanya mencapai ketinggian hampir 6.000 mdpl. Kondisi fisik yang menurun bahkan sempat membuatnya mempertimbangkan untuk menghentikan perjalanan.
“Ini pertama kali saya mendaki sampai ketinggian hampir 6 ribu mdpl. Jadi memang campur aduk sekali, saya hampir menyerah, ada potensi saya gagal,” kata Fiersa saat menghadiri nonton bareng film ekspedisi Kilimanjaro di Store Arei Cihampelas, Rabu (20/8/2026) malam.
Meski sempat mengalami kendala fisik, Fiersa akhirnya memilih meneruskan perjalanan setelah mendapatkan pertimbangan medis. Ia mengaku keberadaan dokter selama ekspedisi turut memberikan rasa aman untuk melanjutkan pendakian.
Setelah melewati berbagai tantangan, Fiersa akhirnya berhasil mencapai Puncak Uhuru.
“Sudah minum obat, terus ada dokter juga di situ. Akhirnya saya berani melanjutkan sampai akhirnya nyampe. Rasanya sangat-sangat mengharukan,” ujarnya.
Kibarkan Merah Putih di Puncak Afrika
Keberhasilan mencapai Uhuru menjadi semakin bermakna bagi Fiersa karena ia membawa dan mengibarkan bendera Merah Putih di titik tertinggi Gunung Kilimanjaro.
Menurut Fiersa, momen tersebut memiliki makna khusus karena kata Uhuru sendiri berarti kemerdekaan atau kebebasan. Pendakian itu pun sengaja ditayangkan dalam momentum yang berdekatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia.
“Ketika bisa disiarkan berdekatan dengan waktu kita 17-an, arti kata Uhuru atau kemerdekaan atau kebebasan itu menjadi sakral sekali ketika saya bisa mengibarkan bendera Indonesia di puncak itu,” tuturnya.
Pengalaman tersebut juga membuat Fiersa kembali memandang hubungan antara kritik terhadap pemerintah dan kecintaan terhadap negara. Ia menilai kritik terhadap kebijakan bukan berarti kehilangan rasa cinta terhadap Indonesia.
Baginya, justru kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi merupakan salah satu bentuk kecintaan terhadap negeri.
“Mengkritik kebijakan-kebijakan yang ada itu justru membuktikan bahwa kita masih mencintai dan peduli sama negara ini,” katanya.
Keluarga Jadi ‘Jangkar’ Saat Berada di Negeri Orang
Di tengah perjalanan panjang dan kondisi alam yang menantang, Fiersa mengatakan ada satu hal yang selalu menjadi pengingat untuk kembali, yakni keluarga.
Anak dan istrinya disebut menjadi alasan sekaligus tempat kembali ketika ia harus melakukan perjalanan jauh ke berbagai negara.
Ia mengaku, meski banyak tempat indah yang ditemui selama perjalanan, kerinduan terhadap rumah tetap muncul.
“Ketika kita pergi ke negara secantik apa pun, dengan gunung-gunung sekeren apa pun, tapi ketika kita punya jangkar di rumah, ya tetap saja tempat terindah itu ya rumah,” ucapnya.
Kilimanjaro Tetap Butuh Persiapan Matang
Fiersa menilai Kilimanjaro memang memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah gunung dalam rangkaian Seven Summits. Namun, kondisi tersebut bukan berarti pendakian bisa dilakukan tanpa persiapan.
Salah satu tantangan yang ia rasakan adalah panjang jalur pendakian yang mencapai sekitar 73 kilometer dengan elevasi yang terus meningkat.
Kondisi tersebut dapat menjadi persoalan bagi tubuh yang belum terbiasa dengan ketinggian. Sejumlah risiko seperti gangguan pernapasan, disorientasi hingga hipotermia tetap perlu diantisipasi.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mempersiapkan kondisi fisik sebelum melakukan pendakian di gunung dengan karakteristik ekstrem.
“Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara latihan dengan matang, supaya ketika kita datang ke gunung-gunung di luar sana, kita siap menghadapi segala potensi dan segala risiko,” ujarnya.
Arei Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Internasional
Sementara itu, Commanditaire Arei Bryant Peter Budijanto mengatakan kerja sama dengan Fiersa Besari menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkenalkan kemampuan produk lokal melalui berbagai kegiatan ekspedisi.
Menurut Bryant, pendakian Kilimanjaro menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang dapat membuka peluang untuk kegiatan serupa di masa mendatang.
“Kami juga sangat terbuka untuk setiap peluang kerja sama ke depannya. Salah satunya adalah pendakian Gunung Kilimanjaro, dan mungkin nanti akan ada pendakian lain yang sebelumnya sudah sempat kami sebutkan, meski lokasinya belum bisa dipastikan,” kata Bryant.
Ia menambahkan, produk buatan Indonesia memiliki peluang untuk digunakan dalam berbagai kondisi, termasuk aktivitas di lingkungan ekstrem.
“Kami ingin membuktikan bahwa kemampuan dan kekuatan produk lokal Indonesia mampu bersaing hingga ke luar negeri, bahkan untuk menjelajahi pegunungan bersalju di belahan dunia lain,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










