bukamata.id – Ketegangan diplomatik di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Pemerintah Pakistan melontarkan kecaman keras terhadap agresi militer Israel di Lebanon. Di tengah upaya Islamabad menjadi mediator perdamaian, serangan udara Israel justru dinilai sebagai upaya penghancuran kemanusiaan secara sistematis.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, secara terbuka menyebut aksi militer tersebut sebagai bentuk genosida. Pernyataan ini muncul saat Pakistan tengah sibuk memfasilitasi dialog tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran.
Kecaman Keras Khawaja Asif
Melalui platform media sosial X, Asif mengungkapkan kemarahannya atas ketidakmampuan diplomasi menghentikan jatuhnya korban sipil. Ia tidak segan-segan menggunakan kata-kata tajam untuk menggambarkan situasi di lapangan.
“Israel itu jahat dan kutukan bagi umat manusia, sementara perundingan damai sedang berlangsung di Islamabad, genosida sedang dilakukan di Lebanon,” tulis Asif (9/4/2026).
Kekecewaan ini didasari atas terus berlanjutnya pertumpahan darah yang kini meluas dari Gaza hingga ke wilayah Lebanon.
“Warga sipil tidak bersalah dibunuh oleh Israel, pertama Gaza, kemudian Iran, dan sekarang Lebanon, pertumpahan darah terus berlanjut tanpa henti,” tambahnya.
Negara “Kanker” dan Kegagalan Gencatan Senjata
Lebih jauh, Asif menggambarkan eksistensi Israel sebagai pemicu ketidakstabilan global yang destruktif. Dalam nada yang emosional, ia juga menyentuh sejarah pembentukan negara tersebut di tanah Palestina.
“Saya berharap dan berdoa agar orang-orang yang menciptakan negara kanker ini di tanah Palestina, yang bertujuan untuk menyingkirkan orang-orang Yahudi di Eropa, terbakar di neraka,” tegas Asif.
Komentar pedas ini muncul bukan tanpa alasan. Hanya dalam hitungan hari sejak serangan udara diintensifkan pada Rabu (8/4), korban jiwa dilaporkan mencapai sedikitnya 303 orang, dengan lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
Sengketa Diplomasi: Gencatan Senjata yang Simpang Siur
Ironisnya, serangan ini terjadi di tengah klaim Pakistan mengenai kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran yang seharusnya turut mencakup wilayah Lebanon. Namun, skenario perdamaian ini pecah setelah Israel dan Amerika Serikat membantah bahwa perjanjian tersebut berlaku untuk front Lebanon.
Saat ini, Pakistan masih berupaya keras mempertahankan posisinya sebagai mediator utama di Islamabad, meski tantangan di lapangan semakin berdarah dan tak menentu.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









