Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bojan Hodak Bongkar Filosofi ‘Yang Penting Menang’, Persib Tetap Kokoh di Puncak

Selasa, 24 Februari 2026 12:22 WIB

Viral Lagi! Link Video Teh Pucuk 17 Menit di Telegram, Jadi Buruan Netizen

Selasa, 24 Februari 2026 12:03 WIB

Big Match Alert! Persib vs Madura United dan Laga Seru Lainnya di Super League Pekan ke-23

Selasa, 24 Februari 2026 11:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bojan Hodak Bongkar Filosofi ‘Yang Penting Menang’, Persib Tetap Kokoh di Puncak
  • Viral Lagi! Link Video Teh Pucuk 17 Menit di Telegram, Jadi Buruan Netizen
  • Big Match Alert! Persib vs Madura United dan Laga Seru Lainnya di Super League Pekan ke-23
  • Harus Pulang atau Tetap di Luar? Ilmuan Jepang Ini Beri Sindiran Halus untuk Alumni LPDP
  • Tak Banyak yang Tahu! Lisa BLACKPINK Diam-diam Syuting di Cafe Kemang
  • Klik pintar.bi.go.id: Ini Panduan Lengkap Tukar Uang Baru 2026 di Jabar, Cek Lokasinya
  • Sinyal Bahaya bagi Lawan: Kekuatan Persib Bandung Kembali Utuh di Saat yang Tepat
  • Suporter Madura United Dilarang Hadir di GBLA, Ada Apa?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 24 Februari 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Harus Pulang atau Tetap di Luar? Ilmuan Jepang Ini Beri Sindiran Halus untuk Alumni LPDP

By SusanaSelasa, 24 Februari 2026 10:31 WIB4 Mins Read
Sastia Prama Putri, diaspora Indonesia yang telah 21 tahun tinggal di Jepang. Foto: Instagram @sas.tiaputri.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sorotan publik terhadap Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tengah menguat. Namun kali ini, perbincangan tidak berkisar pada tips lolos seleksi atau strategi wawancara.

Isu yang berkembang justru menyentuh hal lebih sensitif: dugaan tumpang tindih profil penerima beasiswa serta komitmen pengabdian para alumni (awardee) setelah menyelesaikan studi.

Di tengah riuhnya diskusi itu, muncul satu nama yang ramai diperbincangkan warganet. Ia bukan awardee LPDP, tetapi kisahnya dianggap relevan untuk menjawab pertanyaan mendasar: apakah pengabdian kepada Indonesia selalu harus dilakukan dengan pulang dan menetap di tanah air?

Diaspora yang Memilih Tetap WNI

Sastia Prama Putri, diaspora Indonesia yang telah 21 tahun tinggal di Jepang, membagikan kebanggaannya karena tetap mempertahankan paspor Indonesia. Melalui unggahannya, ia menegaskan identitasnya sebagai Warga Negara Indonesia meski telah lama menetap di luar negeri.

“Membantu tempe mendunia lewat inovasi anak bangsa, meningkatkan ekspor komoditas prioritas Indonesia ke Jepang, mendidik puluhan mahasiswa Indonesia yang sudah dan akan kembali ke tanah air,” tulisnya di akun Instagram @sas.tiaputri.

Langkah tersebut menuai respons luas. Warganet menilai, sikapnya menjadi contoh bahwa nasionalisme tidak selalu diukur dari lokasi geografis.

Baca Juga:  Ironi! Salsa Erwina Sampai Diserang Surat Fitnah, Dituduh Provokator

Komentar yang dikutip dari kolom Instagram @pandemictalks, Senin (24/2/2026), memperlihatkan dukungan publik.

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia di manapun berada… Keep loving Indonesia,” tulis akun @bob***.

“Nah ini bener. Mengharumkan nama bangsa,” komentar @vin***.

“Bentuk pengabdian gak harus pulang ke Indo juga kan. Mendukung Indo dari luar,” tambah akun @ros***.

Narasi tersebut mengemuka beriringan dengan perdebatan tentang kewajiban kembali dan kontribusi nyata para penerima beasiswa negara.

Dari ITB ke Osaka University

Perjalanan akademik Sastia dimulai di Institut Teknologi Bandung (ITB), Program Studi Biologi. Lulus pada 2004, ia berangkat ke Jepang sebagai research trainee. Saat itu, ia tak pernah membayangkan akan menjadi ilmuwan Indonesia pertama yang meraih penghargaan bergengsi di Negeri Sakura.

Pada 2024, ia menerima Ando Momofuku Award kategori Invention Discovery Encouragement Award. Namanya direkomendasikan langsung oleh Presiden Osaka University, sebuah pengakuan atas kontribusinya di bidang teknologi pangan.

Baca Juga:  Diaspora Salsa Erwina Tantang Ahmad Sahroni Debat Terbuka Soal Tunjangan DPR

Sebagai Associate Professor di Osaka University, ia terlibat dalam riset kolaboratif dengan Harvard Medical School. Penelitian tersebut menemukan senyawa aktif baru dalam tempe, yakni meglutol, yang berpotensi menurunkan kolesterol.

Temuan itu tak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga diaplikasikan dalam pengembangan pangan tradisional Jepang seperti miso dan natto agar lebih sehat.

Diplomasi Ilmiah Lewat Tempe dan Kopi Luwak

Kontribusi Sastia tidak berhenti pada riset laboratorium. Ia aktif mendorong inovasi tempe untuk pasar global, membantu peningkatan standar kualitas komoditas ekspor Indonesia, hingga membimbing puluhan mahasiswa Indonesia di Jepang.

Laboratoriumnya juga menggunakan pendekatan metabolomik untuk menguji keaslian kopi luwak, salah satu kopi termahal di dunia. Upaya ini memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global berbasis sains.

Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama.

“Tujuannya menjadikan diri aku sendiri lebih bermanfaat untuk orang lain… bagaimana bisa menghasilkan kebermanfaatan dengan impact yang lebih tinggi,” ujarnya.

Refleksi di Tengah Polemik Beasiswa

Baca Juga:  Presiden Prabowo Disambut Hangat Diaspora Indonesia saat Tiba di Washington DC

Perdebatan soal LPDP belakangan menyentuh dua isu krusial: integritas seleksi dan komitmen pengabdian. Publik mempertanyakan sejauh mana penerima beasiswa negara benar-benar kembali memberi manfaat bagi Indonesia.

Kisah Sastia menghadirkan perspektif berbeda. Ia memang bukan awardee LPDP, tetapi contoh konkret bahwa kontribusi dapat dilakukan lintas batas negara. Melalui riset, pengajaran, hingga diplomasi ilmiah, dampaknya tetap mengalir ke Indonesia.

Pertanyaan yang kini bergema di ruang digital menjadi lebih reflektif:
Apakah pengabdian harus selalu berbentuk kepulangan fisik, ataukah bisa diwujudkan melalui jejaring global dan transfer pengetahuan?

Di tengah polemik, satu hal menjadi benang merah: investasi pendidikan, baik melalui LPDP maupun jalur lain, pada akhirnya diukur dari dampak nyata. Bukan sekadar gelar, bukan pula lokasi tempat tinggal, melainkan sejauh mana ilmu itu kembali menjadi manfaat.

Dan dari Jepang, lewat tempe, kopi, serta inovasi pangan, seorang ilmuwan Indonesia menunjukkan bahwa cinta pada tanah air bisa hadir dalam bentuk yang tak selalu kasatmata, namun berdampak luas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ando Momofuku Award Diaspora Indonesia Ilmuwan Indonesia di Jepang ITB Alumni Kisah Inspiratif Indonesia Kopi Luwak LPDP Nasionalisme Modern Pengabdian Tanah Air Tempe Inovasi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Si Jago Merah Ngamuk di Pasar Rebo Purwakarta, Puluhan Lapak Pedagang Ludes Tak Bersisa

THR 2026 Naik 10 Persen: PNS, TNI, Polri Bisa Terima di Pekan Pertama Ramadan

Jangan Salah Waktu! Ini Jadwal Imsak Wilayah Bandung Raya 24 Februari 2026

Babak Baru Sengketa Lahan Punclut: Petani Bersatu Deklarasikan MAPAS demi Keadilan Agraria

ASN bisa WFA

6 ASN di Cimahi Langgar Aturan, Ada yang Dipecat Hingga Dicopot Jabatan

Gara-gara Bangga Anak Jadi WNA, Alumnus Penerima LPDP Ini Diminta Balikin Uang Negara Plus Bunga

Terpopuler
  • Viral! Link Video Teh Pucuk 17 Menit No Sensor, Nonton Full Dimana?
  • No Sensor? Link Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Simak Klarifikasinya
  • Link Video Viral Chindo Adidas Ada yang Durasi Panjang, Apa Isinya?
  • Heboh! Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Ada Link Asli?
  • Viral! Link Video Teh Pucuk 17 Menit di Telegram, Berani Klik?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.