bukamata.id – Di balik rimbunnya perkebunan dan tenang laku hidup warga Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kediri, sebuah rahasia besar perlahan bangkit dari tidur panjangnya. Selama berabad-abad, sebuah mahakarya peradaban terkunci rapat di bawah lapisan abu vulkanik Gunung Kelud yang membatu. Namun kini, seiring dengan cangkul arkeolog yang mulai menyentuh struktur batu andesit di kedalaman empat meter, dunia seolah diingatkan kembali pada sebuah narasi besar: bahwa Nusantara bukan sekadar titik di peta, melainkan pusat peradaban purba yang mungkin jauh lebih megah dari yang pernah kita bayangkan.
Penemuan Situs Candi Adan-adan tidak hanya memicu debat ilmiah, tetapi juga menghidupkan kembali diskusi hangat di jagat maya. Banyak yang mengaitkan temuan ini dengan pandangan para tokoh budayawan hingga fenomena klaim sejarah yang sempat viral di masa lalu.
Visi Cak Nun: Antara Intuisi dan Kenyataan
Jauh sebelum video ekskavasi Situs Adan-adan viral, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dalam berbagai forum Maiyah sering menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah “bangsa tertua” di dunia. Baginya, kemegahan Nusantara masa lalu sengaja “disimpan” oleh alam agar tidak rusak oleh tangan-tangan yang belum siap menghargainya.
Sentimen ini rupanya diamini oleh banyak orang yang mengikuti jejak pemikiran beliau. Di kolom komentar media sosial, seorang netizen menuliskan kekagumannya terhadap ketepatan pandangan tersebut:
“Ada yg sadar?? cak nun seakan tahu apa yg akan terjadi d Indonesia beberapa tahun ke depan.,” tulisnya, menyiratkan bahwa penemuan di Kediri ini bukanlah sebuah kebetulan semata.
Misteri Makara yang Melampaui Borobudur
Secara ilmiah, skala Candi Adan-adan memang mengejutkan. Temuan sepasang makara—hiasan hewan mitologi penjaga tangga candi—memiliki ketinggian mencapai 2,1 hingga 2,3 meter. Ukuran ini jauh melampaui makara di Candi Borobudur. Dalam kaidah arsitektur klasik, ukuran makara bersifat proporsional terhadap bangunan utamanya. Jika “penjaga pintunya” saja setinggi itu, maka struktur bangunan induknya diprediksi sangat monumental.
Namun, posisi candi yang terkubur sangat dalam memicu spekulasi lain di masyarakat. Apakah ini murni karena bencana alam, ataukah ada campur tangan manusia untuk melindunginya? Seorang netizen berbagi sudut pandang menarik terkait hal ini:
“Masih heran.. Sbnrnya tu candi2 ketutup alami ato sengaja ditutupin? Krn kok hampir smua ketutup.. Dl pernah ngbrol sama kuncen, dia bilang ada yg sngaja ditutupin saat penjajah ke nusantara biar ga di rusak,” ungkapnya.
Teori ini menambah bumbu misteri: bahwa tanah Nusantara mungkin sengaja “menyembunyikan” dirinya sendiri demi bertahan hidup dari penjarahan kolonial.
Saksi Bisu Amukan Kelud dan Narasi Sunda Land
Penelitian geologi menemukan lebih dari 10 lapisan material vulkanik Gunung Kelud yang menutupi situs ini hingga kedalaman 4 meter. Meski bukti ilmiah menunjuk pada bencana alam, penemuan candi raksasa ini juga membangkitkan kembali ingatan publik pada tokoh kontroversial lainnya, seperti almarhum Lord Rangga, yang sering bicara soal tatanan dunia lama.
Meski sempat dianggap lelucon, bagi sebagian orang, penemuan bukti fisik kemegahan masa lalu ini seolah menyusun kepingan teka-teki sejarah yang selama ini terpinggirkan.
“Ucapan Lord Rangga pelan² mulai terbukti bahwa Sunda Land atau Sunda Empire kerajaan Tertua di Dunia dan bisa merubah Tatanan Dunia,” cetus salah seorang netizen di tengah diskusi mengenai Situs Adan-adan.
Pusat Peradaban yang Kembali Menyapa
Situs ini diprediksi berasal dari era abad ke-9 hingga ke-11 Masehi, menempatkannya di antara kejayaan Mataram Kuno hingga awal Kerajaan Kadiri. Temuan fragmen stupa hexagonal hingga kepala arca Buddha yang halus menunjukkan bahwa Kediri pada masanya adalah pusat intelektual dan spiritual yang luar biasa.
Kini, proses ekskavasi masih dilakukan secara bertahap. Sebagian artefak bahkan dikubur kembali demi konservasi sambil menunggu langkah strategis pemerintah. Namun, satu hal yang pasti: tabir itu sudah mulai tersingkap. Candi Adan-adan bukan sekadar tumpukan batu; ia adalah pesan dari masa lalu yang mengingatkan kita bahwa di bawah kaki kita, tersimpan harga diri bangsa yang pernah menjadi kiblat peradaban dunia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









