bukamata.id – Dunia maya tengah dihebohkan oleh aksi kontroversial seorang perempuan yang mendadak viral di berbagai platform media sosial. Bukan karena prestasi, sosok tersebut menuai kecaman hebat setelah diduga memfasilitasi ujaran kebencian melalui sesi siaran langsung (live streaming) dan sesumbar mengenai posisi keluarganya di kepolisian.
Kejadian ini mulai memanas sejak Rabu (6/5/2026) setelah akun Threads @adhitya_303 mengunggah potongan video yang memperlihatkan perilaku arogan sang perempuan. Hingga saat ini, konten tersebut telah memicu puluhan ribu interaksi dari warganet yang geram.
Gelar “Sayembara” Komentar Rasis
Dalam video pertama yang beredar, perempuan tersebut tampak sedang asyik melakukan live streaming sambil melantunkan lagu populer. Namun, fokus warganet beralih pada kolom komentar yang dipenuhi narasi rasisme terhadap suku dan ras tertentu.
Alih-alih meredam situasi, ia justru terlihat memicu aksi tersebut dengan menuliskan tantangan terbuka: “komentar paling rasis gue tf 100rb”. Sontak, warganet menuding aksi ini sebagai bentuk normalisasi diskriminasi yang sangat tidak terpuji.
Tantang Warganet dan Mengaku Kebal Hukum
Eskalasi konflik meningkat pada video kedua. Menanggapi ancaman laporan polisi dari netizen, perempuan ini justru memberikan jawaban yang dinilai sangat sombong. Ia berdalih bahwa ucapannya hanyalah sebuah candaan.
“Saya pun rasis terhadap ras saya sendiri kok. Setiap ras pasti ada plus minus, tapi itu buat bahan jokes bukan kayak mendiskreditkan suku bangsa lain,” ungkapnya dalam rekaman tersebut.
Tak berhenti di situ, ia juga membawa-bawa nama institusi Polri dengan mengklaim bahwa orang tuanya memiliki jabatan tinggi yang membuatnya tidak tersentuh hukum.
“Apa-apa dikasusin. Saya yang akan menang. Orang tua saya dua-duanya polisi dan bukan pangkat rendah,” tegasnya menantang.
Ia bahkan meremehkan prosedur hukum di Indonesia dengan kalimat yang memicu kemarahan publik:
“Anda mau ambil foto video saya terserah, laporin sana ke polisi paling kroco-kroconya orang tua saya. Kebal hukum.”
Respons Tegas Polrestabes Semarang
Menanggapi isu yang berkembang liar, terutama spekulasi yang menyeret nama pejabat kepolisian di Jawa Tengah, pihak Polrestabes Semarang segera memberikan klarifikasi resmi. Melalui akun Instagram @polrestabessemarang_official, mereka membantah keras keterkaitan perempuan tersebut dengan instansinya.
- Identitas Terungkap: Hasil penelusuran menunjukkan bahwa perempuan itu bukan anak dari anggota Polri yang bertugas di lingkungan Polrestabes Semarang.
- Status Informasi: Pernyataan yang mengklaim pelaku sebagai anak perwira di Semarang dinyatakan sebagai Hoaks.
- Himbauan Publik: Polisi meminta masyarakat untuk berhenti menyebarkan ujaran kebencian dan rasisme.
“Berdasarkan hasil penelusuran dan klarifikasi yang telah dilakukan, dipastikan bahwa yang bersangkutan bukan merupakan anak dari anggota Polri di Polrestabes Semarang,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Kesimpulan
Aksi ini menjadi pengingat keras bagi pengguna media sosial mengenai batasan etika dan konsekuensi hukum dari ujaran kebencian. Meskipun pelaku mengklaim “kebal hukum,” tekanan publik dan klarifikasi dari pihak berwajib menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum, terutama ketika menyangkut isu sensitif seperti rasisme.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










