bukamata.id – Dua potong kayu balok melintang menjadi penyangga utama, beradu kontras dengan barisan stik es krim yang disusun rapi menyerupai gigi-gigi mekanis. Di bawahnya, untaian kawat wifi dan pilinan kawat laut ditegangkan, meliuk di antara paku-paku payung yang tertancap pada bilah triplek. Dari rongga-rongga material bekas itu, sebuah melodi klasik mengalun jernih, memecah keheningan malam di sebuah sudut Kota Surabaya.
Di depan instrumen tak biasa tersebut, jemari Renaldy bergerak lincah. Pemuda yang akrab disapa Aldy ini sedang memainkan mimpinya yang paling sederhana, namun paling megah: memiliki dan memainkan sebuah grand piano.
Kisah Aldy, yang diunggah oleh akun TikTok @damai.senantiasa, mendadak viral dan mencuri perhatian jutaan pasang mata. Bukan karena ia membeli instrumen mewah seharga ratusan juta rupiah, melainkan karena ia melahirkan kemegahan musik itu dari tumpukan barang yang bagi sebagian orang adalah sampah.
Sebuah Cinta yang Mengintip dari Balik Etalase
Ketertarikan Aldy pada piano bukanlah hobi yang lahir dari fasilitas. Sejak kecil, setiap kali mendengar denting piano, ada getaran magis yang menyentuh hatinya. Namun, bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, membeli sebuah keyboard standar saja sudah menjadi kemewahan yang tak terjangkau, apalagi sebuah grand piano dengan ekor melengkung yang anggun.
Namun, kemiskinan hanya mampu membatasi daya beli Aldy, bukan daya imajinasinya.
Karena tidak memiliki alat musik sendiri, Aldy kecil hingga remaja kerap menghabiskan waktu untuk “berburu” piano. Ia mendatangi toko-toko musik di mal, melangkah ragu ke lobi hotel, atau tempat mana pun yang memajang instrumen tersebut. Dari jarak aman, ia berdiri diam, mengagumi lekuk tubuh piano, memandangi tuts hitam-putih, dan merekam dalam ingatan bagaimana jemari para pianis melahirkan nada-nada indah.
Terkadang, jika beruntung dan suasananya sepi, Aldy memberanikan diri mendekat. Hanya untuk menyentuh permukaannya yang halus, atau menekan satu tuts demi mendengar suaranya secara langsung. Keinginan itu begitu kuat, menancap dalam sanubari, hingga melahirkan sebuah tekad nekat: Jika dunia tidak memberi saya jalan untuk memiliki piano, maka saya akan membangun dunia saya sendiri.
Merakit Asa dari Stik Es Krim, Kawat Wifi dan Kawat Laut
Membuat piano mekanis dari nol tanpa latar belakang pendidikan teknik atau pembuatan instrumen (luthiery) terdengar seperti kegilaan. Namun, Aldy memulai proyek ambisius ini dengan modal ketelatenan dan referensi visual yang ia rekam selama bertahun-tahun.
Satu per satu bahan ia kumpulkan. Triplek bekas potongan bangunan diolah menjadi body utama piano, lengkap dengan penutup atas yang bisa dibuka-tutup layaknya grand piano asli. Bagian yang paling rumit dan membuat netizen takjub adalah sistem mekanis di dalamnya. Aldy memanfaatkan ratusan stik es krim yang direkatkan dan disusun sedemikian rupa untuk menjadi tuas pemukul (hammer action).
Ketika tuts putih dan hitam (yang juga dibuat secara manual) ditekan, tuas stik es krim ini akan bergerak naik dan memukul senar. Alih-alih menggunakan senar baja khusus piano yang mahal, Aldy memutar otak dan memilih kawat wifi bekas dan pilinan kawat laut dengan berbagai ukuran ketebalan demi menghasilkan variasi nada yang berbeda. Untuk menjaga ketegangan senar dan mengatur akurasi nada (tuning), ia menggunakan paku dan sekrup sederhana yang disetel secara manual.
Melihat bagian dalam piano buatan Aldy seperti melihat isi jam dinding kuno atau mesin tik mekanis yang rumit. Setiap jengkalnya adalah manifestasi dari trial dan error, sebuah proses panjang yang menguras energi namun digerakkan oleh cinta yang teramat besar pada musik.
Pembuktian di Ruang Digital
Ketika video Aldy memainkan grand piano buatannya diunggah di akun TikTok @damai.senantiasa, respons publik langsung meledak. Netizen tidak hanya terkesima oleh visual instrumen yang tampak “mentah” namun berfungsi sempurna itu, tetapi juga oleh kualitas suara yang dihasilkan. Meski dibuat dari bahan seadanya, piano tersebut mampu menghasilkan nada yang harmonis dan merdu saat Aldy memainkan sebuah komposisi lagu.
Kolom komentar unggahan tersebut langsung dibanjiri apresiasi. Banyak netizen yang terpaku pada kerumitan mekanis yang berhasil diciptakan oleh pemuda Surabaya ini.
“Ternyata dia bukan cuma berbakat, tapi jenius sampe bisa bikin piano sendiri,” tulis salah satu netizen dengan nada kagum.
“Gokil si, liat mechanicalnya aja udah pusing,” timpal netizen lain yang menyoroti kerumitan jalinan stik es krim dan senar di dalam piano tersebut.
Ada pula yang menyamakan karya Aldy dengan estetika mesin kuno. “Perpaduan mesin tik dan instrument.. Mantap. Ini baru kreatifitas.”
Melalui ruang digital, Aldy membuktikan kepada dunia bahwa kreativitas tidak pernah membutuhkan ruang yang mewah atau modal yang melimpah. Kreativitas hanya membutuhkan ruang di dalam kepala yang merdeka dan sepasang tangan yang menolak untuk menyerah pada keadaan.
“Mimpi yang Diperjuangkan”
Kisah Renaldy adalah sebuah refleksi mendalam tentang esensi dari sebuah impian. Di tengah zaman di mana banyak orang merasa langkahnya terhenti karena ketiadaan modal atau fasilitas, Aldy hadir sebagai tamparan halus yang mengingatkan kita kembali pada hakikat perjuangan.
Ia tidak menunggu hingga dirinya kaya untuk bisa menikmati musik. Ia tidak merutuki nasibnya yang hanya bisa mengintip piano di lobi hotel mewah. Aldy mengambil apa yang ada di sekitarnya—triplek lapuk, stik es krim sisa, kawat wifi dan kawat laut bekas mengubahnya menjadi mahakarya yang menuntut rasa hormat dari siapa pun yang melihatnya.
Dari sudut kota Surabaya, Aldy telah mengajarkan kita satu hal penting: Kadang mimpi tidak datang dari apa yang kita punya, tapi dari seberapa besar kita mau memperjuangkannya.
Kini, setiap kali Aldy menekan tuts piano kayunya, suara yang keluar bukan sekadar nada pembentuk lagu. Itu adalah suara kemenangan dari sebuah mimpi masa kecil yang berhasil diwujudkan dengan cara yang paling indah, paling jujur, dan paling ciamik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










