bukamata.id – Kebakaran lahan di Jalan Rereongan Sarupi, kawasan Puncak Ciumbuleuit (Punclut), Kota Bandung, tidak hanya menimbulkan kepulan asap, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan warga di sekitar lokasi.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, sedikitnya 19 warga mengalami gangguan kesehatan setelah terdampak asap kebakaran lahan yang terjadi sejak Senin (14/9) malam tersebut.
Hal itu disampaikan Farhan saat meninjau langsung lokasi pembuangan brangkal di Jalan Rereongan Sarupi, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Selasa (15/9/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Sony Adam mengatakan, sebagian warga yang diperiksa mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, terdapat satu warga dengan riwayat asma.
“ISPA, Pak. Kemudian ada satu orang asma, dan yang lainnya ada hipertensi, myalgia, dan memang tidak terkait langsung dengan asap,” ujar Sony.
Farhan mengatakan, warga yang terdampak tersebut telah diperiksa di posko kesehatan yang berada di RW 10. Pemkot Bandung pun masih akan memastikan kondisi kesehatan warga yang terdampak asap.
“Sudah hampir pasti semuanya terkena asap. Yang 19 orang, tapi saya akan memastikan lagi dengan berkunjung ke sana nanti,” kata Farhan.
Menurut Sony, warga yang telah diperiksa saat ini berada di rumah masing-masing setelah mendapatkan penanganan di posko kesehatan.
Tiga Sekolah dan Rumah Sakit Terdampak Asap
Selain warga, kepulan asap dari kebakaran juga berdampak terhadap sejumlah fasilitas di sekitar lokasi.
Farhan mengatakan terdapat tiga sekolah yang berada di kawasan terdampak, yakni dua sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menengah pertama (SMP).
Meski dua SD terdampak asap, proses belajar mengajar tetap berlangsung. Dinas Pendidikan Kota Bandung memastikan kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah tersebut tetap berjalan.
“Dua SD kena asap, tapi tidak menghentikan proses belajar mengajar, ya? Tetap jalan?” tanya Farhan, yang kemudian dijawab bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Selain sekolah, terdapat Rumah Sakit Salamun milik TNI AU yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Farhan mengatakan pemerintah telah menerjunkan sejumlah unsur untuk menangani dampak kebakaran, mulai dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan), BPBD, BNPB, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pendidikan.
Tiga Titik Api Masih Terdeteksi
Di tengah penanganan dampak kesehatan, proses pemadaman di lokasi kebakaran masih terus dilakukan.
Petugas menyebut masih terdapat tiga titik hotspot di area tersebut. Farhan mengatakan kondisi itu membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama karena sumber api diduga berada di bagian bawah timbunan.
Menurutnya, kebakaran diduga berkaitan dengan tumpukan sampah yang telah bercampur di bawah permukaan lahan. Kondisi tersebut diduga menghasilkan gas metana yang kemudian dapat memicu munculnya api.
“Belum tahu penyebabnya, tapi kemungkinan besar karena tumpukan sampah di bawah sudah sangat banyak, jadi ada timbunan metan,” ujar Farhan.
Ia menyebut api di lokasi tidak selalu terlihat besar, tetapi dapat terus membakar material di bawah permukaan sehingga menghasilkan asap dalam waktu lama.
Petugas memperkirakan proses pemadaman dengan metode yang digunakan saat ini membutuhkan waktu sekitar tiga hari.
“Insya Allah dengan metode yang baru, tiga hari, Pak,” kata petugas kepada Farhan.
“Tiga hari selesai, insya Allah,” jawab Farhan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










