Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Adu Sabar! Aksi Petugas Rekam KTP ODGJ Ini Malah Bak Shooting Film Action

Sabtu, 4 April 2026 16:47 WIB

Cantik Saja Enggak Cukup! Mojang Bandung Ini Pilih ‘Jalur Langit’ demi Orang Tua

Sabtu, 4 April 2026 15:15 WIB

Kisah Mantan Kanit Tipidkor Pilih Jadi Tukang Kopi: Lebih Baik Patah Daripada Bengkok!

Sabtu, 4 April 2026 14:54 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Adu Sabar! Aksi Petugas Rekam KTP ODGJ Ini Malah Bak Shooting Film Action
  • Cantik Saja Enggak Cukup! Mojang Bandung Ini Pilih ‘Jalur Langit’ demi Orang Tua
  • Kisah Mantan Kanit Tipidkor Pilih Jadi Tukang Kopi: Lebih Baik Patah Daripada Bengkok!
  • Sergio Ramos Dirumorkan Gabung Persija Jakarta Musim Depan, Siap Digaji Rp70 Miliar?
  • Eksplorasi Subang 2026: 6 Destinasi Hits yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan Anda!
  • Jangan Sampai Ditolak SPBU! Begini Cara Daftar Barcode MyPertamina untuk Program Subsidi Tepat
  • Dompet Persib Terkuras Rp1,1 Miliar! Rekap Sanksi ‘Gila’ AFC di Liga Champions Asia Two
  • Update Harga Emas Antam Hari Ini 4 April 2026: Masih Bertahan di Level Rp2,85 Juta per Gram
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 4 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kebijakan Dedi Mulyadi Picu Penolakan Daerah, Pakar: Ada Masalah Koordinasi Antarpemerintah

By Aga GustianaSelasa, 24 Juni 2025 14:00 WIB3 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi dan para bupati/wali kota. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketegangan politik mewarnai hubungan antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan sejumlah pemerintah kabupaten/kota di bawahnya. Sejumlah kepala daerah secara terbuka menyatakan sikap berbeda terhadap kebijakan-kebijakan kontroversial Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dinilai sentralistik dan kurang mempertimbangkan kondisi lokal.

Mulai dari larangan rapat di hotel, kebijakan penggunaan barak militer untuk siswa bermasalah, hingga pembatasan study tour, perbedaan sikap antara Gubernur dan kepala daerah kabupaten/kota semakin memperlihatkan retaknya koordinasi dalam tata kelola pemerintahan di Jawa Barat.

Wali Kota Bandung Dukung Hotel Lokal, Tolak Larangan Rapat

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara terbuka menolak larangan gubernur terkait penggunaan hotel untuk kegiatan dinas. Ia menyebut kebijakan itu dapat merugikan sektor perhotelan yang sedang dalam proses pemulihan pascapandemi.

“Hotel-hotel bintang tiga ke bawah paling terdampak pandemi. Pemerintah Kota Bandung memilih tetap menggelar rapat di hotel agar ekonomi lokal bisa bergerak kembali,” ujar Farhan.

Baca Juga:  Cari Jalan Tengah: Teras Cihampelas Butuh Solusi, Bukan Sekadar Polemik

Sementara itu, Gubernur Dedi Mulyadi bersikukuh bahwa rapat ASN harus dilakukan di gedung pemerintah demi efisiensi anggaran daerah.

Kritik Tajam terhadap Kebijakan Barak Militer untuk Siswa Nakal

Kebijakan kontroversial lainnya—mengirim siswa bermasalah ke barak militer—juga menuai penolakan dari sejumlah kepala daerah. Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, justru mengeluarkan instruksi untuk memperkuat pendidikan karakter melalui kegiatan keagamaan.

Senada, Bupati Pangandaran, Citra Pitriyama, memilih pendekatan preventif dengan mengaktifkan patroli Satpol PP di jam sekolah untuk mengawasi siswa yang berkeliaran. Di Kabupaten Bandung, Bupati Dadang Supriatna mendorong program Magrib Mengaji sebagai alternatif pembinaan.

Bupati Cirebon Tolak Larangan Study Tour Tanpa Dasar Hukum

Di Cirebon, Bupati Imron Rosyadi menegaskan bahwa larangan study tour tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, karena hanya berupa imbauan dari Penjabat Gubernur sebelumnya.

Baca Juga:  Hapus Dana Pesantren, Pemprov Jabar Tuai Kritik Pedas

“Kami akan menilai manfaat dan risikonya. Kalau banyak mudarat, baru bisa ditiadakan. Tapi selama tidak ada regulasi formal, kegiatan tetap bisa berjalan dengan pengawasan,” katanya.

Pakar Kebijakan Publik: Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Butuh Dialog Terbuka

Merespons dinamika ini, pakar kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menilai perbedaan sikap ini sebagai dampak dari lemahnya koordinasi antarpemerintah dan minimnya ruang dialog.

“UU No. 23 Tahun 2014 sudah jelas mengatur pembagian kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Ketika gubernur memaksakan kebijakan yang menyentuh wilayah operasional daerah tanpa konsultasi, maka wajar jika terjadi resistensi,” jelas Kristian.

Menurutnya, pelarangan rapat di hotel memang bertujuan efisiensi, tetapi di daerah seperti Bandung dan Pangandaran, industri perhotelan merupakan penyumbang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Mengalihkan semua kegiatan ke kantor pemerintah bisa berdampak pada sektor pariwisata dan lapangan kerja.

Baca Juga:  Pelaku Pagar Laut Bekasi Didenda Rp2 Miliar

Terkait pendekatan militeristik pada siswa nakal, Kristian menilai kebijakan itu tidak menyentuh akar persoalan. “Studi-studi pendidikan menunjukkan bahwa pendekatan represif berisiko memperburuk kondisi psikologis anak dan berpotensi melanggar UU Perlindungan Anak. Evaluasi berbasis data perlu dilakukan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti larangan study tour yang dinilai terlalu top-down dan kurang mempertimbangkan realitas ekonomi daerah. Di daerah seperti Cirebon, yang menggantungkan sebagian PAD dari sektor pariwisata pendidikan dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), larangan ini justru bisa menurunkan kinerja ekonomi lokal.

Kesimpulan: Reformasi Butuh Koordinasi, Bukan Instruksi Sepihak

Kristian menekankan bahwa upaya reformasi administratif di tingkat provinsi tidak akan berhasil jika dilakukan secara sepihak. “Kebijakan yang adil dan efektif hanya bisa lahir dari proses dialog, keterlibatan publik, dan evaluasi berbasis bukti. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus duduk bersama, bukan saling berhadapan,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

ASN barak militer Dedi Mulyadi jawa barat kebijakan publik Otonomi Daerah Pemprov Jabar study tour
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Komisi IV DPRD Jabar Soroti LKPJ 2025: Gini Ratio hingga Tunda Bayar Jadi Catatan

Cuaca Ekstrem Bandung Makan Korban! Pohon Tumbang di Caringin Tewaskan Pengendara

Musda Golkar Jabar Berakhir, Daniel Mutaqien Resmi Jadi Ketua

pembunuhan

Tragis! Bocah 11 Tahun Tewas Terserempet Kereta saat Menuju Rumah Nenek

Cuaca Ekstrem Hantam Bandung, BMKG Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi Sepekan ke Depan

Hujan Angin Hantam Bandung! Pohon Tumbang hingga Billboard Raksasa Roboh

Terpopuler
  • Viral Misterius! Potongan Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Kebun Sawit Bikin Heboh, Fakta Aslinya Mengejutkan
  • Di Balik Viral Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit, Ada Ancaman Phishing Mengintai
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Viral! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 di Dapur, Fakta atau Settingan?
  • Geger! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2 ‘No Sensor’ Viral, Fakta Sebenarnya Bikin Kaget
  • Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ 7 Menit, Link Palsu Mengintai Warganet, Cek Aslinya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.