bukamata.id – Nama Gunung Kawi kembali menguasai perbincangan publik. Dalam beberapa pekan terakhir, media sosial dipenuhi berbagai konten yang mengaitkan kawasan wisata religi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu dengan praktik pesugihan.
Mulai dari potongan podcast yang menyeret nama artis hingga pejabat, video penelusuran Pesulap Merah, foto daftar harga yang disebut sebagai “rate card pesugihan”, hingga munculnya berbagai spekulasi liar di TikTok dan YouTube.
Gelombang viral tersebut membuat pencarian mengenai Gunung Kawi melonjak tajam. Banyak warganet bertanya-tanya, benarkah kawasan itu merupakan tempat mencari kekayaan secara gaib? Ataukah selama ini publik justru salah memahami sejarah panjang salah satu destinasi religi terbesar di Jawa Timur tersebut?
Di balik berbagai narasi mistis yang beredar, terdapat fakta sejarah, budaya, hingga tradisi ziarah yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar label “tempat pesugihan”.
Kronologi Gunung Kawi Kembali Viral
Perbincangan mengenai Gunung Kawi sebenarnya mulai memanas setelah beredar sebuah foto papan daftar harga atau price list di kawasan Pesarean Gunung Kawi.
Foto tersebut memperlihatkan berbagai paket selamatan dan nazar, mulai dari ayam besek, tumpeng, kambing, sapi hingga pertunjukan wayang.
Sayangnya, tanpa penjelasan konteks, sebagian pengguna media sosial langsung menyebut daftar tersebut sebagai “tarif pesugihan”.
Narasi itu kemudian menyebar luas di berbagai platform.
Padahal, sejumlah peziarah yang pernah datang ke lokasi menjelaskan bahwa daftar harga tersebut merupakan biaya penyelenggaraan selamatan atau nazar yang dipesan pengunjung sebagai bentuk rasa syukur setelah doanya terkabul.
Makanan yang disiapkan nantinya dinikmati bersama para tamu maupun masyarakat sekitar, bukan sebagai bagian dari ritual memperoleh kekayaan secara instan.
Namun isu itu telanjur berkembang liar.
Podcast Eks Asisten Artis Memantik Kontroversi
Perbincangan semakin memuncak setelah viral potongan video podcast dari kanal YouTube Jejak Backpacker yang diunggah pada 19 Juni 2026.
Dalam podcast tersebut, seorang narasumber menggunakan nama samaran Fitri mengaku pernah menjadi asisten pribadi sekaligus MUA seorang artis terkenal.
Ia mengklaim pernah diajak ke Gunung Kawi dan menyebut melihat sejumlah figur publik, mulai dari artis, penyanyi dangdut hingga pejabat datang ke lokasi tersebut.
“Terus aku dibawa keluar kota sama dia. Di sini aku baru tahu ternyata dia melakukan pesugihan, pergi ke Gunung Kawi. Pejabat juga banyak ke sana,” ujar Fitri dalam podcast tersebut.
Potongan video itu kemudian ramai dibagikan di TikTok.
Meski hanya berupa pengakuan sepihak tanpa bukti yang dapat diverifikasi, narasi tersebut dengan cepat memunculkan asumsi baru bahwa Gunung Kawi menjadi lokasi ritual kalangan pesohor.
Pesulap Merah Datang Langsung ke Gunung Kawi
Di tengah ramainya spekulasi publik, YouTuber Marcel Radhival atau yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah memutuskan datang langsung ke kawasan Keraton Gunung Kawi.
Berbeda dari dugaan banyak orang yang mengira ia akan membongkar praktik mistis secara frontal, Marcel justru memilih melakukan penelusuran sejarah sekaligus berdialog dengan para juru kunci.
Sesampainya di lokasi, Marcel mengaku ingin mengetahui langsung seperti apa sebenarnya aktivitas yang selama ini dikaitkan dengan pesugihan.
“Kalau memang orang mau pesugihan, ritualnya apa, melakukan apa dan persembahannya apa,” ujar Marcel saat membuka video penelusurannya.
Dalam perjalanan tersebut, Marcel berdialog dengan juru kunci bernama Sunarto.
Sunarto menjelaskan bahwa kawasan tersebut memang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah bahkan luar negeri, terutama pada malam Selasa Kliwon maupun Kamis Kliwon.
Menurutnya, masyarakat datang untuk menyampaikan doa dan hajat kepada Tuhan.
Ia juga mengatakan banyak peziarah yang kemudian merasa hidupnya menjadi lebih baik.
Temuan Buku Tamu yang Menghebohkan
Salah satu bagian video yang paling banyak dibahas publik adalah ketika Marcel menemukan sebuah buku tamu berwarna biru.
Di dalam buku tersebut tertulis berbagai harapan pengunjung.
Mulai dari permohonan agar usaha berkembang, masalah utang, bisnis tambang, properti, internet, tembakau hingga tulisan yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Marcel pun menyoroti isi buku tersebut.
Ia bahkan mengkritik salah satu tulisan pengunjung yang meminta agar utang ratusan juta rupiah segera lunas.
“Utang 250 juta dibayar Bu, bukan ditulis,” ucap Marcel.
Selain buku tamu, Marcel juga memperlihatkan ruangan yang dipenuhi foto-foto pengunjung.
Ada foto pasangan yang diduga berkaitan dengan permohonan jodoh hingga foto seorang caleg.
Temuan-temuan itulah yang kemudian kembali memancing diskusi panjang di media sosial.
Marcel: Hormati Sejarah, Lawan Penipuan Mistis
Meski banyak membahas ritual yang berkembang di masyarakat, Marcel menegaskan bahwa tujuannya bukan menyerang adat maupun budaya.
Menurutnya, masyarakat perlu mampu membedakan antara situs sejarah dengan praktik penipuan berkedok supranatural.
“Saya datang ke sini bukan untuk merusak adat, melainkan mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan mana tempat bersejarah yang harus dihormati dan mana oknum yang memanfaatkan tempat ini untuk penipuan mistis atau pesugihan abal-abal.”
Ia juga mengingatkan pentingnya berpikir rasional agar masyarakat tidak mudah menjadi korban penipuan.
Pihak pengelola maupun sesepuh kawasan Keraton Gunung Kawi pun menyambut baik kedatangan Marcel selama tujuannya memberikan edukasi dan meluruskan stigma negatif.
Nama Sarwendah hingga Tokoh Publik Ikut Terseret
Konten Marcel sempat memunculkan polemik baru setelah dalam wawancara, juru kunci menyebut sejumlah nama figur publik yang pernah datang ke Gunung Kawi, di antaranya Sarwendah.
Marcel kemudian memberikan klarifikasi. Ia menegaskan tidak bisa memastikan tujuan kedatangan siapa pun ke lokasi tersebut.
Bahkan menurutnya, Sarwendah bisa saja datang hanya untuk keperluan syuting.
“Saya ragu, kemungkinan dia datang memang syuting doang, lalu disalahartikan bahwa itu ritual.”
Marcel juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menghakimi siapa pun yang pernah mengunjungi Gunung Kawi.
Menurutnya, penyebutan nama artis oleh oknum tertentu justru bisa dimanfaatkan untuk menarik lebih banyak pengunjung.
Gunung Kawi Sebenarnya Tempat Apa?
Di balik segala kontroversi tersebut, Gunung Kawi sebenarnya dikenal sebagai salah satu pusat wisata religi terbesar di Jawa Timur.
Kawasan yang dimaksud berada di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Di sana terdapat kompleks Pesarean Gunung Kawi yang menjadi makam Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Soedjono.
Keduanya merupakan tokoh bangsawan yang dikenal ikut berjuang bersama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa melawan Belanda pada 1825-1830.
Setelah perang berakhir, keduanya menetap di Jawa Timur dan aktif menyebarkan ajaran Islam.
Hingga kini, makam mereka terus didatangi peziarah dari berbagai daerah, termasuk masyarakat Jawa, Madura, hingga Tionghoa.
Puncak kunjungan biasanya terjadi pada malam 1 Suro atau 1 Muharram.
Sejarah Panjang Gunung Kawi
Berdasarkan catatan sejarah, kawasan Gunung Kawi bahkan telah dikenal sejak era Kerajaan Kediri.
Dalam naskah kuno Pararaton, wilayah ini disebut sebagai salah satu lokasi pertapaan.
Seiring waktu, kawasan tersebut berkembang menjadi pusat tradisi spiritual, budaya dan religi.
Di area yang sama berdiri makam, masjid, kelenteng hingga simbol-simbol budaya Jawa dan Tionghoa yang hidup berdampingan.
Karena itulah banyak peneliti menyebut Gunung Kawi sebagai salah satu contoh nyata akulturasi budaya di Indonesia.
Benarkah Gunung Kawi Tempat Pesugihan?
Inilah pertanyaan yang paling sering muncul.
Secara sosiologis memang benar bahwa mitos pesugihan telah lama melekat pada nama Gunung Kawi.
Cerita tersebut berkembang turun-temurun melalui kisah lisan, buku-buku mistik, film, hingga kini media sosial.
Namun hingga saat ini tidak pernah ada bukti otentik yang membenarkan klaim bahwa kawasan tersebut memang menjadi pusat ritual memperoleh kekayaan gaib.
Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menegaskan bahwa Gunung Kawi merupakan destinasi wisata budaya dan religi.
Aktivitas utamanya berupa ziarah, pelestarian budaya, pagelaran seni, hingga simbol toleransi antarumat beragama.
Pemerintah juga menegaskan tidak terdapat bukti resmi mengenai praktik penarikan uang gaib sebagaimana sering dinarasikan di media sosial.
Pengelola Bantah Isu Pesugihan
Pihak pengelola Gunung Kawi juga menyampaikan klarifikasi melalui akun resmi mereka di akun Instagram @gunungkawistory.
Menurut pengelola, Gunung Kawi sejak puluhan tahun dikenal sebagai tempat berdoa, berziarah dan bersyukur.
Mereka menyayangkan munculnya berbagai konten sensasional yang membuat citra kawasan tersebut bergeser.
“Sejak puluhan tahun lalu, Gunung Kawi di Kabupaten Malang menjadi tujuan orang-orang untuk berdoa, berziarah, dan bersyukur. Jauh sebelum internet mengenalinya dengan berbagai cerita sensasi, Gunung Kawi telah lebih dulu dikenal sebagai tempat ziarah, wisata ritual, dan ruang perjumpaan berbagai budaya,” tulis pengelola dalam keterangan tersebut.
Pengelola mengakui mungkin saja ada pihak luar yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu.
Namun mereka menegaskan kawasan tersebut tidak pernah dibangun atas dasar praktik pesugihan.
“Bagi kami, Gunung Kawi bukanlah kisah yang dibuat-buat. Gunung Kawi adalah rumah. Di era ketika video berdurasi satu menit mampu membentuk opini jutaan orang, wajah Gunung Kawi perlahan bergeser. Konten yang mengejar sensasi lebih mudah menarik perhatian dibanding sejarah yang panjang. Cerita yang menakutkan lebih cepat viral daripada kisah tentang budaya, toleransi, dan penghormatan kepada leluhur,” tambah pihak pengelola.
Menurut mereka, masyarakat setempat justru tumbuh dengan tradisi menjaga warisan budaya dan menghormati leluhur.
“Lalu muncul satu anggapan yang terus diulang: ‘Gunung Kawi adalah tempat pesugihan’. Sebagai masyarakat yang lahir dan besar di sini, kalimat itu selalu terasa berat. Bukan karena kami menutup mata bahwa mungkin ada orang-orang dari luar yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu. Namun karena tempat yang kami kenal sejak kecil tidak pernah dibangun di atas nilai tersebut,” tegas pihak pengelola.
Fadli Zon: Gunung Kawi Bagian dari Mozaik Budaya Indonesia
Ramainya isu ini juga mendapat perhatian Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
Ia menilai Gunung Kawi merupakan bagian dari keberagaman tradisi budaya Nusantara.
“Gunung Kawi, ya? Ya, itu kan kita, keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi. Di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama. Kita ini masyarakat yang pendekatannya beragam,” kata Fadli, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, selama aktivitas wisata religi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak merusak lingkungan maupun fasilitas, maka hal itu merupakan bagian dari realitas kehidupan masyarakat Indonesia.
Fadli juga menilai keberadaan wisata budaya seperti Gunung Kawi mampu memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.
“Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat dan tidak mengganggu, tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai bagian dari realitas kehidupan kita,” pungkas dia.
Mengapa Publik Mudah Percaya?
Fenomena viral Gunung Kawi menunjukkan bagaimana media sosial mampu membentuk opini hanya melalui potongan video berdurasi singkat.
Podcast, vlog, foto daftar harga hingga potongan wawancara yang terlepas dari konteks dengan cepat berkembang menjadi narasi besar.
Padahal, sebagian besar informasi tersebut masih membutuhkan verifikasi dan penjelasan lebih lengkap.
Di sisi lain, sejarah panjang Gunung Kawi sebagai destinasi religi justru sering tenggelam di balik konten-konten sensasional.
Gunung Kawi: Antara Mitos, Budaya, dan Fakta
Hingga kini, Gunung Kawi tetap menjadi salah satu destinasi wisata religi paling ramai di Jawa Timur.
Sebagian orang datang untuk berziarah, berdoa, menunaikan nazar, mempelajari sejarah, atau sekadar menikmati akulturasi budaya yang unik.
Sementara itu, mitos mengenai pesugihan masih terus hidup sebagai bagian dari cerita rakyat yang berkembang dari generasi ke generasi.
Karena itu, publik perlu membedakan antara mitos, pengalaman pribadi, klaim yang belum terverifikasi, dan fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Viralnya Gunung Kawi menjadi pengingat bahwa di era media sosial, informasi yang sensasional memang lebih cepat menyebar. Namun memahami sebuah tempat hanya dari potongan video atau narasi sepihak berisiko menimbulkan kesalahpahaman terhadap sejarah, budaya, dan fungsi sebenarnya dari kawasan yang telah menjadi ruang ziarah lintas etnis dan lintas keyakinan selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









