Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Rabu, 28 Oktober 2026 18:03 WIB

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Rabu, 28 Oktober 2026 17:38 WIB

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Rabu, 28 Oktober 2026 16:47 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF
  • Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap
  • Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • Persib vs Melbourne Victory Malam Ini Tayang di Mana? Ini Jadwal dan Link Live Streaming
  • Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM
  • Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil
  • Prediksi Line Up Persib vs Melbourne Victory Malam Ini, Thom Haye dan Klok Kawal Lini Tengah
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Kenapa Akhir-akhir Ini Cuaca Panas Banget? Ini Penjelasan BMKG

By Aga GustianaKamis, 16 Oktober 2025 07:38 WIB2 Mins Read
Ilustrasi cuaca panas.
Ilustrasi cuaca panas. (Foto: Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Beberapa minggu terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia merasakan suhu udara yang begitu terik. Kondisi ini paling terasa di Pulau Jawa hingga Bali, di mana panas menyengat berlangsung hampir sepanjang hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut. Menurut keterangan BMKG, meningkatnya suhu udara ini disebabkan oleh posisi semu matahari yang sedang bergeser ke arah selatan.

“Sekarang posisi matahari berada di sekitar garis ekuator hingga selatan Kalimantan dan Jawa. Akibatnya, wilayah seperti Jakarta menerima paparan sinar matahari secara maksimal,” jelas Iqbal Fathoni, Senior Forecaster BMKG, Kamis (16/10/2025).

Perubahan posisi matahari ini juga membuat pembentukan awan hujan di bagian selatan Indonesia semakin berkurang. Kombinasi antara intensitas penyinaran yang tinggi dan minimnya awan pelindung inilah yang menyebabkan udara terasa sangat panas.

Baca Juga:  Indonesia Jadi Tuan Rumah Gelaran World Water Forum ke-10: Bahas Isu Keadilan Air

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa kondisi ini belum dapat dikategorikan sebagai gelombang panas atau heatwave. “Suhu udara di Indonesia saat ini masih berkisar antara 33 hingga 36 derajat Celsius. Titik tertinggi tercatat sekitar 37,6 derajat Celsius,” ujar Iqbal.

BMKG memperkirakan cuaca panas akan berlangsung hingga awal November. Musim hujan akan datang secara bertahap dan waktunya berbeda di tiap daerah. Selama masa transisi ini, hujan berpotensi turun secara sporadis pada sore atau malam hari, terutama di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara, kadang disertai kilat dan angin kencang.

Baca Juga:  JPNSC Targetkan Indonesia Jadi Negara Pertama di Asia Bebas dari Nyeri

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menambahkan bahwa suhu ekstrem diperkirakan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November seiring datangnya musim hujan. “Begitu tutupan awan meningkat, intensitas panas akan berkurang,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta (14/10/2025).

Dwikorita juga menjelaskan bahwa minimnya awan saat ini membuat sinar matahari langsung menembus permukaan tanpa halangan. Kondisi tersebut, ditambah dengan meningkatnya radiasi matahari di wilayah daratan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, memperkuat sensasi panas.

Baca Juga:  Angin Kencang Terjang Jawa Barat, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Saat ini Indonesia juga tengah mengalami masa pancaroba, yakni peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Masa ini umumnya ditandai dengan perubahan cuaca yang tidak stabil. BMKG memprediksi fenomena La Nina lemah akan berlangsung antara Oktober 2025 hingga Januari 2026, yang diperkirakan akan meningkatkan curah hujan secara perlahan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BMKG Indonesia musim hujan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil

Dianggap ‘B Aja’ oleh Warganet, Jawaban Menohok Aiswarya Pandit Buat Juri Mister International Nyesel?

Harga Emas Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Rp 20.000, Cek Daftarnya

Ilustrasi Sate

Wisata Kuliner Ciamis 2026: 5 Makanan Khas Tatar Galuh yang Wajib Dicoba

Topeng ‘Sultan Dermawan’ Retak? Aisar Khaled Diisukan Bawa Kabur Uang Rp5,7 Miliar

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.