bukamata.id – Kepala Sekolah SMPN 40 Bandung, Aisyah Amiawaty, angkat bicara terkait dugaan perundungan terhadap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) yang terjadi di lingkungan sekolahnya.
Aisyah tidak menutup kemungkinan peristiwa perundungan dapat terjadi ketika siswa bermain, terutama di luar kelas.
“Kalau perundungan, di sekolah itu bisa saja terjadi, misalnya saat anak-anak sedang bermain,” ujarnya saat ditemui di Jalan Wastukencana No. 75, Kota Bandung, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, siswa yang diduga menjadi korban merupakan PDBK yang diterima melalui jalur zonasi saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
“Hanya saja anak ini PDBK dan masuk lewat jalur zonasi. Kami tidak bisa menolak, karena tidak melalui jalur tes. Setelah masuk, baru diketahui bahwa siswa bersangkutan adalah PDBK,” tuturnya.
Aisyah mengungkapkan, sejak Desember 2025 siswa tersebut sudah enggan kembali bersekolah.
“Permasalahannya, dia enggak mau masuk sekolah dengan alasan seperti itu. Mungkin karena keterbatasannya. Bicaranya memang kurang jelas, masih satu dua kata,” katanya.
Saat mengikuti pembelajaran di kelas, siswa kelas VII itu juga diketahui belum mampu membaca dengan baik, sehingga membutuhkan penanganan khusus.
“Bacanya juga belum bisa. Jadi penanganannya harus khusus. Kami sampai minta bantuan dinas. Datanglah Ibu April dari dinas yang menangani PDBK, dan beliau mengarahkan untuk ke psikolog,” jelas Aisyah.
Namun, ia mengakui tindak lanjut ke psikolog belum terlaksana.
“Belum sampai ke psikolog, karena kami juga mempertimbangkan kondisi orang tuanya yang sehari-hari mengandalkan berjualan,” tambahnya.
Aisyah membenarkan bahwa ketiga anak dari orang tua siswa tersebut merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Karena itu, pihak sekolah telah menyarankan agar anak tersebut mendapat pendidikan di sekolah luar biasa.
“Bahkan pernah diantar langsung oleh guru dari sini, tapi tidak mau. Kami masih terus berusaha supaya anak ini tetap bisa sekolah,” ucapnya.
Ia menegaskan, pihak sekolah tidak pernah mengeluarkan siswa tersebut. Hingga kini, statusnya masih tercatat sebagai peserta didik aktif.
“Kami di sekolah tidak merasa mengeluarkan. Jadi siswa itu belum keluar, masih anak kami. Dan kami masih terus berusaha mengarahkan dia belajar. Kalaupun memang tidak bisa di sini, kami arahkan ke sekolah khusus,” tegasnya.
Menurut Aisyah, setiap tahun hampir selalu ada siswa yang tertinggal secara akademik.
“Setiap tahun ada satu, dua, bahkan tiga anak yang belum bisa membaca. Tapi alhamdulillah, guru-guru di sini dengan ikhlas menuntun sampai akhirnya mereka bisa membaca sebelum lulus SMP,” katanya.
Ia menambahkan, pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari pendampingan belajar hingga kunjungan ke rumah (home visit). Komunikasi dengan orang tua juga disebut sudah dilakukan berulang kali.
“Keinginan tidak sekolah itu lebih banyak dari anaknya, lalu didukung orang tuanya. Namanya orang tua kan beda-beda. Ada yang keras demi anak maju, ada juga yang membiarkan sesuai keinginan anak,” ujarnya.
Meski demikian, Aisyah menegaskan pihak sekolah tetap membuka ruang dan dukungan agar siswa tersebut tidak putus sekolah.
“Pokoknya anak tetap sekolah. Kalau memang sudah tidak betah di sini, tidak apa-apa, tapi tetap kami arahkan supaya dia tetap sekolah. Tidak ada anak yang kami biarkan begitu saja,” katanya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











