Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama

Minggu, 1 November 2026 16:29 WIB

Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution

Minggu, 1 November 2026 15:55 WIB

Mutombo Absen, Persib Tak Mau Ambil Risiko Jelang Lawan Kalteng FC

Minggu, 1 November 2026 14:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama
  • Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution
  • Mutombo Absen, Persib Tak Mau Ambil Risiko Jelang Lawan Kalteng FC
  • Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung
  • Marc Klok Comeback! Persib Siap Hajar Kalteng FC demi Puncak Klasemen
  • Mojang Bandung Adjeng Wulandari, Buktikan Prestasi dan Organisasi Bisa Berjalan Beriringan
  • Pesta Gol di Camp Nou, Barcelona Kudeta Atletico dari Puncak
  • Raffi Ahmad Minta Maaf Lagi! Ungkap Siapa Pengundangnya ke Bundaran HI
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 1 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ketika Anggota DPR Sebut MBG Tak Perlu Ahli Gizi: Polemik yang Memicu Amarah Publik

By Aga GustianaSenin, 17 November 2025 08:41 WIB5 Mins Read
Pernyataan anggora DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurizal viral usai sebut MBG tidak butuh ahli gizi.
Pernyataan anggora DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurizal viral usai sebut MBG tidak butuh ahli gizi. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Rapat Konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Bandung awalnya dirancang sebagai forum koordinasi untuk memperkuat tata kelola program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Namun suasana yang seharusnya kondusif itu mendadak panas setelah seorang anggota DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengeluarkan pernyataan yang menyulut kemarahan para peserta rapat dan publik luas. Pernyataannya yang viral: “Mereka tidak membutuhkan ahli gizi, yang mereka butuhkan adalah tenaga pekerja pengawas gizi.”

Kutipan itu menyebar cepat, menimbulkan gelombang kritik yang tak berhenti hingga hari ini.

Ketegangan Dipicu Satu Pertanyaan Peserta Rapat

Situasi memanas berawal dari seorang peserta yang mempertanyakan rencana penempatan tenaga non-ahli gizi dalam program MBG. Pertanyaan itu disampaikan dalam konteks kekhawatiran bahwa profesi ahli gizi terdegradasi, terlebih setelah beberapa masukan ilmiah dari para ahli justru tidak diakomodasi.

Alih-alih merespons sebagai bagian dari dialog, Cucun justru membalas dengan nada tinggi. Ia menyebut si penanya arogan dan merasa paling dibutuhkan negara. Suasana ruangan semakin riuh ketika ia mengklaim bahwa dialah—sebagai pembuat kebijakan—yang paling berhak menentukan arah program.

“Saya tidak suka anak-anak muda arogan seperti ini. Yang bikin kebijakan itu saya!” katanya dalam video yang kini tersebar luas, dikutip Senin (17/11/2025).

Puncaknya terjadi saat ia menyebut bahwa MBG tidak membutuhkan ahli gizi, tetapi hanya petugas pengawas gizi. Di momen itu, sebagian peserta rapat langsung bereaksi keras. Di media sosial, potongan video itu memicu ledakan komentar.

Baca Juga:  Dipanggil MUI, Umi Cinta Buka Suara Terkait Kegiatan Keagamaan di Bekasi

Netizen Meledak: “Negara Tidak Butuh Orang Berpendidikan?”

Rekaman tersebut segera mengundang respons nasional. Warganet ramai-ramai menyuarakan kemarahan dan keheranan.

“Kasihan anak-anak sekolah. Dikasih makan yang nggak bermutu,” tulis seorang pengguna.

“Definisi negara nggak butuh orang berpendidikan. Terus buat apa sekolah ahli gizi bertahun-tahun?” komentar yang lain.

Gelombang kritik ini menunjukkan bahwa publik merasa pernyataan tersebut tidak hanya meremehkan profesi ahli gizi, tetapi juga mengindikasikan bahaya serius bagi kualitas program MBG—yang selama ini sudah berkali-kali tersorot menu tidak layak, pengolahan keliru, hingga keracunan massal.

Kontras dengan Para Ahli Gizi: Profesionalisme Justru Makin Mendesak

Pernyataan Cucun semakin menuai resistensi karena bertolak belakang dengan suara para pakar. Salah satu yang paling pertentangan adalah dr Tan Shot Yen, ahli gizi klinis populer yang viral berkat kritiknya terhadap kualitas menu MBG.

Dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, dr Tan mempertanyakan minimnya penggunaan pangan lokal dan dominannya menu ala Barat seperti burger atau spaghetti.

Ia juga mengungkap fakta soal daging burger pink “yang rasanya seperti karton,” hingga praktik penyajian DIY yang dianggap tidak sesuai dengan tujuan MBG.

Yang paling penting: dr Tan menegaskan bahwa MBG justru membutuhkan ahli gizi kompeten untuk menghindari kesalahan penyusunan menu dan mencegah insiden kesehatan.

Baca Juga:  Hadiri Haul Ponpes Al-Husaeni, Cucun Ahmad Syamsurijal Minta Pesantren Adaptif terhadap Teknologi

Pernyataan itu selaras dengan rangkaian kasus keracunan MBG, termasuk insiden di Bandung Barat yang menimpa lebih dari seribu siswa, hingga kasus ikan hiu goreng di Ketapang yang membuat anak-anak sakit dan menuai perhatian nasional.

Dengan realitas tersebut, publik melihat bahwa penghapusan peran ahli gizi bukan hanya langkah mundur, tetapi berbahaya.

Profil Cucun: Dari NU hingga Parlemen

Untuk memahami konteks pernyataan Cucun, publik kemudian menyoroti rekam jejaknya.

Cucun Ahmad Syamsurijal, lahir di Bandung pada 8 Oktober 1972, adalah tokoh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dikenal aktif di berbagai organisasi Nahdlatul Ulama. Kariernya dimulai dari struktur NU wilayah Solokan sejak 1998. Ia pernah menjadi Bendahara Umum PCNU Kabupaten Bandung (2004–2009) dan Ketua PW LPNU Jawa Barat (2005–2010).

Dalam politik, Cucun memulai kiprahnya dengan posisi Wakil Ketua Bendahara Umum PKB Kabupaten Bandung (2005–2010) dan kemudian menjabat Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung (2010–2015). Pada 2014, ia terpilih menjadi anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat II dengan perolehan 37.763 suara.

Di Senayan, ia berpindah-pindah komisi:

  • Komisi IV DPR RI (2014–2016),
  • Komisi V (2016),
  • lalu kembali lagi ke Komisi IV yang membidangi pertanian, pangan, dan kelautan.

Posisinya ini membuat publik mempertanyakan mengapa seorang legislator di komisi yang bersentuhan langsung dengan urusan pangan dapat meremehkan peran tenaga gizi dalam program sebesar MBG.

Baca Juga:  Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi Dadan Hindayana CS, Mark Up Motor Listrik Rp1 Triliun

Kritik semakin menguat ketika publik melihat bahwa pernyataannya tidak didukung fakta lapangan: kasus keracunan dan menu bermasalah justru memperlihatkan perlunya tenaga ahli yang benar-benar memahami standar keamanan pangan.

Polemik yang Mencerminkan Masalah Lebih Besar

Pernyataan “MBG tidak butuh ahli gizi” tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia muncul di tengah kompleksitas program MBG yang masih belajar berdiri, di saat publik menuntut peningkatan kualitas dan profesionalisme.

Dari sudut pandang masyarakat, pernyataan itu berpotensi membahayakan jutaan anak yang menjadi penerima MBG. Terlebih, setiap kesalahan perhitungan gizi, kesalahan pengolahan bahan makanan, hingga ketidakpahaman soal keamanan pangan dapat berujung fatal.

Karena itu, reaksi keras publik bukan sekadar luapan emosional—tetapi wujud kekhawatiran kolektif.

Menunggu Klarifikasi dan Revisi Kebijakan

Hingga kini, publik masih menanti apakah pernyataan Cucun akan diikuti kebijakan formal menghapus peran ahli gizi, atau apakah itu hanya luapan emosi dalam forum panas.

Namun bagi para tenaga gizi, kerusakan sudah terjadi: profesi mereka direndahkan oleh seorang wakil rakyat di hadapan publik. Sementara bagi orang tua, isu ini menyentuh kekhawatiran terdalam mereka—keselamatan anak-anak.

Di tengah program MBG yang masih menghadapi serangkaian masalah sejak diluncurkan, masyarakat tampaknya sepakat pada satu hal: program sebesar MBG tidak boleh berdiri di atas ego dan perdebatan politik—melainkan wajib dijalankan dengan ilmu, integritas, dan kehati-hatian.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Cucun Ahmad Syamsurijal dpr keracunan MBG Kontroversi MBG
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution

Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos November 2026 Cair! Satu Keluarga Bisa Dapat Rp1,5 Juta Lebih

Detik-detik Kirmir Cihampelas Jebol, Warga Panik Air Masuk Rumah

Berani Lawan Arus? Sang Gladiator Turun Gunung Bongkar Blunder Artis di Bundaran HI

Mengenang 7 Hari Wafatnya Fathan Subchi, PKB dan Masura Kabupaten Bandung Gelar Doa Bersama

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.