bukamata.id – Di tengah proses pembongkaran 171 bangunan liar (bangli) di sepanjang akses Tol Karawang Barat pada Rabu (26/11/2025), suasana yang awalnya terkontrol mendadak berubah tegang. Bukan karena alat berat, bukan pula karena petugas Satpol PP. Ketegangan muncul karena satu sosok yang keberaniannya mencuri perhatian publik: Iwan Pitung.
Nama itu mendadak viral setelah ia berdiri memaki Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Karawang Aep Syaepuloh di lokasi penertiban. Sosok yang belakangan diketahui bernama asli Ridwan itu seolah menjadi simbol suara rakyat kecil yang sedang terdesak.
Iwan Pitung: Dari Warga Biasa Menjadi Sorotan
Ridwan, atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Pitung Karawang, bukan figur baru di masyarakat. Ia adalah mantan panglima Mabes LSM Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) Karawang, Jawa Barat. Karakternya dikenal vokal, terutama ketika menyangkut nasib warga kecil.
Pagi itu, ledakan emosinya dipicu sebuah insiden yang terjadi hanya beberapa saat sebelum ia maju menghampiri gubernur: seorang pemilik bangli jatuh saat proses pembongkaran. Kejadian itu membuatnya tak tinggal diam.
Saat melihat korban tergeletak, Iwan langsung melabrak barisan petugas. Tanpa ragu ia berdiri tepat di hadapan Gubernur Dedi Mulyadi dan membentaknya.
“Anda siapa?” tanya Dedi yang tak menyangka akan dihadapkan pada kemarahan sebesar itu.
“Saya orang Karawang emang kenapa? Saya ini membela orang yang mau mati, itu aja udah saya pak,” balas Iwan Pitung, masih dengan suara tinggi.
Suasana pun seketika berubah tegang. Sejumlah petugas mulai bersiap berjaga, sementara warga yang menyaksikan insiden itu hanya mampu menahan napas.
Konfrontasi Meninggi, Gubernur Tetap Tenang
Mendapat bentakan tersebut, Dedi Mulyadi sempat naik pitam. Namun ia kemudian memilih menurunkan tensi suasana dengan memberikan pernyataan menenangkan.
“Yaudah nanti dibereskan, saya tanggung jawab, kita urusin, Rp500 juta aja dibayar,” ujar Dedi.
Meski begitu, Iwan Pitung masih digiring mundur oleh beberapa warga yang mencoba menjauhkan ketegangan. Situasi memanas kembali ketika ada oknum rombongan gubernur yang mengatakan Iwan “preman”.
Ucapan itu membuat Iwan Pitung kembali berang.
“Gue nolong orang-orang yang mati, siapa bilang gue preman, tanya orang-orang biar tahu siapa gue, jangan diacak-acak Karawang, maju sini, gak takut gue,” teriaknya.
Protes serupa datang dari anaknya yang berada di tempat kejadian.
“Bahasanya jangan preman, bahasanya gak enak banget,” ujar sang anak dengan nada kecewa.
Momen itu seakan memperlihatkan bahwa persoalan penertiban bangli tak sekadar soal bangunan, tetapi juga soal harga diri, rasa aman, dan keadilan yang dirasakan oleh warga setempat.
Permintaan Maaf dan Klarifikasi dari Sang Anak
Beberapa jam setelah insiden berlangsung, suasana akhirnya mereda. Anak Ridwan mendatangi Gubernur Dedi Mulyadi untuk menyampaikan permintaan maaf atas sikap ayahnya.
“Maaf banget mahasiswa ini masuk pak Gub, orang tua saya kan bukan preman kuping saya kedengeran banget ngomong preman abang ini tadi ngomong,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan diri sebagai mahasiswa PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Dedi menerima permintaan maaf tersebut dengan tenang, menunjukkan bahwa konflik itu bisa diselesaikan tanpa memperpanjang ketegangan.
Penjelasan Pemerintah: Penertiban Sesuai Prosedur
Di tengah sorotan terhadap insiden yang melibatkan Iwan Pitung, Bupati Karawang Aep Syaepuloh memberikan penjelasan detail mengenai proses penertiban bangli. Ia menegaskan bahwa semua telah dilakukan sesuai SOP.
“Hari ini Alhamdulillah, bersama Pak Gubernur, kami mulai menata wilayah Karawang Barat. Secara SOP semua sudah kami laksanakan. Namun, hingga SP 3 masih ada bangunan yang belum dibongkar sendiri oleh pemiliknya,” ujar Aep.
Ia menjelaskan, bangunan-bangunan itu berdiri di atas lahan milik PT Jasa Marga. Pemkab Karawang telah mengantongi MoU sebagai dasar hukum pelaksanaan pembongkaran.
Lebih jauh, ia menyebut bahwa penataan kawasan Karawang Barat merupakan bagian dari upaya memperindah wajah daerah yang menjadi wilayah strategis serta pintu masuk kawasan industri.
“Pak Gubernur mengingatkan bahwa kawasan gerbang tol harus rapi dan bagus. Bukan hanya Karawang, tapi juga Bekasi, Purwakarta, sampai Subang. Maka saya berkewajiban merapikan akses gerbang tol Karawang Barat, termasuk penertiban bangli,” ujar Aep.
Anggaran Penataan dan Rencana Ke Depan
Setelah penertiban, Pemkab Karawang merencanakan pembangunan estetik di kawasan tersebut. Sebanyak Rp25 miliar telah disiapkan untuk menata ulang area Karawang Barat dan Karawang Timur. Di luar itu, anggaran tambahan Rp5 miliar juga dialokasikan untuk memperbaiki jalan bergelombang dan melakukan pelebaran ruas jalan hingga ke pabrik es.
Penataan itu diharapkan tidak hanya mempercantik akses tol, tetapi juga memberi dampak jangka panjang bagi arus mobilitas dan ekonomi daerah.
Ketika Suara Warga Kecil Menembus Keramaian Proyek Besar
Di tengah rencana besar pemerintah dan deretan alat berat yang meratakan bangli di sepanjang jalur tol, suara lantang Iwan Pitung hari itu memberikan perspektif berbeda. Ia menghadirkan gambaran nyata tentang keresahan warga kecil yang kehidupannya bersinggungan langsung dengan kebijakan pembangunan.
Bagi sebagian orang, tindakannya dianggap berlebihan. Namun bagi sebagian lainnya, ia adalah sosok yang berani mengambil risiko demi memperjuangkan warga yang menurutnya teraniaya.
Apa pun pandangan publik, satu hal jelas: insiden di Karawang Barat itu menunjukkan dinamika sosial yang rumit antara penertiban, legalitas, dan kemanusiaan. Suara seperti Iwan Pitung mungkin keras, tetapi di balik kerasnya suara itu, ada kekhawatiran, ada keterikatan emosional, dan ada ketegangan antara rasa keadilan warga dan kebijakan pemerintah.
Dan pada hari itu, di antara tumpukan bangunan yang diratakan, nama Iwan Pitung menjadi cermin dari suara rakyat yang tak ingin diabaikan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










