Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Fakta Terungkap! Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2’ Ternyata Rekayasa Mengejutkan

Selasa, 7 April 2026 01:00 WIB

Terungkap! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Diduga Konten Asing yang Dipelintir

Senin, 6 April 2026 21:48 WIB

Persib Krisis Bek? Julio Cesar Dipastikan Tak Tampil di GBLA

Senin, 6 April 2026 21:31 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Fakta Terungkap! Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2’ Ternyata Rekayasa Mengejutkan
  • Terungkap! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Diduga Konten Asing yang Dipelintir
  • Persib Krisis Bek? Julio Cesar Dipastikan Tak Tampil di GBLA
  • Hari Kelabu di Bandung Barat, Polisi Selidiki Dua Kematian Misterius
  • Timnas Futsal Indonesia Hajar Brunei 7-0, Puncaki Klasemen Grup B
  • Fakta Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2: Bukan Asli, Jangan Klik Link!
  • Viral Deretan Motor MBG, Diduga Gunakan Motor Listrik Berharga Puluhan Juta
  • 16 Clean Sheet! Teja Paku Alam Kejar Rekor Legendaris Yoo Jae-hoon
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 7 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kompensasi Lebaran Angkot Bermasalah, Pengamat Soroti Pentingnya Pendataan Rinci

By SusanaJumat, 4 April 2025 20:00 WIB2 Mins Read
Ilustrasi angkot. (mediabogor).
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang meliburkan para sopir angkutan kota (angkot) selama libur Lebaran 2025 kini menuai sorotan.

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Pemprov Jabar menjanjikan kompensasi sebesar Rp1,5 juta kepada setiap sopir angkot. Rinciannya, Rp1 juta diberikan dalam bentuk tunai, dan sisanya berupa paket sembako senilai Rp500 ribu.

Namun, di lapangan, sejumlah sopir angkot di kawasan Puncak, Bogor, mengaku hanya menerima Rp800 ribu. Kondisi ini sontak memicu kekecewaan di kalangan para sopir yang merasa tidak mendapatkan hak secara utuh.

Menanggapi polemik ini, pengamat kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) FISIP, Kristian Widya Wicaksono, menyampaikan bahwa persoalan ini perlu segera diklarifikasi oleh pemerintah daerah. Jika terbukti ada pemotongan dana secara sengaja, maka tindakan tegas harus segera diambil.

Baca Juga:  Kebijakannya Dinilai Kontroversial, Dedi Mulyadi Minta Maaf

“Terkait kompensasi yang baru diterima sejumlah Rp. 800rb dari yang dijanjikan Rp. 1,5jt menurut saya masih perlu klarifikasi yang lebih jelas dengan perangkat daerah terkait. Tentunya jika terjadi ketidaksesuaian yang dilakukan secara sengaja maka kita sama-sama sangat menyesalkannya dan meminta inspektorat daerah segera melakukan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap oknum2 terkait,” ujar Kristian saat dihubungi pada Jumat (4/4/2025).

Ia menambahkan, kebijakan ini memiliki niat positif dalam mengurai kemacetan saat Lebaran. Namun, kelemahannya terletak pada ketidaksiapan data dan informasi yang akurat dalam pelaksanaannya.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Turun Tangan Selamatkan Warga Bogor dari Ancaman Lelang Tanah

Data Belum Akurat, Kompensasi Bisa Tidak Tepat Sasaran

Kristian juga menyoroti pentingnya pendataan yang lebih rinci terkait siapa yang berhak menerima kompensasi.

Ia menjelaskan bahwa penerima bantuan adalah supir angkot, bukan pemilik kendaraan. Selain itu, satu unit angkot bisa saja dikemudikan oleh beberapa orang secara bergantian.

“Detail seperti ini harus diperhatikan agar pemberian kompensasi tepat sasaran. Tanpa data yang akurat, program seperti ini berisiko tinggi menimbulkan masalah,” jelasnya.

Lebih jauh, Kristian mempertanyakan asumsi bahwa angkot adalah penyebab utama kemacetan di Jabar selama musim mudik. Menurutnya, volume kendaraan pribadi justru bisa menjadi faktor yang lebih dominan dalam menyebabkan kemacetan.

Baca Juga:  Aksi Digital Pemprov Jabar Dikecam, Aktivis Demokrasi Jadi Sasaran Serangan Doxing

“Perlu ada riset mendalam. Bisa jadi bukan angkot yang menyebabkan kemacetan, tapi kendaraan pribadi. Ditambah lagi, kapasitas jalan yang terbatas juga menjadi masalah tersendiri,” imbuhnya.

Solusi Jangka Panjang Dibutuhkan

Kristian menekankan, solusi jangka panjang hanya bisa dicapai jika pemerintah benar-benar menggali akar persoalan, bukan hanya merespons gejala permukaannya.

“Jangan hanya terjebak melihat gejala masalahnya saja sebab penyelesaian terhadap gejala masalah hanya akan berlaku temporer. Penyelesaian pada akar masalah yang akan membawa dampak terhadap penyelesaian masalah. Dan jelas ini butuh pendalaman masalah yang komprehensif, riset yang intensif, dan keputusan yang tidak terburu-buru,” tegasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Kompensasi Kristian Widya Wicaksono
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hari Kelabu di Bandung Barat, Polisi Selidiki Dua Kematian Misterius

Viral Deretan Motor MBG, Diduga Gunakan Motor Listrik Berharga Puluhan Juta

Dosen PPPK Keluhkan Karier Mandek dan Tukin Tak Adil, DPR RI Diminta Turun Tangan

Ijazah Terancam, Wali Murid SMK IDN Kejar Waktu Demi Masa Depan Siswa

Lahan KAI di Bandung Disiapkan Jadi Hunian Subsidi Terintegrasi, Konsep TOD Disiapkan

DPRD Jabar Dorong Perizinan SMK IDN Segera Tuntas, Nasib Ijazah Siswa XII Jadi Prioritas

Terpopuler
  • Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ 7 Menit, Link Palsu Mengintai Warganet, Cek Aslinya
  • Bukan Indonesia? Fakta Mengejutkan di Balik Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri 7 Menit Ini
  • Terkuak Pemeran Video Ibu Tiri vs Anak Tiri di Kebun Sawit yang Bikin Heboh!
  • Link Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Disebut Punya Versi Lengkap Tanpa Sensor
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Jangan Tertipu! Link Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ini Diduga Jebakan Phishing
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.