bukamata.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global. Menanggapi situasi tersebut, Dewan Energi Nasional (DEN) mengimbau masyarakat Indonesia untuk mulai melakukan efisiensi energi, terutama penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM), secara besar-besaran sebagai langkah antisipasi dini.
Langkah ini dinilai krusial agar ketahanan nasional tetap kokoh di tengah ketidakpastian dunia. Pasalnya, ketergantungan terhadap impor energi menjadi titik lemah yang harus segera dibenahi melalui perubahan perilaku masyarakat.
Ubah Cara Berkendara, Tekan Ketergantungan Impor
Anggota DEN, Satya Widya Yudha, menekankan bahwa kunci utama menghadapi gejolak internasional ini ada di tangan konsumen. Dengan menekan konsumsi BBM secara mandiri, beban negara untuk mendatangkan energi dari luar negeri bisa berkurang drastis.
Dalam sarasehan energi yang digelar di Kampus ITB Bandung, Satya memaparkan langkah konkret yang bisa diambil publik:
“Kita meminta masyarakat untuk melakukan efisiensi. Ya bermobil berkendara dengan efisien dengan cara-cara efisien memaksimalkan penggunaan daripada transportasi publik. Ya, itu sudah mengurangi konsumsi. Insya Allah bagi mereka yang mampu untuk membeli mobil listrik, gunakanlah mobil listrik itu dengan baik,” ujar Satya, dikutip Rabu (13/5/2026).
Ia menambahkan bahwa efek domino dari penghematan ini sangat positif bagi kedaulatan energi Indonesia.
“Dengan demikian, konsumsi daripada BBM itu bisa ditekan jauh. Ketergantungan kita pada impor juga pasti akan berkurang,” lanjutnya.
Bagaimana Kondisi Cadangan Energi Kita Saat Ini?
Meski ada imbauan penghematan, masyarakat diminta tidak panik. Berdasarkan catatan DEN, indikator ketahanan energi Indonesia masih berada di zona hijau dengan skor 7,13 dari skala 10.
Beberapa poin penting terkait stok energi nasional meliputi:
- Cadangan Operasional: Saat ini stok BBM nasional aman untuk kebutuhan 21 hingga 28 hari.
- Landasan Hukum: Pemerintah sudah menyiapkan PP Nomor 40 Tahun 2016 sebagai protokol darurat jika terjadi gangguan pasokan energi yang ekstrem.
- Strategi Jangka Panjang: Fokus pemerintah saat ini adalah mempercepat produksi migas domestik dan masifnya pengembangan energi alternatif untuk memutus rantai ketergantungan impor.
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah di sektor hulu dan kesadaran masyarakat di sektor hilir, Indonesia diharapkan mampu melewati badai disrupsi geopolitik global tanpa harus mengalami krisis energi yang melumpuhkan aktivitas ekonomi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










