bukamata.id – Gema takbir dan riuh tepuk tangan di arena Muktamar XIV Pemuda Persatuan Islam (Persis) perlahan memudar, namun residu ketegangan politiknya justru semakin memanas. Alih-alih menjadi momentum persatuan, forum tertinggi organisasi kepemudaan Islam ini menyisakan luka bagi sejumlah kader di tingkat daerah.
Salah satu suara kritis datang dari kader Pemuda Persis Kabupaten Subang, Fitrah Alamsyah. Ia mengungkapkan bahwa atmosfer pasca-muktamar justru membawa awan mendung bagi optimisme kader akar rumput.
“Bagi kami, ini bukan sekadar memilih nahkoda baru. Ini menjadi sarana pembelajaran dan ajang silaturahmi agar lebih mengenal dinamika organisasi Islam secara mendalam,” ungkap Fitrah mengenang harapan awal rombongannya.
Dari Optimisme ke Meja Voting
Rombongan asal Subang datang ke arena muktamar dengan satu misi besar: melihat Pemuda Persis bertransformasi menjadi organisasi yang lebih modern dan progresif. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Sidang pleno berjalan alot hingga jalan musyawarah mufakat untuk memilih ketua umum menemui jalan buntu.
Puncaknya, kemenangan harus ditentukan lewat pemungutan suara (voting). Cepi Hamdan Rafiq keluar sebagai pemenang dengan 248 suara, menyisihkan rival kuatnya, Edwin Khadafi, yang meraih 201 suara.
Fitrah menjelaskan bahwa pilihan politik daerah didasarkan pada kebutuhan akan sosok pemimpin yang memiliki paket lengkap: integritas agama serta kemandirian ekonomi.
“Pada era modernisasi ini, tidak hanya pengetahuan agama yang wajib kuat. Ketahanan ekonomi dan kreativitas tinggi menjadi modal utama lainnya yang harus dimiliki calon pemimpin,” tegasnya.
Narasi “Bersama Ulama” yang Memicu Tafsir Liar
Dua pekan berlalu, optimisme itu justru berganti kecemasan. Munculnya poster bertuliskan “Pemuda Persis Bersama Ulama” tak lama setelah muktamar dinilai sebagai blunder komunikasi yang memicu polarisasi di internal.
Bagi sebagian kader, diksi tersebut seolah-olah menciptakan sekat antara siapa yang “paling dekat” dengan ulama dan siapa yang dianggap menjauh.
“Seolah memunculkan narasi selama ini kami tidak bersama ulama atau bahkan jauh dengan ulama,” ujar Fitrah dengan nada kecewa.
Polemik Struktur Pengurus: Dianggap Kurang “Nasional”
Puncak dari kegelisahan kader daerah meledak saat komposisi kepengurusan (Tasykil) Pusat diumumkan. Fitrah menilai susunan pengurus tersebut tidak mencerminkan wajah nasional organisasi karena terlalu didominasi oleh kader-kader yang berdomisili di Jawa Barat.
“Pimpinan pusat dengan wilayah kerja nasional hanya diisi tasykil yang berdomisili di Jawa Barat. Ini menjadi polemik yang ironi,” katanya.
Kritik tajam pun tak terelakkan. Kolam komentar siaran langsung pelantikan di kanal Persis TV hingga grup-grup internal dipenuhi sindiran. Sebagian kader merasa kepemimpinan baru ini terjebak dalam egosentris sektoral dan gagal merangkul seluruh elemen daerah dari Sabang sampai Merauke.
Bagi Fitrah, kritiknya bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan bentuk rasa cinta yang mendalam terhadap masa depan dakwah Pemuda Persis menuju visi global 2031.
“Sungguh ironi di tengah rasa bangga kami menjadi bagian Pemuda Persis. Yang seharusnya menjadi momentum kemenangan bersama, justru malah sebaliknya,” pungkas Fitrah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










