bukamata.id – Muhammad Farhan mengungkapkan bahwa fenomena anak zero dose masih menjadi tantangan serius di bidang kesehatan, termasuk di Kota Bandung. Istilah zero dose merujuk pada anak yang belum pernah menerima satu pun imunisasi dasar rutin, khususnya vaksin DPT-1 pada tahun pertama kehidupannya.
Menurut Farhan, persoalan tersebut tidak bisa dianggap sekadar angka statistik semata karena berkaitan langsung dengan masa depan kesehatan anak-anak Indonesia.
“Fenomena anak zero dose bukan sekadar angka statistik. Di balik istilah itu ada masa depan anak-anak yang harus kita jaga bersama,” ujar Farhan.
Pernyataan itu disampaikan saat mendampingi kunjungan kerja Dante Saksono Harbuwono dalam kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing Mengejar Anak Zero Dose di UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Penolakan Vaksin dan Hoaks Jadi Tantangan Besar
Farhan menilai, tantangan terbesar dalam program imunisasi saat ini bukan hanya soal akses layanan kesehatan, tetapi juga maraknya penolakan vaksin dan penyebaran disinformasi di masyarakat.
Menurutnya, masih ada kelompok masyarakat yang menolak imunisasi akibat perbedaan pandangan maupun pengaruh informasi yang tidak akurat di media sosial.
Karena itu, Farhan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya imunisasi dasar bagi anak.
Ia menyebut keterlibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, Posyandu, akademisi, media massa, hingga pengurus wilayah seperti RW menjadi sangat penting dalam membangun edukasi kesehatan yang tepat.
“Kerja sama 360 derajat menjadi sangat penting agar anak-anak kita tidak kehilangan hak mendapatkan imunisasi dasar,” katanya.
Indonesia Masih Hadapi Ancaman Anak Zero Dose
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi ancaman serius akibat tingginya jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar.
Menurut data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2025 terdapat sekitar 2,3 juta anak di Indonesia yang masuk kategori zero dose. Anak-anak tersebut belum menerima imunisasi campak, polio, DPT, maupun vaksin dasar lainnya.
“Cakupan imunisasi nasional memang sudah sekitar 80 persen, tetapi untuk menciptakan kekebalan komunal dibutuhkan minimal 90 persen,” jelas Dante.
Ia menilai masih munculnya kasus campak dan penyakit menular lainnya menjadi tanda bahwa perlindungan imunisasi di masyarakat belum merata.
Jawa Barat Dinilai Berhasil Tekan Angka Zero Dose
Dalam kesempatan tersebut, Dante turut mengapresiasi capaian Provinsi Jawa Barat yang berhasil menurunkan jumlah anak zero dose secara signifikan.
Dalam satu tahun terakhir, jumlah anak yang belum mendapat imunisasi dasar berhasil turun dari sekitar 102 ribu menjadi 67 ribu anak.
“Penurunannya hampir 40 ribu anak. Ini capaian yang luar biasa,” ujarnya.
Menurut Dante, Kota Bandung memiliki peluang besar menjadi contoh nasional dalam penanganan anak zero dose melalui inovasi layanan kesehatan, penguatan Posyandu, serta kolaborasi lintas sektor.
Media Diminta Jadi Garda Edukasi Imunisasi
Dante juga mengajak media massa untuk aktif menyebarkan informasi yang benar terkait imunisasi agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks dan disinformasi kesehatan.
“Media harus menjadi bagian dari solusi dengan menghadirkan informasi yang benar tentang pentingnya imunisasi,” katanya.
Di akhir kegiatan, Dante kembali menegaskan bahwa menjaga kesehatan anak merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa. Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh hak kesehatan secara merata.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










