bukamata.id – Nama Mbah Riyan atau Ibnu Harjo Al-Jawi belakangan menjadi perhatian publik setelah kisah kesederhanaannya viral. Di balik kesehariannya sebagai pekerja bangunan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tersimpan jejak keilmuan yang luar biasa.
Ia dikenal sebagai salah satu ulama Indonesia yang aktif melakukan tahqiq kitab turats, sebuah pekerjaan ilmiah untuk meneliti, menyunting, dan menghadirkan kembali karya-karya ulama klasik agar dapat dipelajari generasi masa kini.
Bukan sekadar menulis ulang kitab lama, Mbah Riyan menekuni dunia tahqiq dengan standar akademik tinggi. Puluhan karya ulama besar dari berbagai bidang keislaman telah disentuh tangannya, mulai dari kitab fikih Mazhab Syafi’i, hadis, akidah, tasawuf, hingga ushul fikih.
Kealiman Mbah Riyan bahkan mendapat pengakuan dari ulama Timur Tengah. Salah satunya dari ulama besar Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Ghofar Hamid Hilal, yang memberikan apresiasi terhadap ketelitian ilmiah, metodologi tahqiq, serta kualitas muqaddimah yang ditulis Mbah Riyan dalam kitab Fathul Khabir karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi.
Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa karya seorang muhaqqiq asal Kudus itu tidak hanya dibaca di lingkungan pesantren Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian dari dunia akademik Islam internasional.
Dari Kudus, Mbah Riyan Merawat Warisan Ulama Dunia Lewat Kitab
Dalam tradisi keilmuan Islam, kitab turats memiliki posisi penting sebagai mata rantai ilmu yang menghubungkan generasi ulama terdahulu dengan pembaca masa kini.
Namun, menjaga keberlangsungan kitab-kitab klasik bukan pekerjaan mudah. Banyak naskah mengalami perubahan akibat kesalahan penyalinan, perbedaan cetakan, hingga kekeliruan dalam proses reproduksi selama ratusan tahun.
Di sinilah peran seorang muhaqqiq menjadi sangat penting.
Tahqiq bukan sekadar memperbaiki tulisan atau mencetak ulang kitab. Seorang muhaqqiq harus melakukan penelitian mendalam dengan membandingkan berbagai manuskrip, memeriksa sumber rujukan, menelusuri sanad keilmuan, memberikan catatan penjelas, hingga memastikan teks yang diterbitkan mendekati maksud asli pengarang.
Pekerjaan tersebut membutuhkan penguasaan berbagai disiplin ilmu, mulai dari Bahasa Arab, nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, ushul fikih, hingga sejarah perkembangan literatur Islam.
Mbah Riyan menjalani proses tersebut secara istiqamah. Berbeda dengan banyak akademisi yang menempuh jalur formal hingga perguruan tinggi Timur Tengah, ia membangun tradisi keilmuannya melalui kebiasaan membaca dan meneliti kitab klasik setiap malam.
Puluhan Kitab Ulama Besar Ditahqiq Mbah Riyan
Jejak intelektual Ibnu Harjo Al-Jawi tercatat melalui puluhan kitab yang telah ia tahqiq. Karya-karya tersebut berasal dari ulama besar dunia Islam, termasuk ulama Nusantara yang memiliki pengaruh luas.
Beberapa kitab yang pernah ditahqiq oleh Mbah Riyan antara lain:
1. Bidayatul Hidayah Karya Imam Al-Ghazali
Kitab karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali ini merupakan salah satu karya monumental yang membahas adab seorang muslim dalam menjalani kehidupan spiritual.
Melalui tahqiq Mbah Riyan, kitab tersebut kembali dihadirkan dengan penyuntingan ilmiah sehingga lebih mudah dipahami pembaca masa kini.
2. Fathul Mu’in Karya Syekh Zainuddin Al-Malibari
Sebagai salah satu kitab fikih Mazhab Syafi’i yang banyak dipelajari di pesantren, Fathul Mu’in memiliki tingkat kompleksitas tinggi.
Dalam proses tahqiq, Mbah Riyan melakukan penelitian terhadap berbagai sumber, termasuk membandingkan sejumlah cetakan dan manuskrip untuk memastikan ketepatan teks.
3. Kitab-Kitab Karya Syekh Nawawi Al-Bantani
Sebagai ulama besar asal Banten yang namanya mendunia hingga Haramain, karya Syekh Nawawi Al-Bantani menjadi perhatian besar dalam dunia pesantren.
Beberapa karya Syekh Nawawi yang ditangani Mbah Riyan antara lain:
- Syarah Uqudul Lujain
- Fathul Majid
- Qatrul Ghaits
- Qami’ At-Thughyan
- Kasyifatus Saja
- Nashaihul ‘Ibad
- Mirqatu Shu’ud At-Tashdiq
- Nuur Adz-Dzolam
- Bahjatul Wasail
Melalui karya-karya tersebut, Mbah Riyan ikut menjaga warisan intelektual ulama Nusantara agar tetap hidup dan dapat dikaji generasi berikutnya.
4. Fathul Khabir Karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi
Salah satu karya yang paling mendapat perhatian adalah tahqiq kitab Fathul Khabir karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi, ulama besar asal Tremas Pacitan yang dikenal sebagai salah satu ahli hadis Nusantara.
Kualitas tahqiq kitab tersebut mendapat pujian dari ulama Al-Azhar Mesir karena dinilai memiliki ketelitian metodologi dan penyajian ilmiah yang kuat.
5. Kitab Hadis dan Akhlak
Selain fikih, Mbah Riyan juga menekuni kitab-kitab hadis dan pendidikan akhlak, di antaranya:
- Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Imam Nawawi
- Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani
- Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi
- At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam Nawawi
- Mukhtarul Ahadits karya Sayyid Ahmad Al-Hasyimi
Karya-karya tersebut menunjukkan luasnya bidang kajian yang digeluti Mbah Riyan.
Lebih dari 100 Karya Ilmiah, Dakwah Lewat Pena
Mbah Riyan dikenal sebagai ulama produktif atau dalam istilah Arab disebut mualif muktsir, yakni sosok yang banyak menghasilkan karya tulis.
Lebih dari seratus judul karya ilmiah dan penelitian disebut telah ia hasilkan. Sebagian besar berkaitan dengan dunia tahqiq dan ta’liq kitab turats.
Bagi Mbah Riyan, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi bentuk pengabdian kepada para ulama terdahulu.
Ia tidak memilih jalur dakwah melalui panggung besar atau popularitas media sosial. Jalan yang dipilihnya adalah dakwah bil qalam, berdakwah melalui tulisan dan karya ilmiah.
Siang Jadi Tukang Bangunan, Malam Menjadi Peneliti Kitab
Kisah Mbah Riyan menjadi semakin menarik karena kehidupannya jauh dari gambaran seorang intelektual pada umumnya.
Pada siang hari, ia bekerja sebagai pekerja bangunan. Tangannya yang sama yang mengaduk semen dan menyusun batu bata, pada malam hari digunakan untuk membuka kitab-kitab klasik, membaca manuskrip, dan menyusun catatan ilmiah.
Kesederhanaan tersebut membuat banyak orang tidak menyangka bahwa sosok yang mereka kenal sebagai pekerja biasa ternyata memiliki reputasi di dunia kitab turats internasional.
Ia pernah menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta. Namun, ia memilih jalan berbeda dengan tetap menjaga konsistensi dalam menulis dan meneliti kitab.
Menolak Panggung Popularitas Setelah Mendapat MUI Award
Kontribusi Mbah Riyan dalam dunia keilmuan Islam mendapat apresiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui penghargaan MUI Award 2026.
Namun, ketika diundang untuk menerima penghargaan tersebut di Jakarta, ia memilih tidak hadir.
Keputusan itu bukan karena tidak menghargai penghargaan, melainkan karena ingin menjaga dirinya dari popularitas dan tetap fokus pada aktivitas keilmuan.
Baginya, karya dan manfaat ilmu jauh lebih penting dibandingkan pengakuan manusia.
Warisan Mbah Riyan Bukan Sekadar Kitab, tetapi Mata Rantai Ilmu
Perjalanan Ibnu Harjo Al-Jawi menunjukkan bahwa ilmu tidak selalu lahir dari ruang akademik yang megah. Kadang, ilmu tumbuh dari kesunyian, ketekunan, dan kecintaan yang panjang terhadap kitab-kitab ulama.
Melalui puluhan karya tahqiq, Mbah Riyan telah mengambil peran penting dalam menjaga warisan intelektual Islam.
Ia bukan hanya menyunting kitab, tetapi merawat mata rantai ilmu agar tetap tersambung dari ulama masa lalu kepada generasi masa depan.
Dari Kudus, seorang pekerja bangunan sederhana membuktikan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak selalu terlihat dari pakaian, jabatan, atau panggung yang dimiliki.
Kadang, kemuliaan justru tersembunyi di balik halaman-halaman kitab yang ditulis dengan penuh ketelitian dan keikhlasan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









