Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pemerintah Teliti Putusan MK Terkait Isu Ijazah Wapres Gibran: Masih Kami Pelajari Lebih Dalam

Kamis, 8 Oktober 2026 16:54 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

BPNT Tahap 4 2026 Cair Oktober-Desember, KPM Bisa Terima Rp600 Ribu? Cek Caranya

Kamis, 8 Oktober 2026 16:02 WIB

Update Ranking FIFA Oktober 2026: Indonesia Terbang Tinggi Tempel Ketat Thailand dan Vietnam

Kamis, 8 Oktober 2026 16:01 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pemerintah Teliti Putusan MK Terkait Isu Ijazah Wapres Gibran: Masih Kami Pelajari Lebih Dalam
  • BPNT Tahap 4 2026 Cair Oktober-Desember, KPM Bisa Terima Rp600 Ribu? Cek Caranya
  • Update Ranking FIFA Oktober 2026: Indonesia Terbang Tinggi Tempel Ketat Thailand dan Vietnam
  • Bukan Kompetisi Kaleng-kaleng, Igor Tolic Ungkap Beratnya Lawan Persib di Shopee Cup
  • Viral Unggahan Celana Dalam Berwarna Merah Putih, Warganet Indonesia Geram
  • Taisei Marukawa Ungkap Proses Naturalisasi Demi Bela Timnas Indonesia
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Lapak Dibongkar, Buku Dijual Kiloan: Nasib Bagja di Tengah Penertiban PKL Cihapit
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 8 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bukan Profesor, Mbah Riyan Tukang Bangunan dari Kudus Ini Diakui Ulama Al-Azhar Lewat Puluhan Kitab Tahqiq

By SusanaSenin, 3 Agustus 2026 19:02 WIB6 Mins Read
Mbah Riyan atau Ibnu Harjo Al-Jawi dikenal sebagai muhaqqiq asal Kudus yang menahqiq puluhan kitab turats karya ulama besar. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nama Mbah Riyan atau Ibnu Harjo Al-Jawi belakangan menjadi perhatian publik setelah kisah kesederhanaannya viral. Di balik kesehariannya sebagai pekerja bangunan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tersimpan jejak keilmuan yang luar biasa.

Ia dikenal sebagai salah satu ulama Indonesia yang aktif melakukan tahqiq kitab turats, sebuah pekerjaan ilmiah untuk meneliti, menyunting, dan menghadirkan kembali karya-karya ulama klasik agar dapat dipelajari generasi masa kini.

Bukan sekadar menulis ulang kitab lama, Mbah Riyan menekuni dunia tahqiq dengan standar akademik tinggi. Puluhan karya ulama besar dari berbagai bidang keislaman telah disentuh tangannya, mulai dari kitab fikih Mazhab Syafi’i, hadis, akidah, tasawuf, hingga ushul fikih.

Kealiman Mbah Riyan bahkan mendapat pengakuan dari ulama Timur Tengah. Salah satunya dari ulama besar Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Ghofar Hamid Hilal, yang memberikan apresiasi terhadap ketelitian ilmiah, metodologi tahqiq, serta kualitas muqaddimah yang ditulis Mbah Riyan dalam kitab Fathul Khabir karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi.

Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa karya seorang muhaqqiq asal Kudus itu tidak hanya dibaca di lingkungan pesantren Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian dari dunia akademik Islam internasional.

Dari Kudus, Mbah Riyan Merawat Warisan Ulama Dunia Lewat Kitab

Dalam tradisi keilmuan Islam, kitab turats memiliki posisi penting sebagai mata rantai ilmu yang menghubungkan generasi ulama terdahulu dengan pembaca masa kini.

Namun, menjaga keberlangsungan kitab-kitab klasik bukan pekerjaan mudah. Banyak naskah mengalami perubahan akibat kesalahan penyalinan, perbedaan cetakan, hingga kekeliruan dalam proses reproduksi selama ratusan tahun.

Di sinilah peran seorang muhaqqiq menjadi sangat penting.

Tahqiq bukan sekadar memperbaiki tulisan atau mencetak ulang kitab. Seorang muhaqqiq harus melakukan penelitian mendalam dengan membandingkan berbagai manuskrip, memeriksa sumber rujukan, menelusuri sanad keilmuan, memberikan catatan penjelas, hingga memastikan teks yang diterbitkan mendekati maksud asli pengarang.

Pekerjaan tersebut membutuhkan penguasaan berbagai disiplin ilmu, mulai dari Bahasa Arab, nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, ushul fikih, hingga sejarah perkembangan literatur Islam.

Mbah Riyan menjalani proses tersebut secara istiqamah. Berbeda dengan banyak akademisi yang menempuh jalur formal hingga perguruan tinggi Timur Tengah, ia membangun tradisi keilmuannya melalui kebiasaan membaca dan meneliti kitab klasik setiap malam.

Puluhan Kitab Ulama Besar Ditahqiq Mbah Riyan

Jejak intelektual Ibnu Harjo Al-Jawi tercatat melalui puluhan kitab yang telah ia tahqiq. Karya-karya tersebut berasal dari ulama besar dunia Islam, termasuk ulama Nusantara yang memiliki pengaruh luas.

Beberapa kitab yang pernah ditahqiq oleh Mbah Riyan antara lain:

1. Bidayatul Hidayah Karya Imam Al-Ghazali

Kitab karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali ini merupakan salah satu karya monumental yang membahas adab seorang muslim dalam menjalani kehidupan spiritual.

Melalui tahqiq Mbah Riyan, kitab tersebut kembali dihadirkan dengan penyuntingan ilmiah sehingga lebih mudah dipahami pembaca masa kini.

2. Fathul Mu’in Karya Syekh Zainuddin Al-Malibari

Sebagai salah satu kitab fikih Mazhab Syafi’i yang banyak dipelajari di pesantren, Fathul Mu’in memiliki tingkat kompleksitas tinggi.

Dalam proses tahqiq, Mbah Riyan melakukan penelitian terhadap berbagai sumber, termasuk membandingkan sejumlah cetakan dan manuskrip untuk memastikan ketepatan teks.

3. Kitab-Kitab Karya Syekh Nawawi Al-Bantani

Sebagai ulama besar asal Banten yang namanya mendunia hingga Haramain, karya Syekh Nawawi Al-Bantani menjadi perhatian besar dalam dunia pesantren.

Beberapa karya Syekh Nawawi yang ditangani Mbah Riyan antara lain:

  • Syarah Uqudul Lujain
  • Fathul Majid
  • Qatrul Ghaits
  • Qami’ At-Thughyan
  • Kasyifatus Saja
  • Nashaihul ‘Ibad
  • Mirqatu Shu’ud At-Tashdiq
  • Nuur Adz-Dzolam
  • Bahjatul Wasail

Melalui karya-karya tersebut, Mbah Riyan ikut menjaga warisan intelektual ulama Nusantara agar tetap hidup dan dapat dikaji generasi berikutnya.

4. Fathul Khabir Karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi

Salah satu karya yang paling mendapat perhatian adalah tahqiq kitab Fathul Khabir karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi, ulama besar asal Tremas Pacitan yang dikenal sebagai salah satu ahli hadis Nusantara.

Kualitas tahqiq kitab tersebut mendapat pujian dari ulama Al-Azhar Mesir karena dinilai memiliki ketelitian metodologi dan penyajian ilmiah yang kuat.

5. Kitab Hadis dan Akhlak

Selain fikih, Mbah Riyan juga menekuni kitab-kitab hadis dan pendidikan akhlak, di antaranya:

  • Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Imam Nawawi
  • Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani
  • Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi
  • At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam Nawawi
  • Mukhtarul Ahadits karya Sayyid Ahmad Al-Hasyimi

Karya-karya tersebut menunjukkan luasnya bidang kajian yang digeluti Mbah Riyan.

Lebih dari 100 Karya Ilmiah, Dakwah Lewat Pena

Mbah Riyan dikenal sebagai ulama produktif atau dalam istilah Arab disebut mualif muktsir, yakni sosok yang banyak menghasilkan karya tulis.

Lebih dari seratus judul karya ilmiah dan penelitian disebut telah ia hasilkan. Sebagian besar berkaitan dengan dunia tahqiq dan ta’liq kitab turats.

Bagi Mbah Riyan, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi bentuk pengabdian kepada para ulama terdahulu.

Ia tidak memilih jalur dakwah melalui panggung besar atau popularitas media sosial. Jalan yang dipilihnya adalah dakwah bil qalam, berdakwah melalui tulisan dan karya ilmiah.

Siang Jadi Tukang Bangunan, Malam Menjadi Peneliti Kitab

Kisah Mbah Riyan menjadi semakin menarik karena kehidupannya jauh dari gambaran seorang intelektual pada umumnya.

Pada siang hari, ia bekerja sebagai pekerja bangunan. Tangannya yang sama yang mengaduk semen dan menyusun batu bata, pada malam hari digunakan untuk membuka kitab-kitab klasik, membaca manuskrip, dan menyusun catatan ilmiah.

Kesederhanaan tersebut membuat banyak orang tidak menyangka bahwa sosok yang mereka kenal sebagai pekerja biasa ternyata memiliki reputasi di dunia kitab turats internasional.

Ia pernah menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta. Namun, ia memilih jalan berbeda dengan tetap menjaga konsistensi dalam menulis dan meneliti kitab.

Menolak Panggung Popularitas Setelah Mendapat MUI Award

Kontribusi Mbah Riyan dalam dunia keilmuan Islam mendapat apresiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui penghargaan MUI Award 2026.

Namun, ketika diundang untuk menerima penghargaan tersebut di Jakarta, ia memilih tidak hadir.

Keputusan itu bukan karena tidak menghargai penghargaan, melainkan karena ingin menjaga dirinya dari popularitas dan tetap fokus pada aktivitas keilmuan.

Baginya, karya dan manfaat ilmu jauh lebih penting dibandingkan pengakuan manusia.

Warisan Mbah Riyan Bukan Sekadar Kitab, tetapi Mata Rantai Ilmu

Perjalanan Ibnu Harjo Al-Jawi menunjukkan bahwa ilmu tidak selalu lahir dari ruang akademik yang megah. Kadang, ilmu tumbuh dari kesunyian, ketekunan, dan kecintaan yang panjang terhadap kitab-kitab ulama.

Melalui puluhan karya tahqiq, Mbah Riyan telah mengambil peran penting dalam menjaga warisan intelektual Islam.

Ia bukan hanya menyunting kitab, tetapi merawat mata rantai ilmu agar tetap tersambung dari ulama masa lalu kepada generasi masa depan.

Dari Kudus, seorang pekerja bangunan sederhana membuktikan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak selalu terlihat dari pakaian, jabatan, atau panggung yang dimiliki.

Kadang, kemuliaan justru tersembunyi di balik halaman-halaman kitab yang ditulis dengan penuh ketelitian dan keikhlasan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pemerintah Teliti Putusan MK Terkait Isu Ijazah Wapres Gibran: Masih Kami Pelajari Lebih Dalam

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

BPNT Tahap 4 2026 Cair Oktober-Desember, KPM Bisa Terima Rp600 Ribu? Cek Caranya

Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan

Lapak Dibongkar, Buku Dijual Kiloan: Nasib Bagja di Tengah Penertiban PKL Cihapit

Manuver Politik Dedi Mulyadi: Diisukan Merapat ke PSI dan Skenario Duet Maut dengan Gibran di 2029

Siswi SMAN 5 Cimahi Hilang Sejak Sabtu, Ibu Syok Uang di Rumah Ikut Raib

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Skandal HGB Kota Baru Parahyangan: KPK Amankan Berkas dan Ungkap Aliran Suap Miliaran
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.