bukamata.id – Di balik sorot kamera digital dan ritme musik latar tempat kebugaran (gym), sesosok pria berkaus kuning tampak memamerkan senyum ke arah cermin. Di sampingnya, seorang wanita memegang ponsel untuk merekam momentum kebersamaan mereka di tengah jajaran alat-alat beban. Pria itu adalah Ustaz Riza Muhammad, pendakwah yang namanya sudah tak asing lagi di panggung hiburan dan syiar keagamaan Tanah Air. Namun, alih-alih panen pujian atas pola hidup sehat yang dijalankannya, video singkat berdurasi beberapa detik itu justru memicu gelombang kritik pedas di jagat maya.
Fenomena pendakwah yang membagikan aktivitas kebugaran pribadi sebenarnya bukan hal baru. Namun, ketika busana yang dikenakan dianggap terlalu ketat, otot dada dan lengan dipamerkan ke publik, serta latar belakang menunjukkan ruang olahraga campur pria dan wanita, persepsi masyarakat seketika terbelah. Citra pendakwah yang identik dengan kesederhanaan, keanggunan, dan batasan pergaulan yang ketat mendadak berbenturan dengan realitas konten media sosial yang mengeksplorasi fisik dan gaya hidup modern.
Badai Kritik di Kolom Komentar: Dari Batas Aurat hingga Soal Gelar
Unggahan yang beredar luas di berbagai platform seperti TikTok dan Instagram tersebut dengan cepat dibanjiri ribuan tanggapan dari warganet. Sorotan utama publik tertuju pada pilihan lokasi olahraga dan penampilan fisik sang ustaz yang dinilai kurang mencerminkan figur teladan keagamaan.
Sebagian netizen menyarankan agar sang pendakwah lebih bijak memilih tempat serta sarana olahraga demi menjaga pandangan dan marwah diri.
“Lebih bagus nge-gym dirumah sendiri ustadz, pake personal trainer, beli alat gym sendiri, lebih menjaga mata dan menjaga hati, bener gak pak Ustadz..,” ujar salah satu netizen.
Tidak sedikit pula warganet yang menyentil latar belakang profesi dan popularitas Ustaz Riza Muhammad. Mereka mempertanyakan kredibilitas keilmuan sang ustaz hingga menyarankan pergantian label nama untuknya.
“Lebih cocok jadi personal trainer selebritas, ya dipanggilnya coach dong jangan ustaz,” sindir netizen lainnya.
Bahkan, asal-usul sebutan “ustaz” yang melekat pada dirinya pun tidak luput dari prasangka dan nostalgia kritis masyarakat terhadap rekam jejak kariernya di layar kaca.
“Lagian bukannya disebut ustd krna main sinetron yaa? Maaf klo salah, padahal di tempat gym ada aja yg terbuka, meski tujuannya olahraga kenpa ga buat gym dirumah kan katanya rumah nya ablag ablagan gede,,” tulis warganet lain dengan nada menyayangkan.
Rangkaian komentar tersebut menegaskan betapa publik memegang ekspektasi yang sangat tinggi terhadap sosok yang menyandang gelar keagamaan. Bagi masyarakat, identitas “ustaz” membawa konsekuensi moral yang tidak hanya berlaku di atas mimbar ceramah, tetapi juga melekat penuh saat berada di ruang gym maupun di depan kamera ponsel.
Pelurusan dari Sang Istri dan Klarifikasi Inti Olahraga
Menanggapi liar tudingan yang menyebut suaminya sering berlatih dan membentuk tubuh bersama wanita lain di tempat umum, sang istri, Indri Giana, akhirnya angkat bicara. Indri meluruskan kabar miring tersebut dan menegaskan bahwa narasi yang beredar di media sosial telah dipelintir dari fakta sebenarnya. Menurutnya, kehadiran wanita dalam video tersebut bukanlah rekan olahraga tanpa batasan, melainkan situasi yang memiliki konteks jelas dan didampingi secara transparan.
Ustaz Riza Muhammad sendiri turut menegaskan bahwa motivasi utamanya konsisten menjalani latihan fisik murni demi menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Sebagai figur yang memiliki jadwal aktivitas padat, stamina dan kondisi fisik yang prima dianggapnya sebagai salah satu bentuk ikhtiar menjaga amanah kesehatan dari Sang Pencipta.
Meski dihantam prasangka buruk dan beragam narasi negatif, pasangan suami istri ini memilih untuk tidak membawa masalah tersebut ke ranah hukum. Dengan lapang dada, Ustaz Riza dan Indri Giana memilih untuk memaafkan para netizen yang melontarkan kritik keras maupun fitnah. Mereka menyadari bahwa di era keterbukaan informasi seperti sekarang, setiap tindakan figur publik akan selalu memicu sudut pandang yang beragam.
Jejak Polemik Berulang: Dari Renang hingga Isu Miring
Sorotan terhadap aktivitas fisik Ustaz Riza Muhammad sebenarnya bukanlah babak baru dalam perjalanannya di ruang publik. Sebelum polemik video gym ini mencuat, kegiatan olahraganya yang lain juga sempat memicu perdebatan hangat, salah satunya saat ia membagikan momen berenang.
Kala itu, sang ustaz membagikan momen berenangnya sebagai alternatif olahraga di luar jadwal kebugaran rutin.
“Bismillah, renang salah satu olahraga yang dianjurin Rasul. Kegiatan sore ini libur gym dialihkan pada renang,” tulisnya dalam salah satu unggahan Instagram.
Namun, niat membagikan sunnah berenang itu justru memicu polemik mengenai batasan aurat laki-laki. Sebagian warganet menilai pakaian renang yang dikenakan terlalu terbuka untuk ukuran seorang pendakwah, seperti komentar dari akun @mar yang menulis, “Aurat ustad aurat…iih gmn sih …”. Di sisi lain, ada pula publik yang membela dan menilai bahwa pakaian tersebut masih dalam batas kewajaran olahraga renang. Account @tan misalnya, berpendapat, “Lah itu bukan aurat, dan berenang yaa emang gapake baju atau kalo emang pakai baju renang ya silahkan.”
Tidak berhenti pada persoalan busana dan tempat olahraga, ruang digital bahkan pernah menyuguhkan ujian yang jauh lebih berat bagi rumah tangga mereka. Beberapa waktu lalu, sebuah potongan video lama yang merekam Ustaz Riza bersama seorang pria di tempat gym mendadak viral kembali dengan narasi manipulatif. Video tersebut dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menggiring opini dan melayangkan tudingan miring terkait orientasi seksual sang ustaz.
Ustaz Riza secara tegas membantah narasi tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah yang sangat menyakitkan bagi keluarganya. Pria dalam video tersebut tidak lain adalah asisten pribadinya sendiri yang tinggal serumah dan sudah sangat dikenal oleh sang istri.
“Beritanya agak-agak ngawur ya, mulai dari pemberitaan yang sangat menyakitkan. Lucunya lagi, yang dituduhkan lagi itu asisten yang tinggal serumah dan istri juga tahu. Gimana sih orang-orang? Video bertahun-tahun lalu dimunculkan kembali dan dibikin narasi yang memancing,” tegas Ustaz Riza kala memberikan klarifikasi.
Dampak dari disinformasi tersebut sempat membuat kondisi psikologis sang istri down. Namun, pengalaman pahit tersebut sekaligus menjadi cermin betapa rentannya potongan video tanpa konteks dipelintir menjadi bola liar di media sosial.
Dilema Figur Publik Keagamaan di Era Digital
Fenomena yang dialami Ustaz Riza Muhammad memantulkan realitas mendasar mengenai batas antara kehidupan pribadi, kesehatan, dan ekspektasi sosial terhadap penceramah di era modern.
Di satu sisi, menjaga kesehatan melalui gym, renang, maupun olahraga lainnya adalah hak setiap individu dan sejalan dengan anjuran menjaga stamina tubuh. Namun, ketika aktivitas personal tersebut diunggah ke media sosial, batas antara ruang pribadi dan publik seketika lebur. Setiap detail—mulai dari lekuk pakaian, rekan di sekeliling, hingga ekspresi wajah—akan diuji menggunakan kacamata nilai yang dianut oleh jutaan pengikutnya.
Polemik ini memberikan pelajaran berharga bagi seluruh pengguna media sosial. Bagi para figur publik, khusunya pendakwah, kehati-hatian dalam mengemas konten keseharian menjadi hal yang tak terelakkan agar tidak menimbulkan salah paham atau fitnah. Sementara bagi masyarakat dan warganet, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya bersikap kritis namun tetap berempati—menyampaikan masukan konstruktif tanpa harus menghakimi, menyebarkan prasangka, atau merusak kehormatan pribadi seseorang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











