bukamata.id – Jumlah konsumen yang berpotensi terdampak dugaan keracunan makanan di restoran 88 SEOUL, Kota Bandung, diperkirakan mencapai 200 orang. Hingga Jumat (9/10/2026), Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat 24 orang mengalami gejala dan telah mendapatkan pengobatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Pemkot Bandung, Dadan Mulyana, mengatakan angka tersebut masih berdasarkan laporan yang berhasil dihimpun petugas. Dari 24 orang yang mengalami gejala, satu orang dilaporkan harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
“Ada kemungkinan 200 konsumen yang berpotensi terdampak, gitu ya. Tapi laporan terakhir yang kami himpun, ya sejauh ini ada 24 yang memang bergejala, kemudian sudah berobat juga ya, dari 24 itu satu orang dirawat inap,” kata Dadan kepada wartawan, Jumat (9/10/2026).
Sampel Makanan Restoran 88 SEOUL Sulit Diperiksa
Dadan menjelaskan, pemeriksaan sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut kini menghadapi kendala. Sampel yang tersedia telah berusia lebih dari dua hari sehingga dinilai tidak lagi valid untuk memastikan penyebab keracunan melalui pemeriksaan yang diperlukan.
Akibatnya, Pemkot Bandung kesulitan menentukan apakah gejala yang dialami konsumen berkaitan dengan bakteri, zat kimia, atau faktor lainnya.
“Jadi sudah tidak valid untuk dinyatakan itu apakah ada dari bakteri kah gitu, atau dari zat kimia gitu ya. Itu sudah tidak valid gitu ya. Karena memang jarak waktu dari antara kejadian dengan kita lakukan inspeksi,” ucapnya.
Dadan berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Dia mengingatkan setiap pelaku usaha jasa boga agar memperhatikan standar kesehatan lingkungan, termasuk kebersihan tempat pengolahan dan penyimpanan makanan.
Selain itu, perilaku orang yang menangani makanan juga perlu menjadi perhatian untuk mencegah risiko kontaminasi.
“Penyimpanan makanan, kemudian apa ya, kebersihan dan perilaku dari penjamah makanannya juga memang harus betul-betul diperhatikan gitu ya,” ujar Dadan.
Korban Keracunan Restoran 88 SEOUL Alami Diare dan Mual
Sebelumnya, salah seorang konsumen yang mengaku mengalami gejala keracunan, Ria Isti (35), menceritakan pengalamannya setelah menyantap makanan di restoran 88 SEOUL pada Sabtu (3/10/2026).
Saat itu, Ria datang bersama adiknya dan memesan sembilan item makanan serta minuman dengan total harga Rp220.000.
Pesanan mereka terdiri atas Baechu Kimchi, Eomuk Bokkeum, Gyeranmari, Korean Macaroni Salad, Danmuji Muchim, Sigeumchinamul, Myeokguk, dan Tangsuyuk. Sementara itu, minuman yang dipesan adalah green tea.
Ria mengaku tidak merasakan kejanggalan saat menyantap makanan dan minuman tersebut. Karena itu, dia tidak menyangka akan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan.
“Nggak nyangka, nggak nyangka keracunan juga. Untuk makanan pun juga waktu kita makan biasa aja, nggak ada yang janggal,” kata Ria saat dikonfirmasi pada Rabu (7/10/2026).
Namun, sehari setelah menyantap makanan tersebut, Ria mulai mengalami diare disertai mual. Kondisinya membuat dia kesulitan menerima makanan sehingga memutuskan mendatangi puskesmas untuk memeriksakan kesehatan.
Berdasarkan pemeriksaan yang dijalaninya, Ria dan adiknya didiagnosis mengalami gejala keracunan. Dia mengaku mendapatkan antibiotik dan obat antimual dari tenaga medis.
“Keracunan makanan. Aku dikasih antibiotik sama obat mual juga karena nggak masuk sama sekali makanan. Lemas itu di hari Minggu dan hari Senin,” ujarnya.
Kondisi Korban Belum Pulih
Meski telah mendapatkan pengobatan, Ria dan adiknya tidak menjalani rawat inap dan memilih melanjutkan perawatan di rumah. Namun, kondisi keduanya belum sepenuhnya pulih.
Ria mengaku masih mengalami diare dengan kondisi tinja cair dan merasakan tubuh lemas. Dia bahkan kembali mendatangi dokter untuk memeriksakan kondisinya.
“Aku lemas masih, tapi tadi aku pagi-pagi udah sempat ke dokter lagi karena pup aku masih cair. Sama adik aku berdua,” kata Ria.
Kasus dugaan keracunan makanan di restoran 88 SEOUL Bandung tersebut masih menjadi perhatian, mengingat jumlah konsumen yang berpotensi terdampak diperkirakan jauh lebih banyak daripada laporan orang yang telah mengalami gejala.
Pemerintah mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, memastikan penyimpanan makanan dilakukan dengan benar, serta memperhatikan proses pengolahan makanan guna meminimalkan risiko kejadian serupa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









