bukamata.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung bergerak cepat menelusuri dugaan kasus keracunan makanan yang terjadi setelah puluhan warga menyantap hidangan di restoran Korea 88 SEOUL, kawasan 23 Paskal Mall, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung.
Hingga pemeriksaan dilakukan, Dinkes Kota Bandung mencatat sebanyak 24 warga melaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut. Keluhan yang disampaikan antara lain sakit perut, mual, muntah hingga diare.
Tim Kesehatan Lingkungan bersama Tim Reaksi Cepat Dinkes Kota Bandung kemudian melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi sanitasi, dapur hingga tempat penyimpanan bahan baku restoran.
Dinkes Temukan Bahan Makanan Berdampingan dengan Cairan Pembersih
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan sejumlah kondisi yang dinilai masih berisiko terhadap keamanan makanan. Salah satunya berkaitan dengan penataan bahan baku di area restoran.
Bahan makanan segar dan bahan makanan kering ditemukan diletakkan berdekatan dengan stok cairan pembersih serta sabun pencuci piring yang mengandung bahan kimia.
Kondisi tersebut dinilai perlu segera diperbaiki untuk mencegah potensi kontaminasi terhadap bahan makanan.
“Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari.
Selain persoalan tata letak, petugas juga menemukan sejumlah perilaku penjamah makanan yang belum sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) higiene dan sanitasi.
Penggunaan Masker dan Hair Net Disorot
Dinkes Bandung menemukan penerapan sistem perputaran stok bahan makanan, seperti First In First Out (FIFO) maupun First Expired First Out (FEFO), belum diterapkan secara jelas.
Petugas juga melihat masih ada pekerja yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) dasar ketika mengolah makanan, seperti masker dan penutup rambut atau hair net.
Dewi mengatakan, aspek higiene dan sanitasi restoran masih perlu mendapat perhatian, termasuk dari sisi perilaku para penjamah makanan.
“Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran. Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” paparnya.
24 Warga Laporkan Gejala Gangguan Kesehatan
Dugaan kasus keracunan makanan ini mencuat setelah sejumlah konsumen mengeluhkan gangguan kesehatan tak lama setelah menyantap makanan di restoran tersebut.
Berdasarkan laporan yang diterima Dinkes Kota Bandung melalui puskesmas maupun aduan di media sosial, hingga pemeriksaan dilakukan tercatat 24 kasus yang dilaporkan.
Keluhan yang muncul di antaranya sakit perut, mual, muntah dan diare. Sebagian warga bahkan mengalami gejala dalam waktu relatif cepat setelah mengonsumsi makanan.
Reaksi paling cepat dilaporkan terjadi sekitar dua jam setelah makanan dikonsumsi.
“Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus. Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat,” jelas Dewi.
Restoran Tidak Simpan Sampel Makanan
Investigasi Dinkes Bandung masih menghadapi kendala karena pihak restoran diketahui tidak menyimpan sampel makanan yang disajikan saat dugaan kejadian keracunan berlangsung.
Padahal, sampel makanan diperlukan untuk pemeriksaan laboratorium guna mengetahui ada atau tidaknya kandungan berbahaya yang berkaitan dengan keluhan konsumen.
Karena sampel tidak tersedia, Dinkes untuk sementara melakukan edukasi, memberikan teguran serta meningkatkan pengawasan terhadap restoran bersama puskesmas setempat.
“Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel, tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi. Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya,” terang Dewi.
Dinkes Kota Bandung memastikan pemantauan terhadap kondisi higiene dan sanitasi restoran akan dilakukan lebih intensif sebagai bagian dari penanganan dugaan kasus keracunan makanan tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










