bukamata.id – Kasus dugaan keracunan massal yang melibatkan Restoran Korea 88 Seoul di Bandung kini berada dalam tahap penanganan intensif. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan bahwa sampel makanan dari tempat makan tersebut telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan ketat di laboratorium.
Langkah investigasi ini dikomandoi langsung oleh dua instansi penting, yakni Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung. Tim gabungan telah bergerak cepat turun tangan ke lokasi sejak beberapa hari lalu guna mengumpulkan berbagai barang bukti pendukung.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin-Gin Ginanjar, menjelaskan bahwa pihaknya langsung mengambil tindakan preventif setelah laporan masuk ke instansi terkait.
“Kami mengambil sampel (makanan) dan sebagainya, kemudian memberikan beberapa rekomendasi, dan rekomendasi itu salah satunya diikuti hari ini,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).
Kendati demikian, proses penelusuran fakta di lapangan tidak luput dari kendala teknis. Rentang waktu antara kejadian dan laporan yang diterima warga membuat petugas harus bekerja ekstra ekstra hati-hati.
“Belum ketahuan dari mananya karena ini kasusnya lumayan lama, sudah berlangsung beberapa hari baru lapor, sehingga agak kesulitan. Untuk sampel, harus mengambil makanan yang diindikasikan beracun, atau tempat, dan sisa-sisa, itu juga agak susah,” ungkap Gin Gin.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan selama menunggu hasil uji laboratorium keluar, pengelola restoran diminta mematuhi dua instruksi utama. Restoran diwajibkan melakukan pembersihan menyeluruh (general cleaning) serta pemeriksaan mandiri (general check), yang membuat operasional tempat makan tersebut dihentikan sementara waktu.
Selain itu, manajemen restoran juga didorong untuk bersikap kooperatif terhadap para korban terdampak.
“Kemudian yang kedua, diminta untuk komunikatif dengan konsumen yang kena kasus, dan untuk bisa, mengakomodir apa yang menjadi tanggung jawabnya. Dan itu juga sudah dilakukan hari ini, mereka sudah melakukan,” tambahnya.
Di sisi lain, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, turut memberikan keterangan terkait lamanya proses identifikasi. Menurutnya, uji laboratorium untuk mendeteksi kontaminasi pada bahan pangan tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan metode kultur bakteri atau jamur.
“Karena kita ambil sampel makanan, itu segala macam dites di lab. Dites di lab itu untuk mengetahui sesuatu terkontaminasi atau enggak, mesti ada kultur,” jelas Farhan.
Mengingat prosedur kultur memerlukan durasi waktu tertentu, Pemkot Bandung menghimbau masyarakat untuk bersabar dan belum bisa berspekulasi terlalu dini mengenai pemicu utama insiden keracunan ini hingga seluruh hasil resmi laboratorium diumumkan ke publik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









