Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Oknum Ibu Persit di Jayapura Viral, Diduga Terlibat Hubungan Gelap dengan 13 Prajurit

Sabtu, 28 Februari 2026 16:17 WIB

Ironi Program MBG: Saat Piring Siswa Disorot, SPPG Justru Gelar Bukber di Hotel Mewah

Sabtu, 28 Februari 2026 14:38 WIB

Masih Pantaskah Disebut Gaji? Perjuangan Guru NTT Menantang Maut di Jalanan dengan Upah ‘Seikhlasnya’

Sabtu, 28 Februari 2026 14:12 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Oknum Ibu Persit di Jayapura Viral, Diduga Terlibat Hubungan Gelap dengan 13 Prajurit
  • Ironi Program MBG: Saat Piring Siswa Disorot, SPPG Justru Gelar Bukber di Hotel Mewah
  • Masih Pantaskah Disebut Gaji? Perjuangan Guru NTT Menantang Maut di Jalanan dengan Upah ‘Seikhlasnya’
  • Babak Baru TPPO di Sikka: Dua Pengelola Klub Malam Resmi Jadi Tersangka Penyekapan 12 Warga Jabar
  • 5 Fakta Kasus Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau: Dari Motif Asmara hingga Aksi Terencana
  • Update Daftar Mudik Gratis Bandung 2026: Cek Link Daftar, Rute, dan Syarat Terbarunya!
  • Jadwal Persebaya vs Persib di Pekan ke-24 Super League: Duel Sengit di Gelora Bung Tomo
  • Harga Emas Antam Melejit Drastis Hari Ini 28 Februari 2026, Simak Rincian Per Gramnya!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 28 Februari 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Masih Pantaskah Disebut Gaji? Perjuangan Guru NTT Menantang Maut di Jalanan dengan Upah ‘Seikhlasnya’

By Aga GustianaSabtu, 28 Februari 2026 14:12 WIB5 Mins Read
Cerita guru honorer di NTT mendapatkan gaji Rp223.000 per bulan. (Foto: Instagram/withsulii)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Matahari belum sepenuhnya gagah menampakkan diri di langit Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, di tepian jalan setapak menuju Desa Batu Esa, seorang pria dengan pakaian rapi sudah berdiri tegap. Namanya Agusthinus Nitbani. Ia bukan sedang menunggu bus kota yang nyaman atau jemputan daring yang canggih. Ia sedang menunggu “keberuntungan” berupa truk pengangkut material yang lewat, demi satu tujuan: sampai di ruang kelas tepat waktu.

Agusthinus adalah potret nyata dari anomali pendidikan di negeri ini. Ia adalah guru honorer di SD Negeri Batu Esa. Sosoknya mendadak menjadi perbincangan hangat setelah sebuah video yang diunggah akun Instagram @withsulii viral, menembus lebih dari 9 juta pasang mata. Bukan karena prestasi mewah, melainkan karena angka di atas kertas slip gajinya yang mengiris hati: Rp223.000.

Paradoks Pengabdian: Turun Harga di Tengah Beban Kerja

Angka dua ratus dua puluh tiga ribu rupiah bukanlah angka awal. Sebelumnya, Agusthinus menerima honor sebesar Rp600.000 per bulan. Namun, kebijakan “efisiensi” anggaran memaksa pendapatan yang sudah minim itu terjun bebas. Bagi sebagian orang di kota besar, angka tersebut mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang di mal. Namun bagi Agusthinus, itu adalah “napas” untuk satu bulan penuh.

Ironinya, meski nominalnya kecil, hak tersebut tidak datang setiap bulan. Agusthinus harus memupuk kesabaran ekstra karena gaji tersebut seringkali dirapel dalam waktu yang lama.

Baca Juga:  Lama Tak Muncul, Ridwan Kamil Viral Gara-Gara Ikut Protes Delay di Bandara

“Ada keluarga juga, jadi Rp600.000 itu juga untuk kebutuhan keluarga tidak cukup. Sedangkan gaji Rp600.000 itu 6 bulan baru dikasih,” ucap Agusthinus dengan nada getir namun penuh penerimaan.

Kalimat itu meluncur dari bibirnya tanpa ada gurat amarah. Ada sebuah ketabahan yang sulit dinalar oleh logika ekonomi modern. Di tengah himpitan itu, ia masih mampu berucap syukur.

“Kita sudah mengabdi, walaupun gaji begitu, kita menerima,” sambungnya.

Bertahan di Antara Kebun dan Papan Tulis

Agusthinus bukan sekadar seorang guru; ia adalah seorang ayah dengan satu istri dan dua orang anak yang menggantungkan hidup padanya. Menyadari bahwa dedikasinya di sekolah tak mampu menutup dapur rumah, Agusthinus harus membagi raga. Sepulang mengajar, ia menanggalkan seragam gurunya dan menggantinya dengan pakaian kerja kasar untuk turun ke kebun.

Di sana, ia mencangkul, menanam, dan merawat tanah. Kebun menjadi penyelamat terakhir saat dompetnya mulai kosong sebelum pertengahan bulan. Pendapatan tambahan dari hasil bumi itulah yang menyambung nyawa keluarganya.

“Berkebun karena untuk kebutuhan hidup ini, gaji tidak mencukupi,” akunya jujur.

Pilihan ini bukan tentang ambisi menjadi kaya, melainkan murni tentang kelangsungan hidup. Ia harus memastikan anak-anaknya tetap bisa makan, meski ayahnya harus bekerja dua kali lebih keras dari rata-rata orang dewasa lainnya.

Perjuangan di Atas Truk: Mengejar Jam Setengah Tujuh Pagi

Setiap pagi adalah perlombaan dengan waktu. Standar kedisiplinan di SD Negeri Batu Esa mengharuskan guru sudah hadir sebelum lonceng berbunyi pada pukul 06.30 WITA. Tanpa kendaraan pribadi dan akses transportasi umum yang memadai, Agusthinus mengandalkan kemurahan hati para sopir truk.

Baca Juga:  Benarkah Ditangkap Polisi? Terjawab Sudah Teka-Teki Pemeran Video Cukur Kumis yang Hebohkan Medsos

Ia berdiri di pinggir jalan, mengangkat tangan, berharap ada bak truk yang kosong untuk ia tumpangi. Debu jalanan dan panas terik menjadi kawan setianya setiap hari.

“Masuknya jam setengah 7 pagi. Numpang truk, lalu keluar nunggu truk lagi di depan numpang ke Batu Esa,” paparnya menggambarkan rutinitas harian yang jauh dari kata layak bagi seorang pendidik.

Pemandangan seorang guru yang bertaruh nyawa menumpang truk material demi mengajar anak bangsa adalah tamparan keras bagi sistem distribusi kesejahteraan guru di Indonesia.

Gelombang Empati dari Ruang Digital

Kisah Agusthinus memicu badai simpati di jagat maya. Lebih dari 28 ribu komentar membanjiri unggahan tentangnya. Netizen seolah diingatkan kembali bahwa di pelosok NTT, masih ada “pahlawan” yang bekerja tanpa pamrih meski dihargai dengan sangat rendah.

Seorang warganet dengan akun @lin*****n mengungkapkan kesedihannya, “Ya Allah sedih banget lihatnya, semangat Bapak Guru!”

Sementara itu, akun @aze*****o melihat sisi spiritual dari pengabdian ini, “Hatinya mulia sekali, sehat dan berkah selalu untuk bapak sekeluarga.”

Ada pula analisis mendalam dari akun @fis****x yang menyentuh esensi profesi guru: “Kalau tujuan bapaknya bekerja, mungkin sudah keluar dan cari kerja lain. Tapi si bapak bukan tentang bekerja, tapi mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para murid.”

Komentar ini merangkum realitas bahwa bagi orang-orang seperti Agusthinus, mengajar bukan lagi soal profesi mencari uang (job), melainkan sebuah panggilan jiwa (calling). Jika ia hanya mengejar materi, mungkin bangku-bangku di SD Negeri Batu Esa sudah lama kosong.

Baca Juga:  Link Video Teh Pucuk 17 Menit vs 1 Menit 50 Detik: Benarkah Ada Dua Versi atau Sekadar Jebakan?

Menanti Perubahan, Bukan Sekadar Viral

Kisah Agusthinus Nitbani adalah satu dari ribuan potret guru honorer di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang nasibnya masih terkatung-katung. Viralitas di media sosial memang memberikan bantuan jangka pendek berupa donasi atau perhatian publik, namun masalah sistemik tentang upah layak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Gaji Rp223.000 per bulan adalah sebuah angka yang menantang akal sehat di tahun 2026. Di balik setiap angka tersebut, ada keringat seorang ayah, ada harapan dua orang anak, dan ada masa depan murid-murid di Kupang Barat yang bergantung pada semangat Agusthinus yang tak pernah padam.

Agusthinus telah membuktikan bahwa kemuliaan seorang guru tidak diukur dari angka di dalam amplop, melainkan dari seberapa jauh ia bersedia berjalan—atau menumpang truk—demi mencerdaskan generasi penerus bangsa. Namun pertanyaannya tetap sama: sampai kapan pengabdian tulus ini dibiarkan berjalan tanpa penghargaan yang manusiawi?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Agusthinus Nitbani berita viral Gaji Guru Rendah Guru Honorer NTT Kupang Barat SD Negeri Batu Esa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Oknum Ibu Persit di Jayapura Viral, Diduga Terlibat Hubungan Gelap dengan 13 Prajurit

Babak Baru TPPO di Sikka: Dua Pengelola Klub Malam Resmi Jadi Tersangka Penyekapan 12 Warga Jabar

5 Fakta Kasus Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau: Dari Motif Asmara hingga Aksi Terencana

‎Jangan Ketinggalan! Jadwal Pencairan THR Pensiunan 2026 dan Komponen Lengkap

‎Tragedi Longsor Pasir Kuning: 10 Korban Dimakamkan Massal, Identitas Masih Belum Diketahui

Jabar Oleng? Dedi Mulyadi Nekat Ngutang Rp2 Triliun ke Bank Demi Proyek Ambisius

Terpopuler
  • Gaji dan THR Pensiunan Cair Tepat Waktu, Ini Jadwal Resmi Taspen 2026
  • Viral Besar! Link Teh Pucuk 17 Menit No Sensor Diburu Warganet, Benarkah Ada di Telegram?
  • Viral Tanpa Sensor? Isu Video Teh Pucuk 17 Menit Terbongkar
  • Link Video Ukhti Mukena Pink Guncang TikTok: Benarkah Ada Versi Tanpa Sensor?
  • Viral Panas! Link Video Teh Pucuk 17 Menit Bisa Curi Data Pribadi, Waspada Phishing!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.