bukamata.id – Menjelang kematian, banyak orang bertanya-tanya: manakah yang lebih utama dilakukan, berdoa atau berdzikir? Pertanyaan ini tak hanya datang dari kalangan awam, tetapi juga dari mereka yang rajin beribadah. Ternyata, jawabannya memiliki dimensi spiritual yang dalam.
Ulama terkemuka asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, memberikan penjelasan menyentuh hati mengenai hal ini. Dalam sebuah ceramah yang diunggah di kanal YouTube @Channel_Nasehat, Gus Baha menyampaikan bahwa saat menghadapi sakaratul maut, Nabi Muhammad SAW justru menganjurkan untuk menyebut nama Allah, bukan memanjatkan doa.
“Orang kalau mau meninggal itu sama Nabi hanya disuruh nyebut ‘Allah, Allah’. Nabi tidak menyuruh berdoa karena berdoa itu bagi orang kebanyakan,” ujar Gus Baha, dikutip Sabtu (12/4/2025).
Baca Juga: Meski Ahli Falak, Gus Baha Pilih Ikut Pemerintah dalam Penentuan Awal Ramadhan
Menurutnya, doa sering kali disertai harapan akan terkabul atau tidak, yang bisa menimbulkan kegelisahan batin. Di saat-saat terakhir, hati harus berada dalam kondisi pasrah dan damai. Sebaliknya, menyebut nama Allah tanpa tuntutan duniawi adalah bentuk kepasrahan yang paling tulus.
“Kalau anda berdoa, pasti hati anda akan bertanya, doaku mujarab atau tidak? Doa saya makbul apa tidak?” terang Gus Baha.
Ia menegaskan, dzikir adalah bentuk kedekatan murni antara manusia dan Tuhannya. Dengan terus melafalkan “Allah, Allah” secara perlahan dan penuh kesadaran, seseorang akan merasakan ketenangan yang sejati.
“Sudah, sampai kamu mati bilang saja Allah, Allah, Allah,” ucapnya dengan nada lembut namun bermakna dalam.
Tak hanya menyebut nama, Gus Baha juga menganjurkan untuk mengenali dan mengingat sifat-sifat Allah saat berdzikir. Ini akan memperkuat rasa cinta, pengharapan, dan pasrah dalam diri seseorang.
Baca Juga: Gus Baha Jelaskan Perbedaan NU dan Muhammadiyah soal Penentuan Awal Ramadhan
“Terus nyifati Allah. Kamu ingat Allah dengan segala sifat-Nya. Siapa Dia? Rahman, Rahim. Siapa Dia? Khairul ghafirin. Siapa Dia? Arhamurrahimin,” jelasnya.
Menurut Gus Baha, dzikir saat sakaratul maut bukan sekadar ritual, melainkan bentuk ibadah yang paling dalam dan personal. Ini adalah pengakuan total terhadap kemahakuasaan dan kasih sayang Allah yang tak terbatas.
Meskipun doa tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan seorang Muslim, saat menghadapi ajal, dzikir menjadi lebih utama karena mengandung ketulusan yang tak bergantung pada harapan duniawi.
Kesimpulannya, menjelang kematian, menyebut nama Allah dengan penuh kesadaran dan penghayatan adalah cara paling indah untuk berpulang. Dzikir bukan hanya ucapan, tapi juga jalan kembali menuju Sang Pencipta, dengan hati yang pasrah, damai, dan penuh cinta.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











