Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi

Jumat, 30 Oktober 2026 10:00 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Lagi! Hari Ini Dibanderol Rp 2.546.000 per Gram

Jumat, 30 Oktober 2026 09:50 WIB
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar

Jumat, 30 Oktober 2026 06:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi
  • Harga Emas Antam Anjlok Lagi! Hari Ini Dibanderol Rp 2.546.000 per Gram
  • Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar
  • Dari Murah hingga Mewah, Ini Daftar Steak Enak di Bandung Pilihan Warganet
  • Cair Rp600 Ribu! Begini Cara Cek dan Ambil BPNT Oktober-Desember 2026
  • Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa
  • Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo
  • Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 30 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Menkeu Purbaya Kaget Tarif Cukai Rokok Tembus 57 Persen: Tinggi Amat, Firaun Lu!

By Aga GustianaJumat, 19 September 2025 19:54 WIB2 Mins Read
Petugas razia rokok ilegal di Cimahi. (Foto: cimahikota.go.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku terkejut saat mengetahui tingginya tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang berlaku saat ini. Rasa kaget itu muncul setelah ia menanyakan perkembangan tarif dalam beberapa tahun terakhir kepada jajarannya.

“Saya tanya, kan, cukai rokok gimana? Sekarang berapa rata-rata? 57%, wah tinggi amat, Firaun lu,” ujar Purbaya, dikutip Jumat (19/9/2025).

Menurutnya, kenaikan tarif yang cukup besar justru menekan penerimaan negara. Ia mencontohkan, pada saat tarif lebih rendah, pendapatan negara dari sektor tersebut justru lebih tinggi.

“Terus, kalau turun gimana? Ini bukan saya mau turunin, ya, cuma diskusi. Kalau turun gimana? Kalau turun makin banyak income-nya. Kenapa dinaikin kalau gitu?” ungkapnya.

Baca Juga:  Makan Bergizi Gratis Dipantau Ketat, Kemkeu Tak Segan Alihkan Dana

Meski begitu, ia memahami bahwa kenaikan tarif CHT bukan semata-mata untuk menambah pemasukan negara. Kebijakan tersebut, jelas Purbaya, lebih ditujukan untuk menekan tingkat konsumsi rokok.

“Rupanya, kebijakan itu bukan hanya income saja di belakangnya. Ada policy memang untuk mengecilkan konsumsi rokok. Jadi, kecil lah, otomatis industri-nya kecil, kan? Tenaga kerja di sana juga kecil. Oke, bagus. Ada WHO di belakangnya,” tegasnya.

Namun, ia menilai ada sisi yang belum diperhatikan dalam perumusan kebijakan cukai, yakni nasib para pekerja di industri rokok. Menurutnya, kebijakan pengendalian konsumsi harus diiringi dengan solusi untuk tenaga kerja yang terdampak.

Baca Juga:  Debat Panas! Dedi Mulyadi Bentrok dengan Purbaya Soal Uang Daerah Mengendap di Bank

“Apakah kita sudah buat program untuk memitigasi tenaga kerja yang menjadi nganggur? Programnya apa dari pemerintah? Enggak ada. Loh kok enak? Kenapa buat kebijakan seperti itu? Itu diskusinya di sana,” jelas Purbaya.

Ia menambahkan, selama belum ada program yang mampu menyerap tenaga kerja terdampak, maka industri rokok tidak boleh dimatikan begitu saja.

“Kalau gitu, nanti kita lihat. Selama kita enggak bisa punya program yang bisa menyerap tenaga kerja yang nganggur, industri itu enggak boleh dibunuh, itu kan hanya menimbulkan orang susah aja, tapi memang harus dibatasin yang ngerokok itu,” ucapnya.

Baca Juga:  Bongkar Alasan Dikick dari Kemenkeu! Aksi 'Koboy' Purbaya Berakhir di Kolam Pancing, Siap Kejar Pilgub Jabar?

Sebagaimana diketahui, tarif cukai rokok memang terus naik dalam beberapa tahun terakhir, meski sempat diberlakukan kebijakan multiyears pada 2023–2024 dan tidak ada kenaikan pada 2025.

Data Ditjen Bea Cukai menunjukkan, pada 2022 tarif naik 12% dengan penerimaan mencapai Rp218,3 triliun dari produksi 323,9 miliar batang. Setahun kemudian, tarif kembali naik 10%, namun produksi turun menjadi 318,1 miliar batang sehingga penerimaan ikut menurun ke Rp213,5 triliun.

Adapun pada 2024, tarif tetap naik 10% dengan produksi turun sedikit ke 317,4 miliar batang. Meski begitu, penerimaan negara justru meningkat menjadi Rp216,9 triliun.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Purbaya Yudhi Sadewa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cair Rp600 Ribu! Begini Cara Cek dan Ambil BPNT Oktober-Desember 2026

Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo

Bongkar Rekam Jejak Shalima Hakim! Putri Wanda Hamidah yang Nekat Lanjutkan Perjuangan 98

Miris! Pasien Kanker di Cililin Ditandu Lebih dari Sejam karena Ambulans Tak Bisa Masuk

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.